Dari Kesaksian Adnan Ganto:

Kain Kafan dan Lantunan Yasin saat Benny Moerdani Wafat

Oleh: Petrik Matanasi - 11 Agustus 2017
Dibaca Normal 3 menit
Adnan Ganto, sahabat Benny, bersaksi bahwa sang jenderal berwasiat agar dimandikan, dikafani, dan dibacakan Yasin saat meninggal.
tirto.id - Peristiwa Tanjung Priok September 1984 lekat dengan nama Leonardus Benjamin Moerdani alias Benny Moerdani. Orang-orang Islam jadi korban penembakan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) dalam peristiwa berdarah yang makin terlupakan itu.

“Kami tahu bahwa beberapa saat setelah penembakan, Benny bersama Try Sutrisno—Pangdam Jakarta—sudah muncul di Tanjung Priuk memberi ucapan selamat kepada komandan dan pasukan yang membantai orang-orang Islam di sana,” kata seorang aktivis Islam kepada Salim Said seperti tercatat dalam buku Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto (2016).

Sebagai panglima ABRI dengan latar-belakang intelijen pula, Benny yang dituding sebagai pihak yang bertanggung jawab atas aksi itu, lengkap dengan anggapan bahwa Benny adalah anti-Islam.

Tak lupa, Salim Said juga mencatat pengakuan Letnan Jenderal Marinir Nono Sampono, yang ketika ketika Benny jadi Panglima ABRI menjadi ajudannya. “Pak Benny memang tidak memarahi para bawahannya yang menembaki orang-orang Islam itu, tapi beliau mengingatkan, yang terbunuh adalah saudara-saudara mereka sendiri,” aku Nono seperti dikutip Salim Said. Benny ke sana juga karena perintah Presiden Soeharto untuk “menyelamatkan karir Mayor Jenderal Try Sutrisno.”

Tanjung Priok adalah wilayah teritorial Try Sutrisno selaku Panglima Kodam Jakarta Raya.

“Kok saya yang dituduh Anti-Islam. Soeharto itu yang anti-Islam,” kata Benny Moerdani setelah ditanya Salim Said.

Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dalam tulisannya yang menjadi bagian buku LB Moerdani: Langkah Perjuangan (2005) menyebut: “Dia [Benny] memegang pendirian bahwa harus ada perbedaan yang tegas antara mana yang menjadi tanggungjawab negara dan mana milik agama itu sendiri.”


Baca juga:


Soal Soeharto yang dianggap anti-Islam oleh Benny, Salim Said mencatat: “Saya tahu pada awal Orde Baru, Soeharto memang menunjukkan sikap alergi pada Islam. Saya sendiri pernah menyaksikan Soeharto melotot kepada seorang santri wanita yang menyarankan agar demonstrasi dukungan kepada ABRI yang berlangsung di halaman Kostrad pada hari-hari pertama pasca Gestapu itu ditutup dengan doa.”

Benny terlahir dari pasangan berbeda agama. Menurut Julius Pour dalam Benny Moerdani: Profil Prajurit Negarawan (1995), ayah Benny yang bernama Moerdani Sosrodirjo adalah seorang pegawai jawatan kereta api kolonial. Dia muslim. Sementara istrinya, guru TK bernama Jeanne Roech—yang berdarah setengah Jerman —beragama Katolik. Kesepuluh anak dari perkawinan mereka semua ikut ajaran Katolik.

Sebuah tulisan di buku L.B. Moerdani, 1932-2004, menyebut kalau Benny "100 persen Katolik", meski ke-Katolik-an itu tak diekspresikan secara gamblang dalam kehidupan sehari-hari. Dalam memoarnya, Menyibak Tabir Orde Baru: Memoar Politik Indonesia 1965-1998 (2014), Jusuf Wanandi bercerita bagaimana Fikri Jufri bertanya pada Benny, “Kenapa Anda tidak mau masuk Islam supaya kami bisa memilih Anda sebagai Presiden Republik ini?”

Semua yang hadir terdiam. Benny menatap tajam Fikri dan bilang: “Apa kamu pikir saya semurah itu?” dengan nada marah. “Meninggalkan keyakinan saya hanya untuk mendapat suatu jabatan? Never!”


Baca juga:


Meski dicap anti-Islam, Benny punya banyak kawan dekat beragama Islam. Adnan Ganto, yang tiga dekade malang melintang dan sukses berkarier di bank asing, adalah salah satunya. Dengan latar belakangnya dunia perbankan, Adnan menjadi penasihat ekonomi Benny yang saat itu menjabat Menteri Pertahanan. Namun, ada harga yang mesti dibayar: kedekatannya dengan Benny membuat Adnan dianggap sudah jadi Katolik oleh pemuka kelompok Islam.

Padahal, “kali pertama Adnan naik haji, justru Benny yang memberi fasilitas Ongkos Naik Haji (ONH) Plus. Adnan naik haji dua kali. Haji keduanya, dia berangkat bersama Megawati Soekarnoputri saat jadi Presiden dan Laksamana Widodo AS yang saat itu jadi Panglima TNI, tapi yang paling mengesankannya adalah haji pertamanya yang diberangkatkan Benny itu,” tulis Nezar Patria dan Rusdi Mathari dalam Keputusan Sulit Adnan Ganto (Penerbit Circa, 2017).

Benny sendiri punya leluhur beragama Islam. Suatu kali, ketika Try Sutrisno masih menjadi Panglima KODAM Jakarta Raya, ia diajak Benny sowan ke Bima, Nusa Tenggara Barat. Disebutkan dalam buku Keputusan Sulit Adnan Ganto itu bahwa Try Sutrisno diajak Benny untuk berziarah ke makam leluhur-leluhurnya. Sambil menunjuk nisan-nisan itu, ia berkata, “Try, lihat, kamu baca. Ini nenek moyang saya. Orang Islam semua, kan? Pangeran semua.”

Adnan, seperti diceritakan dalam buku Keputusan Sulit Adnan Ganto, juga pernah diajak ke makam oleh Benny. Bukan makam leluhur Benny di Bima, melainkan makam orangtua Benny di Solo pada 1980an. Di situlah Benny memberi wasiat penting kepada Adnan.

“Nan, saya kasih tahu kamu, ya, siapa tahu kamu lihat saya pada saat saya meninggal. Tolong kamu atur, supaya saya dimandikan secara Islam. Dikafani.”

Kala itu, Adnan masih tinggal di Singapura. Sebulan kemudian, Adnan mengkonfirmasi lagi apa yang dikatakan Benny. Tak lupa Adnan minta izin pada Benny untuk menyampaikan wasiat Benny itu juga kepada Hartini Moerdani, istri Benny. Benny memperbolehkannya.

“Kalau saya ngomong pas Bapak meninggal, enggak ada saksinya,” kata Adnan. Dan Benny menjawab, “Iya kamu ngomonglah.”

Adnan pun menyampaikan wasiat Benny itu kepada Hartini sebulan kemudian. Hartini tak banyak berkomentar dan berkata, “Terserah Benny, lah.”

Adnan lega. Benny bahkan menambahkan: “Kalau saya dikafani secara Islam, kamu baca [surat] Yasin, kalau Tina ada, dia baca syahadat 25 kali.” Tina yang dimaksud Benny adalah istri Adnan, Agustina Cholida Soetomo Soemowardoyo.

Infografik Leonardus Benjamin Moerdani


Ketika ajal akan menjemput Benny di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD), Adnan sedang berada di New York. Ria, putri semata wayang Benny dan Hartini, menelpon Adnan. “Papa dalam keadaan kritis, Om Adnan.” Adnan pun ke Jakarta.

“Saya datang ke Rumah Sakit RSPAD pukul 20.00 dan terus menunggu pak Benny sampai meninggal dan membacakan syahadat sampai hembusan nafas terakhir,” aku Adnan dalam biografinya. Beberapa jam sebelum Benny tiada, pada 29 Agustus 2004 itu, Try Sutrisno, juga hadir. Di kamar Benny, Try melihat Adnan dan Tina membacakan Yasin dan syahadat.

Try pun bertanya kepada Hartini. “Bu Benny, ini Tina baca Yasin boleh?” tanya Try. "Boleh," jawab Hartini. Kepada istri Adnan Ganto, Try pun berkata, “Tina, kamu terus baca, ya.”

Laksamana Widodo AS juga datang ke rumah duka. Begitu juga pastor yang hendak mengurus jenazah Benny. Sang pastor, seperti ditulis Nezar Patria dan Rusdi Mathari, kaget melihat Benny dikafani.

"Ini amanat,” Hartini berusaha menjelaskan.

Sang pastor bereaksi, “Oh ya?? dikafani?”

“Dikafani dan dimandikan secara Islam,” balas Hartini.

Pastor bertanya lagi, “Bukan pakai celana dan jas, ya?”

Hartini tak menjawab.

Selain pastor dan Hartini, di ruangan itu ada Adnan, Tina, Ria, Widodo, dan Robby Kethek Sumampow. Widodo pun ikut menjelaskan, “Pastor, ini permintaan beliau.”

Pastor bergeming.

Hartini pasrah, lalu ia berkata kepada Adnan: “Adnan, ya, sudahlah. Yang penting kita sudah mandikan secara Islam.”

Kafan pun dilepaskan dari tubuh Benny dan ia dikenakan pakaian lengkap dinas militer. Jenazahnya pun kemudian dimasukkan ke dalam peti. Benny akhirnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, berdasarkan agama di KTP-nya: Katolik.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Petrik Matanasi
Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Maulida Sri Handayani