Jumlah K-popers atau penggemar "hallyu" industri hiburan Korea Selatan di dunia diperkirakan meningkat dan sampai akhir 2018 telah mencapai 90 juta orang. Dilaporkan juga, analisis menunjukkan, lonjakan jumlah penggemar tersebut sebagian besar berkat meningkatnya popularitas boy band Korea BTS.

Hal ini berdasarkan laporan Korea Foundation, satu yayasan yang berafiliasi dengan pemerintah Korea Selatan, pada Kamis (10/1/2019) waktu setempat. Korea Foundation melaporkan terdapat 1.843 klub penggemar hallyu di 113 negara, di luar Korea Selatan, per Desember 2018.

Dikutip kantor berita Yonhap, klub penggemar hallyu secara global beranggotakan 89,19 juta orang, meningkat 22 persen dibandingkan 2017 di mana jumlah penggemar berjumlah 73,12 juta.

Berdasarkan benua, Asia dan Oceania memiliki 70,59 juta anggota di 457 klub penggemar, diikuti oleh Amerika Utara dan Selatan (11,8 juta anggota di 712 klub), Eropa (6,57 juta anggota di 534 klub), dan Afrika dan Timur Tengah (230.000 anggota di 140 klub).

Menurut Korea Foundation, yang dianggap sebagai klub penggemar hallyu meliputi organisasi pencinta penyanyi, aktor, budaya dan makanan, klub taekwondo dan komunitas budaya Korea di kampus.


Korea Foundation juga menyebut, pada periode 2016-2017, ada penambahan 14 juta penggemar hallyu global. Mempertimbangkan kecepatan ini, yayasan itu memprediksi jumlah penggemar budaya Korea akan mencapai 100 juta pada tahun 2020.

BTS berada di tempat pertama di chart album Billboard 200 tahun lalu dan menjadi grup Korea pertama yang mendapatkan nominasi Grammy, sehingga berkontribusi meningkatkan minat orang Amerika terhadap musik dan budaya pop Korea.

Billboard baru saja merilis daftar World Album tahun 2019, Rabu (9/1/2019). Berdasarkan data yang dirilis pada posisi pertama, Idol Group ternama BTS masih tetap bertahan menguasai tangga lagu dunia ini.

Di Jepang, jumlah penggemar hallyu naik tiga kali lipat melebihi 300.000, sementara pertumbuhan yang kuat juga masih berlangsung di bagian lain Asia. Aktivitas klub penggemar hallyu bertahan di Eropa dan Amerika Latin, sementara jumlah penggemar hallyu tumbuh terus di Afrika dan Timur Tengah.

Yayasan itu mengusulkan untuk membuat kebijakan yang lebih ditujukan untuk penggemar perempuan, karena mereka adalah konsumen utama kosmetik, pariwisata dan bidang lainnya.