Sejarah Indonesia

Joesoef Ronodipoero: Hampir Mati Gara-gara Menyiarkan Proklamasi

Oleh: Iswara N Raditya - 27 Januari 2018
Dibaca Normal 4 menit
Moehammad Joesoef Ronodipoero mengumumkan kemerdekaan RI ke luar negeri melalui radio pada 17 Agustus 1945. Ia juga turut mendirikan RRI.
tirto.id - Jakarta, hari Jumat tanggal 17 Agustus 1945. Pada pagi menjelang siang, Joesoef Ronodipoero sedang berada di dalam kantornya. Ia dan para penyiar Hoso Kyoku lain dilarang meninggalkan gedung stasiun radio milik orang Jepang itu. Joesoef sama sekali tidak tahu apa yang sedang terjadi di luar sana.

Hingga kemudian muncul Syahruddin, yang dikenal Joesoef sebagai sesama jurnalis radio. Bagaimana ia bisa masuk ke dalam gedung yang dijaga ketat tentara Dai Nippon, Joesoef tidak mengerti. Yang jelas, Syahruddin datang untuk menyerahkan sepucuk kertas dari Adam Malik, pemimpin gerakan pemuda di Jakarta, kepada dirinya.

Ternyata, surat itu berisi coretan proklamasi yang baru saja dibacakan Sukarno-Hatta atas nama rakyat Indonesia di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta. Dengan kata lain, Indonesia sudah merdeka. Joesoef segera paham maksud kedatangan Syahruddin. Ia harus segera menyiarkan kabar tersebut lewat radio.


Dan itulah yang terjadi. Kendati Joesoef lalu disiksa tentara Jepang, ia berhasil mengabarkan kepada dunia internasional bahwa Indonesia sudah merdeka. Republik baru telah lahir dan akan merintis sebagai negara yang berdaulat.

Penyiar Radio Dai Nippon

Joesoef Ronodipoero (ejaan baru: Yusuf Ronodipuro) lahir di Salatiga, Jawa Tengah, pada 30 September 1919. Sejak mula, ia sudah tertarik berkiprah di ranah jurnalistik, khususnya di bidang siaran radio. Saat itu, radio masih menjadi media informasi yang paling diandalkan. Ia memperoleh kesempatan tersebut setelah era kolonial Hindia Belanda berakhir dan digantikan pemerintahan militer Jepang sejak 1942.

Dalam buku Sedjarah Radio di Indonesia (1953) terbitan Kementerian Penerangan RI disebutkan, Joesoef sempat bekerja sebagai sales kendaraan pada akhir pemerintahan Hindia Belanda. Di awal pendudukan Jepang, ia bergabung dengan Keimin Bunka Sidhoso atau Pusat Kebudayaan (hlm. 263).

Baru pada 1943, Joesoef diterima sebagai wartawan Hoso Kyoku, radio militer Jepang yang tidak dimiliki secara resmi oleh pemerintah Dai Nippon. Stasiun radio ini dimiliki Tomo Bachi, seorang perwira balatentara Jepang. Bachtiar Loebis, kakak kandung sastrawan dan wartawan nasional Mochtar Loebis, juga menjadi penyiar di radio itu.


Adapun stasiun radio resmi milik pemerintah Jepang di Indonesia bernaung dalam jaringan Kantor Berita Domei. Nah, Syahruddin, orang yang menyambangi Joesoef pada 17 Agustus 1945 itu, bekerja di kantor berita Jepang tersebut.

Joesoef Ronodipoero, juga Bachtiar Loebis, menjadi penyiar Hoso Kyoku hingga Jepang kalah dalam Perang Asia Timur Raya pada 1945 dan harus hengkang dari Indonesia. Nantinya, Joesoef bersama Bachtiar bersama-sama mendirikan Radio Republik Indonesia (RRI).

Nyaris Tewas Ditebas Samurai

Syahruddin sebenarnya tidak sendiri saat menuju kantor Hoso Kyoku untuk menemui Joesoef Ronodipoero dan Bachtiar Loebis pada 17 Agustus 1945 itu. Ia datang bersama tokoh pemuda Soekarni Kartodiwirjo dan Shigetada Nishijima, ajudan Laksamana Muda Maeda Tadashi. Nishijima dan Maeda adalah orang Jepang yang mendukung kemerdekaan Indonesia.

Yang bertugas menemui Joesoef adalah Syahruddin, sementara Soekarni dan Nishijima berada di sekitar gedung untuk berjaga-jaga sekaligus mengamati situasi. Penjagaan yang dilakukan Kempetai (polisi militer) memang sangat ketat.


Joesoef sendiri tidak bisa langsung menyiarkan teks proklamasi yang diterimanya dari Syahruddin karena sangat riskan baginya jika ketahuan. Ia baru bisa mengambil kesempatan pada pukul 19.00. Itu pun bukan di ruangan yang biasa digunakan untuk siaran, melainkan di salah satu studio yang sudah tidak terpakai.

Kebetulan, studio yang dimaksud dulunya dipakai untuk menyiarkan berita-berita luar negeri. Joesoef, Bachtiar dan sejumlah pemuda lainnya berhasil menyelinap masuk. Apesnya, ruangan itu tidak tersambung lagi dengan pemancar. Joesoef mengambil tindakan cepat dengan menyambungkan pemancar siaran dari studio lain.

Dan pada malam itu, suara Joesoef menggema. Ia mengabarkan kepada dunia bahwa Indonesia telah merdeka. Ia juga membacakan teks proklamasi dalam bahasa Inggris sehingga radio-radio dari negara lain seperti Singapura, Inggris, hingga Amerika, bisa meneruskan siaran itu.

Orang-orang Jepang akhirnya tahu kelakuan Joesoef. Pada pukul 21.00, ia dan Bachtiar diinterogasi dan dihajar habis-habisan oleh polisi Dai Nippon. Sekujur tubuh mereka babak belur dan berdarah-darah, hingga kaki Joesoef pincang untuk selamanya akibat siksaan.


Bahkan, dua pemuda Indonesia ini nyaris mati saat seorang Kempetai mencabut pedangnya. Beruntung, seperti yang tertulis dalam Lintasan Perjalanan Kepolisian RI Sejak Proklamasi-1950 (1985) terbitan Polri, beberapa detik sebelum samurai mendarat di leher Joesoef dan Bachtiar, datang seorang perwira Jepang yang mengenal keduanya dan memerintahkan eksekusi itu dihentikan (hlm. 10).

Merekam Ulang Proklamasi

Nyaris mati ditebas samurai Jepang tidak lantas menyurutkan nyali Joesoef Ronodipoero untuk terus berjuang melalui apapun yang bisa dilakukan. Salah satunya bergabung dengan barisan pemuda “Menteng 31” di Jakarta. Di organisasi itu, Joesoef punya andil khusus yang sangat berguna.

Dibantu Abdulrahman Saleh, dokter yang merawatnya setelah disiksa Jepang, Joesoef berinisiatif merakit alat pemancar dari barang-barang bekas. Ia pun berhasil. Terciptalah radio pertama milik orang Indonesia, meskipun tidak resmi, berkat kreativitas Joesoef. Hasil rakitan Joesoef itu dinamakan Radio Suara Indonesia Merdeka atau The Voice of Free Indonesia.


Pada 25 Agustus 1945, untuk pertama kalinya, pidato Sukarno sebagai Presiden RI disiarkan dari radio. Menurut Winarto dalam M. Yusuf Ronodipuro Bapak RRI (2005), pidato tersebut digemakan melalui Radio Suara Merdeka ciptaan Joesoef. Wakil Presiden RI Mohammad Hatta juga melakukan hal serupa pada 29 Agustus 1945 (hlm. 26).

Selain itu, rekaman pembacaan teks proklamasi yang selama ini diputar sebenarnya bukan suara Sukarno pada 17 Agustus 1945. Dalam buku Konflik di Balik Proklamasi: BPUPKI, PPKI, dan Kemerdekaan (2010) karya St. Sularso disebutkan, pada akhir 1951 Joesoef meminta Sukarno untuk membaca kembali teks proklamasi dan merekamnya (hlm. 60).

Bung Karno sempat marah dan menolak mentah-mentah permintaan Joesoef itu, bahkan sampai berkali-kali. Bagi sang proklamator, proklamasi hanya terjadi sekali dan tidak bisa diulang.


Joesoef dengan sabar terus membujuk Bung Karno dengan mengatakan bahwa hal ini sangat penting bagi rakyat Indonesia dan generasi selanjutnya, sekaligus menjadi bukti bahwa proklamasi kemerdekaan RI memang benar-benar pernah diucapkan. Akhirnya, sang presiden pun luluh.

Sekali di Udara Tetap di Udara

Setelah mendirikan Radio Suara Indonesia Merdeka, perjuangan Joesoef Ronodipoero berlanjut di masa Revolusi itu. Apalagi Belanda datang kembali dengan membonceng pasukan Sekutu. Perlawanan rakyat pun berkobar demi mempertahankan martabat dan kedaulatan RI.

Joesoef ikut berjuang dengan keahliannya. Pada 10 September 1945, atas inisiatifnya, berkumpullah para pemimpin radio dari berbagai daerah. Menurut Teguh Esha dalam Ismail Marzuki: Musik, Tanah Air, dan Cinta (2005), mereka berkumpul untuk membahas ide didirikannya stasiun radio nasional guna menyiarkan semangat perjuangan (hlm. 63).


Infografik Moehammad Joesoef Ronodipoero


Namun, untuk mewujudkan hal itu, stasiun radio milik pemerintah pendudukan Jepang harus diambil alih. Pihak Jepang menolak karena sesuai perjanjian, semua asetnya di Indonesia wajib diserahkan kepada Sekutu sebagai pemenang perang.

Sehari berselang, terjadi perlawanan merebut stasiun radio Hoso Kyoku dan Kantor Berita Domei. Perlawanan berhasil pada hari itu juga. Sebagaimana diungkap Kustiniyati Mochtar dalam Memoar Pejuang Republik Indonesia Seputar “Zaman Singapura” 1945-1950 (1992), Hoso Kyoku lantas ditetapkan sebagai Radio Republik Indonesia (RRI). Sementara Domei menjadi Kantor Berita Antara yang dipimpin Adam Malik (hlm. 36).

Tanggal 11 September 1949 kemudian ditetapkan sebagai Hari Lahir RRI, dan Joesoef dipercaya untuk memimpinnya. Jargon legendaris “Sekali di Udara Tetap di Udara” yang melecut semangat perjuangan konon dicetuskan Joesoef Ronodipoero.

Saat Belanda melancarkan agresi militer pertama pada 1947, yang berlanjut dengan agresi militer kedua pada 1948, RRI berperan penting dalam menggelorakan perlawanan rakyat untuk mempertahankan kemerdekaan. Belanda berhasil merebut kantor RRI. Joesoef beserta sejumlah tokoh RI lainnya ditangkap dan dipenjara (Hamid Algadri, Suka-Duka Masa Revolusi, 1991: 16).


Akhir 1949, setelah penyerahan kedaulatan dari Belanda kepada Indonesia, Presiden Sukarno menunjuk Joesoef untuk kembali memimpin RRI. Ia juga pernah menjabat sebagai Direktur-Jenderal Penerangan Dalam dan Luar Negeri (di bawah Meneteri Penerangan B.M. Diah pada Kabinet Ampera I dan II) dan kemudian Sekretaris Jenderal Departemen Penerangan (di bawah Menteri Penerangan Budiardjo pada Kabinet Pembangunan I).

Beberapa tahun berselang, Joesoef menjalani peran barunya sebagai Duta Besar. Ia ditempatkan di Argentina, Chili, dan Uruguay, sekaligus pernah menjadi utusan RI untuk PBB hingga 1976. Ia juga turut mendirikan Lembaga Penelitian Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (L3PES) pada 1971.

Setelah itu, Joesoef memutuskan pensiun pada usia 57 dan menikmati masa tua tanpa ikut campur lagi di kancah politik. Joesoef Ronodipoero wafat di Jakarta pada 27 Januari 2008, tepat hari ini sepuluh tahun lalu, dalam usia 88. Jenazahnya dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Iswara N Raditya
Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Ivan Aulia Ahsan