Menuju konten utama

Jika Jurnalis Menjadi Tentara Selama Sepekan Saja

Seorang jurnalis tidak cukup hanya bermodalkan nekat dan keberanian saat melakukan liputan di daerah rawan.

Jika Jurnalis Menjadi Tentara Selama Sepekan Saja
Peserta menentukan arah titik koordinat saat sesi latihan navigasi di kawasan Resimen Latihan dan Pertempuran (Menlatpur) Kostrad Sanggabuana, Karawang, Jawa Barat, Rabu (17/12/2025). ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin/foc.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Pada suatu siang yang hening, belasan jurnalis berjalan menyusuri hutan di Gunung Sanggabuana, Karawang, Jawa Barat. Mereka tergabung ke dalam barisan prajurit TNI yang tengah menggelar operasi penumpasan musuh.

Di bagian depan dan belakang barisan, para prajurit TNI bersenjata laras panjang terus waspada sambil menoleh ke kanan dan kiri dengan awas. Sebab, jalur yang kini mereka lintasi berada di kawasan rawan yang dikuasai oleh pihak musuh.

Belum jauh berjalan, tiba-tiba suara tembakan terdengar dari sisi kanan hutan. Dentuman senjata berhasil memecah keheningan, seraya membuat belasan jurnalis berlarian mencari perlindungan. Mereka tak menyangka, awal perjalanan liputan itu langsung disambut dengan berondongan peluru.

“Dor! Dor! Dor!” begitu bunyi tembakan dari senjata musuh.

Kontak senjata berlangsung sekira tiga menit. Setelah dirasa aman, satu per satu dari para jurnalis dan prajurit TNI keluar dari tempat persembunyian. Teriakan terdengar dari seorang jurnalis yang berada dalam posisi tidur terlentang. Salah satu peluru ternyata menyasar di paha seorang jurnalis yang bernama Nirmala itu.

Dengan sigap, para jurnalis lainnya langsung mengeluarkan kasa dan membalut luka tembak di paha Nirmala, agar darah tidak terus-terusan mengucur. Setelahnya, seorang jurnalis bernama Jeff langsung membopong Nirmala dan membawanya ke tempat aman.

Setelah berjalan menyusuri sungai, lembah, hingga sawah, rombongan akhirnya tiba di sebuah gubuk yang telah disulap menjadi markas sementara bagi pasukan TNI. Puluhan jurnalis dan prajurit TNI dari rombongannya sudah lebih dulu menetap di markas itu. Mereka tidak mampu lagi melanjutkan perjalanan ataupun kembali ke titik awal, karena pasukan musuh sudah mengepung dari berbagai sisi.

Namun, terjebak di tengah hutan bukanlah masalah bagi para prajurit TNI yang sudah terlatih. Dengan berbekal peralatan seadanya, mereka memotong tumbuh-tumbuhan yang aman untuk dimakan. Mulai dari rebung, kangkung, hingga nipah, dihidangkan menjadi santapan siang bagi para jurnalis dan prajurit TNI.

Seperti itulah gambaran situasi saat simulasi materi bertahan hidup atau survival yang menjadi rangkaian kegiatan “Pembekalan Kepada Awak Media tentang Prosedur Kedaruratan di Daerah Rawan 2025” yang digelar oleh Kementerian Pertahanan (Kemhan) dan Pusat Penerangan (Puspen) TNI di Resimen Latihan dan Pertempuran (Menlatpur) Kostrad Sanggabuana, Karawang, Jawa Barat, pada 14 hingga 20 Desember 2025.

Dalam kegiatan itu, Tirto mengirim saya untuk mendapatkan pembekalan berupa pengetahuan, keterampilan, serta pemahaman prosedur kedaruratan yang memadai bagi awak media. Saya mengikuti kegiatan bersama 41 orang awak media lainnya, baik dari media cetak, daring, TV, hingga radio.

Selain materi survival, rangkaian kegiatan tersebut juga diisi dengan sejumlah materi lain yang dirancang untuk memperkuat kesiapan jurnalis ketika bertugas di wilayah berisiko tinggi. Selama tujuh hari berada di kawasan Menlatpur Kostrad Sanggabuana, kami diajak untuk memahami bahwa keselamatan diri adalah hal utama sebelum sebuah berita bisa sampai ke publik.

Materi pertama yang diberikan adalah tentang keselamatan dalam liputan. Para pelatih dari Menlatpur Kostrad Sanggabuana menekankan bahwa jurnalis bukanlah kombatan, tetapi tetap berada di ruang yang sama dengan risiko senjata, bencana, dan situasi darurat lainnya. Pemahaman dasar soal penilaian risiko menjadi kunci.

Para jurnalis diminta mengenali potensi bahaya sejak tahap perencanaan liputan, mulai dari kondisi geografis, cuaca, aktor yang terlibat, hingga kemungkinan eskalasi konflik di lapangan. Kesalahan kecil, seperti salah menempatkan posisi atau terlalu lama berada di titik terbuka, bisa berujung fatal.

Dari ruang kelas, materi kemudian berlanjut ke praktik gerakan perorangan taktis. Di bawah terik matahari, kami dilatih bergerak secara taktis ketika terjadi kontak tembak, berpindah dari satu perlindungan ke perlindungan lain, serta menjaga jarak aman antarindividu.

Pelatih juga mengingatkan kami untuk menerapkan prinsip 5M ketika menghindari tembakan, yakni menghilang, mencari perlindungan, menganalisis situasi, memilih tempat aman untuk meliput, dan mendokumentasikan.

“Sasaran materi ini agar awak media mampu melaksanakan gerakan perorangan taktis, agar meminimalisir terjadinya korban, kerugian atas diri pribadi dan keluarga,” ujar Kapten (Inf) Syaepurrahman, kepada para jurnalis di lokasi, Selasa (16/12/2025) lalu.

Ketegangan kembali meningkat saat memasuki materi respons ketika kontak tembak pertama. Pelatih menjelaskan momen awal kontak senjata adalah fase paling berbahaya. Kepanikan sering kali membuat seseorang berdiri atau berlari tanpa arah. Melalui simulasi berulang, para jurnalis dilatih untuk segera menjatuhkan diri, mencari perlindungan, dan menghindari ruang terbuka.

“Apabila kita mengikuti pasukan TNI, itu ada dua larangan. Yang pertama, larangan bergerak di cakrawala, itu sangat dilarang. Cakrawala itu artinya lapangan atau tempat terbuka. Sehingga musuh dapat meninjau langsung keberadaan kita. Larangan yang kedua, adalah tidak boleh bergerak di kelembahan. Usahakan [bergerak] di punggung gunung,” tutur Syaepurrahman.

Pelatihan Para Jurnalis Bersama TNI

Para jurnalis berjalan menyusuri hutan di Gunung Sanggabuana, Karawang, Jawa Barat. tirto.id/Naufal

Materi navigasi dasar kemudian menjadi pelajaran yang tak kalah penting. Kami diajarkan cara membaca peta topografi, mengenali arah mata angin, serta memanfaatkan teknologi seperti Global Positioning System (GPS). Dalam satu sesi, kami diminta berjalan berkelompok menuju titik tertentu dengan petunjuk terbatas.

Kesalahan membaca arah membuat jarak tempuh menjadi lebih panjang, sekaligus mengajarkan betapa mudahnya tersesat jika tidak memahami dasar-dasar navigasi.

Sepanjang kegiatan, disiplin menjadi hal yang terus ditekankan. Bangun sebelum matahari terbit, berjalan jauh dengan perlengkapan terbatas, hingga mengikuti simulasi di bawah tekanan fisik dan mental menjadi rutinitas harian. Keletihan sengaja diciptakan untuk mensimulasikan kondisi nyata di lapangan, dimana kelelahan sering kali datang bersamaan dengan situasi genting.

Liputan di Daerah Rawan Tak Cuma Modal Nekat

Dampak positif kegiatan pembekalan itu dirasakan langsung oleh Iqbal (25), seorang jurnalis dari salah satu stasiun televisi di Indonesia. Bagi Iqbal, pengalaman selama tujuh hari di Gunung Sanggabuana menjadi salah satu momen paling berkesan dalam perjalanan profesinya. Ia mengaku awalnya datang dengan rasa penasaran, tanpa benar-benar membayangkan seberapa berat materi yang akan dijalani.

“Selama ini emang sering liputan di lapangan, termasuk ke wilayah yang bisa dibilang berisiko lah, kayak misal liputan demo gitu. Tapi jujur aja, banyak hal yang saya lakukan lebih mengandalkan insting,” ujar Iqbal kepada Tirto.

Menurutnya, pembekalan ini membuka mata bahwa insting saja tidak cukup ketika berhadapan dengan situasi berisiko tinggi. Ia menilai materi keselamatan liputan dan respons saat kontak tembak sebagai pelajaran paling krusial. Ia menyadari bahwa selama ini banyak jurnalis, termasuk dirinya, yang masih kerap berdiri di area terbuka demi mendapatkan gambar terbaik.

“Padahal, satu detik aja salah posisi, akibatnya bisa fatal banget. Enggak ada berita seharga nyawa kan?” katanya.

Selain itu, materi navigasi dan survival yang diajarkan juga memberi rasa percaya diri baru bagi Iqbal. Ia kini memahami langkah dasar yang harus dilakukan jika terpisah dari rombongan atau kehilangan akses komunikasi, tanpa harus panik.

Ia berharap pembekalan semacam ini bisa diikuti lebih banyak jurnalis, terutama jurnalis muda. Menurutnya, kegiatan ini bukan untuk menjadikan jurnalis bertindak layaknya militer, melainkan lebih sadar akan batas dan risiko.

“Berita penting, tapi pulang dengan selamat jauh lebih penting. Itu pelajaran paling besar yang saya dapat dari sini,” tutup Iqbal.

Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI, Mayjen TNI (Mar) Freddy Ardianzah, menegaskan bahwa pembekalan ini berangkat dari kesadaran institusional bahwa jurnalis adalah mitra strategis TNI, yang dalam banyak situasi harus bekerja di ruang-ruang dengan risiko tinggi.

Oleh karenanya, jurnalis tidak cukup hanya bermodalkan keberanian saat melakukan liputan di daerah rawan. Perlu adanya pembekalan kesiapan mental dan juga keterampilan khusus yang membantu kerja-kerja jurnalistik saat berada pada situasi terancam bahaya.

“Puspen TNI dan Infohan menyadari bahwa rekan-rekan awak media sebagai mitra kami dalam bekerja membutuhkan kesiapsiagaan mental, kemampuan khusus dan perlindungan keselamatan saat peliputan di daerah rawan,” ujar Freddy kepada Tirto, Senin (22/12/2025).

Pembekalan prosedur kedaruratan awak media di Menlatpur Kostrad

Peserta menyanyikan yel-yel sebelum memulai sesi latihan navigasi di kawasan Resimen Latihan dan Pertempuran (Menlatpur) Kostrad Sanggabuana, Karawang, Jawa Barat, Rabu (17/12/2025). ANTARA FOTO/Sulthony Hasanuddin/foc.

Menurutnya, tugas jurnalistik di wilayah rawan sama sekali bukan pekerjaan mudah. Risiko yang dihadapi awak media sangat beragam, mulai dari potensi bencana alam, konflik sosial, hingga gangguan keamanan yang bisa terjadi sewaktu-waktu.

Ia menekankan bahwa situasi semacam itu menuntut kesiapsiagaan yang matang, bukan hanya dari sisi teknis di lapangan, tetapi juga ketahanan mental. Freddy juga mengingatkan bahwa aspek keselamatan jurnalis memiliki dasar hukum yang kuat.

“Undang-undang menegaskan bahwa keselamatan jurnalis adalah tanggung jawab setiap institusi terkait, termasuk TNI,” katanya.

Melalui pembekalan ini, Freddy berharap para jurnalis memiliki pedoman dan prosedur kedaruratan yang jelas ketika bertugas. Lebih jauh, ia menekankan pentingnya koordinasi antara jurnalis dan aparat di lapangan.

Dengan komunikasi yang baik dan pemahaman prosedur yang sama, jurnalis tetap dapat menjalankan fungsi jurnalistiknya secara optimal tanpa mengabaikan aspek keselamatan.

“Fungsi jurnalistiknya [berjalan] dengan optimal, aman, dan sesuai standar keselamatan yang berlaku saat bertugas di daerah rawan,” tuturnya.

Pelatihan Para Jurnalis Bersama TNI

Para jurnalis berjalan menyusuri hutan di Gunung Sanggabuana, Karawang, Jawa Barat. tirto.id/Naufal

Baca juga artikel terkait TENTARA atau tulisan lainnya dari Naufal Majid

tirto.id - News Plus
Reporter: Naufal Majid
Penulis: Naufal Majid
Editor: Bayu Septianto