tirto.id - Sebelum aktif jadi siswa Sekolah Rakyat, Agus Alfajri (13) sehari-hari rutin mencari rumput. Hamparan rumput ibarat "rumah kedua" bagi remaja asal Solok, Sumatera Barat tersebut. Waktunya lebih banyak habis di pematang sawah dibandingkan ruang belajar.
Fajri melakukannya saban pulang sekolah. Rumput yang ia kumpulkan dipakai untuk pakan ternak miliki keluarga, sisanya dijual untuk mendapat uang tambahan.
Anak terakhir dari enam bersaudara ini hidup dengan keluarga serba terbatas, sehingga ia mesti bekerja untuk menambal penghasilan. Ayahnya adalah seorang petani dengan pendapatan tak menentu, belum cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Bahkann, Fajri sempat terancam putus sekolah di Jorong Koto Baru Tambak.
Fajri tumbuh sebagai bocah yang pantang menyerah. Keterbatasan tak mengurung niatnya untuk tetap meringankan beban orangtua.
“Saya kasihan sama Bapak. Punggungnya kena panas, kadang lebam,” ucap Fajri.
Setiap hari, Fajri bangun pukul 05.00 pagi. Siangnya, setelah sekolah ia pergi ke sawah untuk mencari rumput. Usai mencari rumput, ia bersiap pergi mengaji. Anak itu mengaji setiap Senin hingga Sabtu di surau dekat rumah.
Terkadang, karena sibuk membantu orang tua, Fajri tak bisa fokus belajar. Makan pun tidak selalu teratur.
“Makannya sehari-hari, kadang-kadang sekali, kadang-kadang dua kali. Kadang beras tidak mencukupi untuk makan siang,” kenangnya.
Rutinitas Fajri berubah ketika ia masuk Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 5 Solok. Awalnya, ia kerap merasa sedih karena harus berpisah dari keluarga. “Hari-hari pertama saya sedih terus. Rindu Bapak dan Ibu,” kata Fajri.
Namun, Fajri perlahan beradaptasi dan mulai bersosialisasi dengan teman-teman baru di Sekolah Rakyat. Di sana, ia merasakan lingkungan belajar nyaman, yang sebelumnya tak ia miliki.
“Setelah beberapa hari, saya merasa bahagia. Temannya baik-baik semua. Gurunya baik-baik,” ujarnya.
Di SRMP 5 Solok, Fajri bisa menjaga pola makan, tidur cukup, belajar dengan tenang, dan memperoleh saranan pendidikan lengkap.
“Di sini saya lebih konsentrasi. Makanan teratur, fasilitas lengkap. Pikiran saya tenang,” tambahnya.
Semangat belajarnya pun meningkat. Bahkan, Fajri lansung dipercaya menjadi Ketua OSIS SRMP 5 Solok. Hal ini menjadi prestasi yang tidak pernah ia bayangkan.
“Saya ingin membanggakan orang tua. Ingin cita-cita saya tercapai,” tuturnya.
Bocah itu ingin menjadi tentara. Alasannya, ia ingin melindungi keluarga dan bangsa serta menyejahterakan mereka. Meski begitu, ia mengaku tidak malu dengan kondisi hidupnya sekarang.
“Terima kasih kepada Bapak Prabowo, Kementerian Sosial, dan Kepala Sekolah yang sudah memberi fasilitas kepada saya sampai saya bisa seperti sekarang,” ucapnya.
(INFO KINI)
Penulis: Tim Media Servis
Masuk tirto.id

































