tirto.id - Siang itu toko-toko tutup, trotoar jalan lengang dan hilir mudik calon pembeli tampak jarang. Pamor Cibaduyut sebagai sentra sepatu kulit seolah kian surut. Masih surut. Belum hilang atau tak ada sama sekali, seperti tugu sepatu yang menjadi ikon mereka imbas pembangunan Flyover Kopo.
Para pedagang yang menjajakan sepatu hasil produksi rumahan perajin di sepanjang Jalan Cibaduyut, Kota Bandung kali ini lebih banyak menghitung jumlah pelaris, ketimbang untung. “Dulu mah nanya ke sesama pedagang, ‘udah dapet berapa juta?’ Sekarang mah, ‘udah pelarisan belum?’” kata salah satu pedagang, Nia kepada Tirto di tokonya, Rabu (3/12/2025).
Nia bersama sang suami sudah berdagang sejak awal tahun 1990-an. Menurutnya, Cibaduyut sempat mencapai masa jaya tatkala para wisatawan memiliki anggapan bahwa belum ke Bandung, apabila tidak berbelanja ke Cibaduyut.

Kini situasi sudah berubah. Perempuan berusia 54 tahun itu menceritakan kondisi demikian dirasakan usai pandemi Covid-19 beberapa tahun silam. Dampaknya luar biasa. Setelahnya, keadaan ternyata tidak jauh berbeda. Banyak toko sepatu berguguran, tidak sedikit yang beralih menjadi toko pakaian maupun makanan.
“Kalau misalkan dulu bisa dapat Rp100 juta sebulan. Sekarang paling Rp10 juta, bahkan kurang dari Rp10 juta. Kadang bisa Rp7 juta. Kalau jaman dulu paling kecil Rp50 juta sebulan,” ceritanya getir.
Ia tak menampik apabila persaingan dengan toko sepatu online memperparah keadaan. “Harga di sana, kan, lebih murah. Kami kebanting harganya. Kami harga tidak bisa turun lagi karena pertimbangan bayar kontrakan, listrik, dan lain-lain,” jelas Nia.
Para pedagang pun mau tak mau, kata Nia, ada yang terjun dalam lokapasar secara online itu. Ada juga yang masih bertahan dan mengandalkan kedatangan para wisatawan. Lantaran menurutnya pariwisata masih menjanjikan.
“Alhamdulillah [bisa bertahan] mau bagaimana lagi? Saya mau berdagang apalagi. Setidaknya kami bisa bertahan sejauh ini, terus setiap Sabtu atau Minggu, ada saja kunjungan wisata. Meski tak seberapa,” kata Nia. Selain kondisi daya beli yang menurun, menurutnya, perhatian dari pemerintah seolah tak ada. Sesederhana. Patung sepatu yang semula jadi ikon kawaasan Sentra Sepatu Cibaduyut, hingga saat ini tidak terpasang lagi.
"Awalnya dipasang lagi. Itu kan kena dampak pembangunan fly over, tapi pas sudah jadi, desainnya yang baru banyak ditolak warga. Karena tugu sepatunya juga tidak tinggi, jauh rendah dari fly over," sebutnya.

Sedikit banyaknya pembeli yang berbelanja ke toko sepatu di sepanjang Jalan Cibaduyut, ternyata berpengaruh terhadap perajin lokal. Pantauan Tirto, setiap gang yang berada di kawasan itu dihuni para perajin dengan skala produksi rumahan.
Mereka adalah yang bertahan dari pesanan ke pesanan. Berbeda jauh dengan masa kejayaan Sentra Sepatu Cibaduyut tempo lalu, para perajin hari ini tidak lagi ambil resiko untuk memproduksi dengan jumlah banyak. Mereka bakal bergerak apabila sudah ada calon pembeli.
"Dulu masih bisa nyiapin stok sepatu. Jadi saking percayanya kalau barang pasti laku," ucap seorang perajin, Ijang (55) kepada tirto.id di bengkel perajin sepatu Sampurna Jaya.
Saat ini, kata Ijang, pesanan yang datang tidak lebih dari 50 pasang. Tak hanya pesanan dari para pedagang toko di Cibaduyut, tetapi juga langganan sebelumnya sudah makin berkurang.
"Dari semasa corona sudah kurang. Kurangnya banyak, kalau diceritakan. Pesanan yang biasa ada 300-500 pasang, sekarang mah susah. Segala marema [laris manis] kalau bicara dulu mah," imbuhnya.

Perajin yang sudah menggeluti bidangnya selama puluhan tahun lebih tersebut, mengaku bahwa paling banyak pemesanan pada tahun ini hanya mencapai 120 pasang sepatu kulit. "Ayeuna mah [sekarang] bengkel juga sudah banyak yang tutup," katanya.
Ia menyebutkan, surutnya pembeli juga bukan sekadar dampak dari adanya toko sepatu online, melainkan kondisi daya beli masyarakat yang tidak begitu tinggi. "Buat pemerintah, semoga distabilkan lagi ini kondisi ekonomi. Emang sudah parah," harapnya.
Seperti yang dialami Ijang, kondisi bengkel perajin sepatu di Linda Shoes tidak jauh beda. Namun penerus generasi kedua toko itu, Suhanda mengaku masih bisa bertahan dengan keadaan. Ia masih mampu menjalankan bisnis keluarga yang sudah didirikan sejak tahun 1970-an tersebut.
“Namanya usaha. Selalu ada pasang surutnya. Tapi alhamdulillah rezeki selalu ada, tapi memang sekarang banyak yang sampai bangkrut dan tutup. Kebanyakan memang dari masalah permodalan dan daya saing harga,” ungkap perajin sepatu berusia 52 tahun ini.
Ia mengibaratkan ada perbedaan yang jomplang pada beberapa tahun ke belakang. Sebelum pandemi Covid-19, para perajin sepatu bisa mendapatkan keuntungan senilai lima pasang sepatu saat menjual satu pasang.
“Sekarang bikin satu pasang, beli sebelah pasang sepatu tidak cukup. Misal dulu itu jual harga Rp250 ribu, untung bisa dapet Rp150 ribuan, sekarang cuman dapet untung Rp25 ribu. Sekarang lebih besar persaingannya,” papar Suhanda.

Menurutnya, hal itu juga diperparah dengan daya beli masyarakat yang masih belum begitu kuat. Omset maupun keuntungan bahkan berbeda sampai 70 persen. Ia lantas mengharapkan pemerintah lakukan sesuatu untuk mengubah keadaan.
Mengingat, kata Suhanda, para pemimpin daerah yang baru seperti Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan dan Gubernur Jawa Barat (Jabar), Dedi Mulyadi, belum pernah mendatangi Sentra Sepatu Cibaduyut.
“Tolong pemerintah bantu kaum yang lemah. Pak Walikota, tolong bantu solusi dari keluhan-keluhan kami. Ingin lancar kembali. Minta yang terbaik. Soalnya [kondisi] yang dirasakan sekarang jauh beda,” tandasnya.
Berdasarkan pemberitaan Humas Pemkot Bandung, pada 13 Maret 2023, Sentra Sepatu Cibaduyut sudah ditetapkan sebagai kampung wisata kreatif (KWK). Setelah sebelumnya pemkot menetapkan enam wilayah lain, seperti KWK di Braga, Cigadung, Rajut Binong Jati, Literasi Cinambo, Cigondewa, dan Pasir Kunci.
Wali Kota Bandung periode sebelumnya, Yana Mulyana, menilai penetapan Cibaduyut sebagai KWK lantaran wilayah ini dikenal dengan sentra sepatu kulit dengan kualitas bermutu.
“Tempat ini bisa memproduksi barang yang baik dan menjadi pemicu pertumbuhan ekonomi di sentra Cibaduyut,” mengutip keterangan resmi saat Yana hadir dalam kegiatan Peresmian KWK Sentra Sepatu Cibaduyut, Senin (13/3/2023).
Bersamaan, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung periode tersebut, Arief Syaifudin menyampaikan, pemkot berupaya mewujudkan Kota Bandung yang unggul. Salah satunya dengan bidang ekonomi pariwisata dan seni kreatif.
“Disbudpar berkolaborasi dengan mitra pemerintah dan non pemerintah. Kampung wisata ini termasuk janji Wali Kota Bandung dalam pengembangan 8 kampung wisata,” jelasnya masih berdasarkan sumber serupa.
“Ini sebagai energi positif budaya ekonomi kreatif di Kota Bandung,” jelas Arief.
Kontributor Tirto sempat meminta tanggapan dinas terkait, perihal upaya mereka menumbuhkan kembali denyut ekonomi dan wisata di Cibaduyut. Namun, Sekretaris Disbudpar Kota Bandung, Nuzrul Irwan Irawan, hingga berita ini selesai ditulis belum memberi respons.
Masuk tirto.id





























