Dom Lawson

"Jangan Jadi Jurnalis Musik"

Oleh: Nuran Wibisono - 2 Juli 2019
Dibaca Normal 7 menit
Dom Lawson, penulis musik dari Metal Hammer dan The Guardian berbicara tentang jurnalisme musik, upah, dan kenapa sebaiknya kamu jangan jadi jurnalis musik.
tirto.id - Dom Lawson sudah empat kali datang ke Bandung. "Dan setiap ke sini, aku selalu minum kopinya," kata Dom terkekeh sembari menunjukkan kopi hitam di gelas kertas.

Bisa dibilang Dom terkesima dengan Bandung, kopi, dan kancah musiknya. Dia beberapa kali menulis tentang musik metal di Bandung untuk tempatnya bekerja, Metal Hammer. Di majalah metal terbesar di Inggris ini pula, band metal Bandung, Burgerkill, mendapat penghargaan bergengsi Metal As Fuck di ajang Golden Gods 2013.

Kali ini pria yang juga menulis untuk The Guardian ini datang untuk jadi narasumber di acara Bandung Metal Affair yang diselenggarakan ATAP Class, British Council, dan Museum Kota Bandung. Temanya menarik: Indonesia International Metal Media and Agency Networking. Selain Dom, pembicara lain adalah Luuk Van Gestel dari Doomstar Booking Agent, Kimung dari ATAP Class, dan Samack dari Solidrock.

Di acara itu, Dom banyak berbicara tentang pentingnya merawat jaringan antar metalheads. Selain itu, Dom juga punya ide menarik tentang one stop Indonesian metal website, satu situs khusus yang menulis tentang band-band metal Indonesia. Tentu dalam Bahasa Inggris, agar bisa membantu publik internasional mengenal banyak band metal Indonesia. Ide ini bukannya luput dari kritik, tapi tetap menarik untuk diperbincangkan.

Pada malam harinya, usai menyantap seporsi mie Jambi, Dom banyak berkisah tentang jurnalisme musik dan hidup sebagai seorang jurnalis musik. Pria dengan tindik di hidung bagian kanan ini orang yang hangat dan menyenangkan. Dia banyak tertawa, dan tak segan menertawakan kegetiran pula. Mendengarnya bercerita soal jurnalisme musik, mau tak mau, menghadirkan nostalgia juga romantisasi profesi sebagai jurnalis musik. Ada kepahitan, tapi banyak juga kesenangan di sana.


Bisa diceritakan bagaimana sih dunia jurnalisme musik di Inggris sekarang? Bagaimana kalian menyikapi dunia digital dan sebagainya.


Ada perubahan besar di sini. Tapi perubahan ini ya sudah mulai terasa sejak akhir era 90-an, saat internet muncul. Tapi sekitar 10 tahun terakhir, penjualan majalan di Inggris mulai menurun drastis. Terutama karena dulu pembeli majalah musik adalah anak-anak muda. Sekarang anak-anak muda gak ada yang membaca majalah. Aku punya anak perempuan remaja, dan dia gak baca majalah, tapi dari media sosial.

Kupikir sih memang masih ada pangsa pasar untuk majalah, masih ada yang membeli majalahku (Metal Hammer). Tapi sekarang pembacanya adalah kebanyakan orang berusia lebih tua. Tapi perubahan terbesar di dunia jurnalisme musik, paling tidak yang kualami, adalah ketika dulu aku memulai profesi di dunia ini: dulu orang sering bilang tidak perduli apa yang ditulis oleh para jurnalis musik, tapi sebenarnya mereka peduli.

Dulu, jurnalis musik menjadi jembatan antara pelaku di industri musik dan para penggemar. Dan orang sepertiku, aku mendengarkan ratusan album per minggu —well, kadang-kadang gak sebanyak itu sih, tapi setidaknya aku mencoba dengerin sebanyak mungkin. Aku menulis album-album bagus, sehingga orang yang gak punya waktu mencari album-album bagus, bisa punya panduan.

Namun sekarang, semua orang merasa bisa menjadi jurnalis musik. Kamu tinggal bikin situs, dan mulai menulis. Jadi sebenarnya di hari-hari ini masih banyak produk jurnalisme musik yang bagus, tapi lebih banyak lagi yang kualitasnya buruk, ditulis oleh orang-orang yang gak paham mau nulis apa.

Jadi di satu sisi, ini semacam demokratisasi jurnalisme musik. Tapi kupikir ini juga ada sisi buruknya.

Apa sisi buruknya, menurutmu?

Orang jadi sinis terhadap para ahli —mereka yang paham tentang apa yang mereka omongkan atau tulis. Waktu aku masih kecil, aku biasa baca majalah dan jurnalis-jurnalis favoritku menulis banyak hal tentang musik, dan mereka paham apa yang mereka tulis. Hal kayak gini bisa terlihat dari tulisan-tulisan mereka.

Tapi sekarang banyak orang merasa punya opini saja sudah cukup. Padahal ya gak cukup, mereka harus bisa menulis dengan baik. Kalau kamu tidak bisa menulis dengan baik, tidak punya konsistensi, maka kamu gak akan bisa jadi jurnalis musik.

Sekarang kan banyak kamu temui orang-orang yang nulis, “Wah aku suka band ini, 10/10!”. Tapi ya segitu saja, dan itu gak cukup untuk disebut sebagai kritik musik. Itu gak ada artinya. Itu adalah penggemar. Memang kamu harus suka apa yang kamu tulis, sih. Tapi ya gak cukup hanya itu.

Jadi begitulah, itu perubahan terbesar yang sekarang dirasakan: pekerjaan jurnalis musik tidak sepenting dulu. Sekarang, misalkan, orang tinggal buka Spotify untuk mencari rekomendasi lagu atau album musik. Dan orang-orang sekarang juga tidak terlalu banyak membaca (media cetak). Jadi ya begitu, para jurnalis musik berusaha keras untuk tetap relevan.

Tapi jadi jurnalis tetap terasa punya peran penting. Misalkan ketika aku datang ke Bandung dan menulis tentang scene metal Bandung untuk Metal Hammer, aku bisa melihat dampak tulisanku di sini. Jadi setidaknya aku merasa tulisanku punya nilai.

Memang sekarang pekerjaan jadi jurnalis musik itu berat sih. Aku masih mencintai pekerjaanku, sama seperti dulu. Tapi ya sulit menikmatinya seperti dulu, karena banyak hal yang berubah. Dan orang-orang sudah mengonsumsi musik dengan cara yang berbeda.

Menurutmu, perubahan-perubahan seperti itu lebih banyak baiknya atau buruknya?

Sebenarnya ini bukan soal baik atau buruk, bukan dua-duanya. Tapi perkara perubahan zaman, sih. Aku bisa saja mengeluh tentang banyak hal. Ini soal perkara adaptasi saja. Dan sayangnya, aku mungkin sudah terlalu tua. Aku gak terlalu banyak menghabiskan waktu di media sosial, dan aku masih membaca majalah.

Kurasa, masih banyak penggemar musik garis keras yang masih mau membaca jurnalisme musik yang bagus. Masalahnya adalah mencari cara agar mereka mau membayar untuk produk itu. Itu tantangannya sekarang. Karena sekarang banyak orang bisa mendapatkan banyak hal gratis di internet.


Bentuk jurnalisme musik selalu berubah, kan. Dari cetak ke digital, dari teks ke audio, lalu ke visual. Kamu punya akun YouTube dan sering bikin vlog. Banyak juga jurnalis musik yang bikin podcast. Menurutmu, apa kemampuan menulis itu masih penting bagi jurnalis musik, ketimbang katakanlah, memproduksi video?

Kemampuan lain selain menulis itu mungkin bagian dari jurnalisme musik. Tapi kamu harus menentukan yang mana fokusmu, dan kamu mau jadi seperti apa. Kamu tentu saja bisa jadi apapun, tapi menurutku kamu gak akan bisa jadi jurnalis musik terbaik kalau konsentrasi ke video YouTube. Karena menurutku, orang akan selalu membaca.

Nyaris semua orang bisa membuat video atau podcast di masa sekarang, tapi gak semua orang bisa menjadi penulis yang bagus. Gak semua orang bisa membuat tulisan 4.000-an kata tentang sebuah band. Ya tentu saja orang bisa mencoba, tapi kan ada bedanya tulisan 4.000 kata yang bagus dengan tulisan 4.000 kata yang jelek (tertawa).

Aku banyak membaca tulisan jelek. Gak punya struktur, penulis bingung mau ngomongin apa, lebih banyak trivia. Dan skill menulis itu yang menurutku jadi penting. Tentu, kalau kamu pengen menghasilkan uang di zaman sekarang, kamu harus ada di YouTube, punya podcast, atau gitulah.


Di Inggris, bagaimana nasib media musik alternatif?

Tidak sebanyak zaman dulu, tapi masih lumayan banyak. Dulu banyak zine punk, atau fanzine. Sekarang ya masih ada, tapi banyak juga yang beralih ke situs. Banyak yang masih bikin, tapi ya hanya sebagai hobi, tidak untuk cari duit. Tapi hal itu berharga buat banyak band. Karena publikasi ya tetap bentuk promosi toh. Ditulis di 20 situs bawah tanah, ya itu tetap promosi. Itu bisa membantu.

Tapi ya gitulah, ini masa sulit buat para jurnalis musik.

Kondisi sulit itu juga menerpa para jurnalis musik di Inggris dan Amerika ya?

Yeah. Dulu ada banyak majalah musik. Tapi sekarang industri musik sudah tidak lagi menghasilkan uang seperti dulu, dan orang tidak mau mengambil risiko besar untuk membuat majalah musik baru, karena kemungkinan besar tidak akan laku. Dan yang sudah ada pun, tetap harus berjuang keras.

Zaman dulu, majalah ya saingan dengan majalah. Tapi sekarang sudah harus bersaing dengan media sosial, games, acara televisi, dan lain-lain. Metal Hammer memang masih bertahan. Ia punya karakter kuat sebagai majalah heavy metal dari Britania. Orang tahu apa yang kami tulis. Dan kami sudah berusia 30an tahun.

Kalau orang mau bikin majalah musik, kayaknya harus benar-benar niche. Misal, majalah brutal death metal. Atau kamu harus bikin produk yang benar-benar high quality, mewah. Memang sulit sih. Majalah musik macam Kerrang, Metal Hammer, Classic Rock, mungkin mereka hanya akan bertahan beberapa tahun lagi, 10 tahunan kira-kira? Karena kelak, pada akhirnya semua akan jadi online. Metal Hammer sendiri sekarang sedang ngembangin situsnya.



Mana yang lebih banyak pembacanya? Online atau majalah kalian?


Keunggulan online adalah, bisa menjangkau lebih banyak pembaca. Saat ini, laman Metal Hammer di Facebook punya sekitar 2 juta penggemar. Sedangkan majalah, terjual sekitar 20 ribuan eksemplar. Cukup bagus untuk majalah, tapi ya tidak cukup.


Menurutmu, apa tantangan terbesar bagi jurnalisme musik sekarang?


Tetap relevan. Ya, menjadi tetap relevan itu adalah hal yang paling sukar. Berjalan beriringan dengan teknologi itu relatif mudah, akan ada orang yang dibayar untuk mengurusi teknologi. Perusahaan akan membayar orang untuk itu. Selain tetap relevan, hal sulit lainnya adalah meyakinkan orang-orang bahwa menulis itu masih penting dan punya makna. Menulis tulisan panjang yang enak dibaca, bukan sekadar berita pendek dan cepat. Karena internet menghasilkan itu, tulisan yang selesai dibaca dalam beberapa detik.

Di zaman kejayaan majalah cetak, aku biasa duduk santai di pagi hari, membaca feature lima halaman tentang band metal sembari minum teh. Itu adalah hal yang menyenangkan. Dan masih mungkin mengajarkan kesenangan seperti itu ke anak-anak muda.

Menurutmu itu mungkin?

Sulit, tapi tidak mustahil. Sekarang anak-anak muda mulai membeli piringan hitam lagi. 30 tahun lalu, orang akan bilang itu mustahil, tapi sekarang terjadi toh. Di Britania Raya, penjualan piringan hitam sudah melampaui penjualan CD.

Di Indonesia, salah satu masalah yang terjadi adalah, banyak media musik tidak berjalan dengan berkesinambungan. Mereka kesusahan mendapat pemasukan yang cukup untuk bisa bertahan. Bagaimana dengan media besar di Inggris, mereka juga mengalami masalah yang sama?

Ya. Metal Hammer pernah mengalaminya juga. Kami dinaungi perusahaan bernama Team Rock. Dan mereka bangkrut karena gak paham apa yang mereka kerjakan. Untungnya, perusahaan penerbitan lama yang pernah menaungi Metal Hammer dan Classic Rock membeli kami kembali. Tapi ya mereka tidak menanamkan investasi baru. Jadi mereka menghidupkan kami kembali, membiayai, tapi ya tidak ada modal baru. Jadi kami tidak bisa ekspansi besar-besaran.


Menurutmu, ada gak sih formula untuk bikin majalah musik yang bisa tahan lama?

Jujur, enggak (tertawa). Semua orang sepertinya gak punya formula itu. Kayaknya orang-orang juga belum menemukan solusi terhadap penurunan oplah majalah. Iya, memang industri majalah masih ada. Kalau kamu pergi ke bandara, majalah-majalah gampang dijumpai di rak toko buku bandara. Tapi majalah musik? Gak terlalu.

Majalah musik masih punya performa bagus di Jerman dan beberapa negara Eropa. Tapi, lagi-lagi, sekarang online lebih penting. Ya dunia sudah berubah, cara orang mengonsumsi berita juga sudah berubah.

Yang bisa kamu lakukan adalah bikin konten sebagus mungkin. Dan bikin tulisan sebagus mungkin, sembari berharap para pembaca menyadari tulisanmu itu bagus. Jadi ketika kamu menulis, para pembaca itu akan tahu siapa yang menulis dan menjadi pembaca setiamu.

Cuma itu yang bisa kamu lakukan (tertawa). Dan lagi, kalau mau kenyamanan dan keamanan, jangan jadi jurnalis musik, palingan kamu hanya dapat musik gratis (tertawa).


Melanjutkan idemu soal one stop Indonesian metal website agar musik metal Indonesia diketahui publik internasional, menurutku ide itu malah terlalu besar dan merepotkan. Bagaimana kalau idenya adalah media luar negeri membuka jalan bagi penulis Indonesia untuk mengirim tulisan. Ke Metal Hammer, misalkan?

Semua tergantung seberapa bagus tulisan Bahasa Inggrismu. Ini tentang standar tulisan. Kalau misal Metal Hammer punya orang Indonesia yang bisa menulis Bahasa Inggris dengan baik, dan punya banyak hal menarik untuk ditulis, ya kenapa tidak?

Sayangnya, scene musik metal di Indonesia belum jadi sesuatu yang besar di luar Indonesia atau Asia. Jadi tidak terlalu banyak kesempatan buat menulis metal Indonesia. Tapi kalau scene metal ini akan lebih dikenal di luar internasional, ya maka kesempatannya akan terbuka lebar. Mungkin 10 tahun lagi, Indonesia akan jadi salah satu scene metal terbesar. Dan di saat seperti itu, majalah-majalah musik besar akan menulis tentang Indonesia lebih sering. Mereka akan lebih sering meminta kontributor orang Indonesia untuk menulis, ketimbang mengirimkan penulis dari luar negeri kayak aku, karena ongkosnya ribuan dolar (tertawa).

Sekarang ini, jurnalis musik di tempat kalian masih dapat kiriman CD atau link Spotify sih?

Sebagian besar label sekarang ngasihnya link download. Biasanya aku dapat tumpukan CD dari label, sekarang sudah berkurang sih. Sekarang dua atau tiga CD per minggu. Tapi aku dikirimi 50 link download album-album baru per minggu.



Dan kamu mendengarkan semuanya?

Aku coba. Biasanya aku denger lagu track pertama dulu. Seringkali, setelah 20 detik lagu pertama itu, kita sudah bisa memutuskan akan lanjut mendengarkan atau berhenti saja.

Beberapa tahun lalu, ketika aku bilang ingin jadi jurnalis musik, seseorang bilang: jangan jadi jurnalis musik. Nasihat itu kuabaikan saja. Kamu punya nasihat bagi para anak muda yang ingin jadi jurnalis musik?

Nah, itu yang ingin kubilang: jangan jadi jurnalis musik (tertawa). Tapi tergantung sih. Kalau kamu ingin cari uang yang banyak, hidup yang nyaman, keamanan dalam pekerjaan, maka jangan jadi jurnalis musik. Jadi jurnalis musik bukan soal itu sih. Tapi kalau kamu oke-oke saja gak punya banyak uang, dan punya renjana ke musik, ya lakukan saja.

Selama 20 tahun terakhir, hidupku ya naik turun. Aku mengalami banyak kejadian yang menyenangkan dan bikin bahagia, tapi ada juga masa-masa aku miskin, dan itu rasanya sengsara sih. Tapi kalau punya kesempatan memutar waktu pun, aku gak mau menukar hidupku yang sekarang ini.

Aku sudah keliling dunia, menonton band-band favoritku, dan punya banyak teman di seluruh dunia. Itu lebih penting dan lebih berharga ketimbang uang. Jika kamu suka nulis dan suka musik, ya jadi jurnalis musik adalah pekerjaan yang sempurna buat kamu.

Jujur saja, kalau aku kasih tahu berapa honorku jadi penulis musik, kamu akan terkejut dan kaget. Orang-orang selalu mikir kalau aku yang sudah kerja 20 tahun jadi jurnalis musik ini sudah kaya dan hidup nyaman, dan mereka menganggap penulis musik rock ini punya banyak uang. Padahal, gajiku kadang lebih rendah ketimbang orang yang kerja di McDonald’s.

Aku dan pacarku tinggal bareng, dan gaji dia lebih besar. Tapi aku gak punya ego bahwa gaji lelaki harus lebih besar ketimbang perempuan. Aku gak peduli itu. Aku cuma ingin hidup dikelilingi musik, dan itu yang menurutku menarik.

Mendengarkan Iron Maiden sekarang, masih menghadirkan perasaan yang sama ketika aku mendengarkan mereka di masa kecil dulu. Dan aku masih menikmati nulis, walau ya memang gak terlalu menikmati seperti 10 tahun lalu. Tapi aku tetap cinta menulis dan pekerjaanku.

Pagi-pagi bangun, lalu dengerin death metal seharian. Itu pekerjaan bukan sih? (tertawa).

Baca juga artikel terkait MUSISI atau tulisan menarik lainnya Nuran Wibisono
(tirto.id - Musik)

Penulis: Nuran Wibisono
Editor: Nuran Wibisono
DarkLight