Kenapa Banyak Orang Berhenti Mencari Musik Baru?

Infografik Musical Paralysis
Ilustrasi pengguna aplikasi musik Spotify. ISTOCK
Oleh: Fadrik Aziz Firdausi - 16 November 2018
Dibaca Normal 2 menit
Survei Deezer menyebut seorang pendengar berhenti mencari musik baru di usia 30. Bukan karena kecintaan pada musik meredup, tapi ketiadaan waktu untuk mengeksplorasi.
tirto.id - Bayangkan dulu Anda pernah sangat bergairah mencari lagu atau penyanyi baru. Bisa tiap minggu, bisa tiap bulan. Anda mendengar banyak genre, dari pop sampai metal. Selalu ada penyanyi atau lagu baru untuk dinikmati.

Lalu kini Anda mendapati diri Anda bingung pada lagu-lagu baru yang rilis. Anda menggerutu karena tak paham di mana letak bagusnya EDM atau tak nyambung dengan kata-kata gaul kekinian dalam lirik sebuah lagu. Selera musik Anda rasanya jadi beku dan mulai memutar repertoar lama yang telah Anda akrabi.

Jika Anda mengalami hal-hal demikian, bisa jadi Anda mengalami apa yang disebut oleh Adam Read, editor Deezer Inggris dan Irlandia, sebagai paralisis musikal.

“Dengan begitu banyaknya musik brilian di luar sana, sangat mudah untuk merasa kewalahan. Ini sering menyebabkan kita terjebak dalam 'musical paralysis' pada saat kita memasuki usia kepala tiga,” kata Adam Read dikutip Lindsay Dodgson untuk laman warta Business Insider.

Istilah ini jadi populer sekira bulan Juni 2018, ketika layanan streaming musik Deezer merilis hasil survei tentang preferensi dan kebiasaan seseorang mendengar musik. Survei yang dilakukan di Inggris, Amerika Serikat, Perancis, Jerman, dan Brasil itu melibatkan 5.000 responden dari latar usia beragam.

Hasilnya barangkali tak seberapa mengejutkan, tapi cukup menarik: rata-rata seseorang akan berhenti mengeksplorasi musik baru alias mengalami paralisis musikal pada usia 30.


Lebih detail lagi, rata-rata umur kelumpuhan musikal ini berbeda di tiap negara. Disiarkan terpisah di laman Digital Music News, responden Perancis mengalaminya pada umur rata-rata 27. Lalu berturut-turut responden Jerman, Inggris, dan AS mengalami pada umur 31, 30, 29. Sementara umur rata-rata kelumpuhan musikal di Brasil adalah yang termuda, umur 23.

Peneliti Deezer juga menemukan bahwa sebelum mereka mengalami masa paralisis, para penggemar musik ini akan mencapai masa puncak determinasi musikal.

”Selama usia ‘puncak’ ini, mereka mendengarkan sekira sepuluh lagu baru atau lebih per minggu. Kemudian, mereka akan berhenti mengeksplorasi musik baru sama sekali,” tulis Daniel Sanchez dari Digital Music News.

Lagi-lagi, umur masa puncak ini pun berbeda di tiap negara yang disurvei. Daniel Sanchez menyebut di Brasil para penggemar musik mencapai puncak eksplorasi pada usia 22. Lalu berturut-turut di Perancis pada umur 26, di Jerman pada umur 27, di Inggris pada umur 24, dan di AS pada umur 24.

Secara sederhana mungkin bisa disimpulkan: semakin menua, orang-orang perlahan berhenti mengikuti perkembangan musik terbaru. Meski begitu, jurnalis musik asal Inggris Mark Beaumont menolak kesimpulan itu.

“Itu omong kosong. Menjadi pencinta musik, baik atau buruk, berarti kecanduan seumur hidup,” kata Beaumont dalam artikelnya untuk laman New Musical Express.

Menurutnya, masih banyak blogger musik yang senantiasa mencari musik-musik baru untuk diulas. Ia sendiri masih suka mencari band-band baru tiap harinya. Itu sudah jadi kebiasaan yang tak bakal ia hentikan. Juga, menurutnya, banyak rocker-rocker uzur yang masih tetap memperbarui repertoar musiknya. Mereka selalu menginginkan sensasi menyentak dari band-band baru yang mereka ikuti.

Meski pandangan sudah rabun, semangat musikal mereka masih menyala-nyala. Pada umur berapa pun mereka tetap mencintai musik. Survei ini jelas tak relevan bagi mereka. Survei ini, tulis Beaumont lagi, lebih menggambarkan mayoritas orang yang mendengar musik sepintas lalu, seperti orang yang tak sengaja mendengar lagu yang diputar di kafe tongkrongan.

“Sekali lagi tidak, pencinta musik tak akan berhenti mengeksplorasi musik setelah 30 tahun, [yang seperti itu adalah] konsumen musik,” pungkasnya.





Pendapat Beaumont ada benarnya. Survei Deezer pun sebenarnya mengungkap bahwa pada dasarnya orang-orang berhenti mencari musik baru bukan karena sudah tak suka musik, tetapi karena kehabisan waktu.

Ketika ditanya mengapa berhenti mengeksplorasi musik baru, 25 persen responden menjawab kesibukan kerja yang menghalangi mereka. Sedangkan14 persen menjawab waktunya tersita karena harus merawat anak. Lalu—seperti sudah disinggung Read sebelumnya—18 persen lainnya merasa kewalahan dengan begitu banyaknya pilihan musik yang tersedia kini. Dan lagi, Sanchez menyebut 60 persen responden mengaku sangat mendambakan lebih banyak waktu untuk mendengarkan musik baru.

Tambahan lain dari Dodgson adalah perkara peran kimia otak. Sains menunjukkan bahwa lagu-lagu favorit kita di masa remaja merangsang respon kesenangan di otak. Otak kemudian melepaskan dopamine, serotonin, oksitosin, dan bahan kimia lain yang membuat kita merasakan kebahagiaan. Semakin kita menyukai lagu, semakin banyak bahan kimia ini dilepas otak. Jadinya jika kita mendengar lagu yang benar-benar disukai, itu akan lebih mungkin untuk melekat selamanya.


“Itu tidak berarti Anda tak akan menyukai lagu baru di kemudian hari, tapi mungkin lagu baru akan sulit melekat sama kuatnya dengan lagu lawas,” tulis Dodgson.

Selain itu, jika kita mendapati diri memutar lagu atau penyanyi yang itu-itu saja, bukan berarti ada yang salah dengan selera kita. Itulah salah satu tanda bahwa selera kita telah matang di usia kepala tiga.[]

Baca juga artikel terkait INDUSTRI MUSIK atau tulisan menarik lainnya Fadrik Aziz Firdausi
(tirto.id - Musik)


Penulis: Fadrik Aziz Firdausi
Editor: Nuran Wibisono
DarkLight