Menuju konten utama

Mengapa Nostalgia Musik Masa Muda Berlanjut Sampai Tua?

Kenangan atas lagu maupun band favorit saat seseorang masih muda berkaitan dengan perkembangan sistem saraf yang mencapai puncaknya di usia 12-22 tahun.

Mengapa Nostalgia Musik Masa Muda Berlanjut Sampai Tua?
Penyanyi Sandra Fay bernyanyi dalam konser musik foresta di Balai Sarbini, Jakarta, Sabtu (13/5). ANTARA FOTO/Aprillio Akbar.

tirto.id - Faqihuddien Abi Utomo mengernyit saat ditanya soal Electronik Dance Music (EDM), sebuah genre musik dugem yang diminati anak-anak muda saat ini. Ia pun semakin bingung saat ditanya soal nama DJ Khaled dan Calvin Harris yang berkibar namanya. Tayangan YouTube yang disodorkan kepadanya yang berisi lagu Lean On yang diciptakan oleh DJ Snake dan trio Major Lazer dan dibawakan oleh penyanyi MØ, makin membuatnya nampak bingung.

“Ini bukan seleraku. Nggak bisa nikmatin aku musik ginian” kata Abi.

Ia merupakan penggemar punk rock, indie-garage rock, grunge, atau heavy metal. Selera musiknya masih berkutat pada genre musik yang menemani masa remaja di awal 2000. Abi menggemari tiga grup band asal Yogyakarta, yakni FSTVLST (dulu bernama Jenny), Endang Soekamti, dan Sangkakala. Ia sering menyambangi konser ketiga band itu secara rutin dan menghayatinya sepenuh hati dan masih melakukannya hingga sekarang.

Nostalgia terhadap sebuah jenis musik favorit saat remaja yang awet hingga dewasa atau usia lanjut adalah fenomena yang lazim dialami setiap orang. Kenyamanan atas karya dari musisi favorit saat melewati masa puber akan terus ada di bawah alam sadar. Selain persoalan kultural, fenomena ini juga dikaitkan dengan perspektif neurosains atau kondisi yang terjadi di dalam otak.

Mark Joseph Stern, seorang penulis dari majalah harian Slate, membuat sebuah ulasan berjudul Neural Nostalgia: Why do we love the music we heard as teenagers? Memahami apa yang terjadi pada otak saat seseorang mendengar musik penting menjelaskan fenomena ini. Saat seseorang pertama kali mendengar untaian nada dalam sebuah lagu, para ahli saraf menemukan rangsangan pada bagian korteks. Sementara saat seseorang menyanyikannya lewat mulut, korteks premotor akan aktif dan membantu koordinasi gerakan tubuh, mulai dari goyangan pinggul, anggukan kepala, dan sebagainya.

Saat seseorang memperhatikan lirik dan komposisi instrumen sebuah musik, maka bagian korteks parietal akan aktif. Sedangkan saat lagu tersebut memicu kenangan pribadi di masa lampau, bagian korteks prefrontal akan beraksi. Bagian ini khusus untuk menjaga informasi pribadi dan seputar hubungan, dan memang mudah dipicu lewat rangsangan lagu.

Stern mengutip sebuah riset yang dipublikasikan oleh Montreal Neurological Institute and Hospital, bahwa saat mendengarkan musik, otak akan kebanjiran zat-zat yang membuat suasana hati menjadi senang dan nyaman, antara lain dopamin, serotonin, dan oksitosin. Semakin cinta pada sebuah lagu, kondisi otak serupa saat seseorang mengonsumsi kokain.

Pada usia 12-22 tahun adalah masa dimana efek neurologis atas musik paling kencang terjadi di otak. Inilah penjelasan mengapa kenangan atas musik favorit bisa bertahan begitu lama hingga manusia menua. Pada masa usia-usia itu perkembangan saraf manusia sedang mencapai puncaknya.

Saat seseorang membangun sebuah koneksi terhadap sebuah lagu, ia sedang menyusun jejak ingatan yang kuat dan bersifat emosional sebab ada andil dari hormon pertumbuhan pubertas. Hormon pertumbuhan pubertas memberi tahu otak tentang segala hal yang dicecap indera kala remaja sebagai sesuatu yang amat penting, termasuk lagu. Ingatan ini serupa dengan kenangan atas ciuman pertama atau saat berbincang mesra dan masa intim saat masa-masa "cinta monyet".

Infografik Nostalgia musik masa muda

Daniel Levitin, penulis buku This is Your Brain on Music: The Science of a Human Obsession, menekankan nostalgia atas musik favorit berkaitan dengan interaksi seseorang dengan dunia sosialnya untuk kali pertama. Ada banyak hal yang menakutkan bagi remaja, salah satunya ketika ia mesti membaur dengan teman-teman di lingkungan terdekatnya. Sebuah elemen perjalanan hidup yang memberi referensi musik pada seseorang untuk kali pertama. Dalam hubungan yang makin intim hingga terbentuk solidaritas kelompok yang kuat, identitas sang anak muda terbentuk termasuk dalam hal musik.

“Masing-masing dari kita menemukan musik untuk pertama kalinya saat muda, kerapkali dari kawan-kawan sendiri. Musik itu pun menjadi lencana bahwa kita adalah bagian dari kelompok sosial tertentu. Musik melebur menjadi identitas kita,” jelas Levitin.

Petr Janata, psikolog Universitas California-Davis, sepakat dengan Levitin. Ia menyatakan bahwa musik favorit di masa muda “dikonsolidasikan ke dalam kenangan emosional terutama di tahun-tahun formatif (remaja) kita.” Ia menambahkan teori lain yang bernama “reminiscence bump” atau lonjakan kenangan, yakni fenomena ketika seseorang di usia lanjut memiliki ingatan atas masa muda yang lebih melimpah ketimbang ingatan saat di masa dewasa.

Menurut teori ini, semua orang memiliki “naskah hidup” yang menarasikan jalan kehidupan masing-masing. Saat seseorang melihat ke masa lalu, memori yang mendominasi narasi hidup punya kesamaan: sama-sama bahagia dan berkerumun di era remaja hingga usia awal 20-an.

Para peneliti di Universitas Leeds pada 2008 silam merilis penjelasan mendasar, bagaimana tahun-tahun di mana lonjakan kenangan terbangun bertepatan ketika kondisi psikis seseorang sedang dilanda chaos tapi akan berakhir dengan kestabilan. Periode ini dimulai di usia 12 tahun dan berakhir pada umur 22 tahun. Ini adalah masa dimana “kamu benar-benar menjadi kamu”. Maka menjadi masuk akal jika musik yang didengar di masa itu juga menyumbang kontribusi yang penting setelah masa itu.

Pada akhirnya musik memainkan dua proses penting. Pertama, masuk sebagai memori masa remaja termasuk di usia sekolah. Kedua, lagu-lagu itu memberikan jalan bagi memori lain atas aktivitas yang dilakukan selama mendengarkannya. Seseorang akan selalu mengingat momen menghadiri konser grup band favoritnya bersama pacar pertama. Maka bila suatu hari mendengarkan kembali lagu dari band di suatu tempat yang berbeda, ingatan terhadap pacar pertama akan terbuka dari arsip yang ada di otak seseorang. Nostalgia terhadap musik favorit terjadi pada diri masing-masing orang termasuk Anda, bukan?

Baca juga artikel terkait NOSTALGIA atau tulisan lainnya dari Akhmad Muawal Hasan

tirto.id - Musik
Reporter: Akhmad Muawal Hasan
Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Suhendra