Electronic Dance Music Mendobrak Indonesia

Infografik HL Musik Elektronik
Musisi memainkan musik lektronik dalam gelaran Pekan Komponis Indonesia 2016 di Taman Ismail Marzuki. Tirto.id/Andrey Gromico
Oleh: Nuran Wibisono - 30 Maret 2017
Dibaca Normal 2 menit
Musik elektronik punya dua wajah: bisa dinikmati dengan cara berbeda, memberi pengalaman yang berbeda pula.
tirto.id - Hentakan musik yang penuh energi berbalut lampu warna-warni yang gemerlapan, mengiringi muda mudi yang asyik meliukkan tubuhnya. Empat sosok perempuan asyik tertawa di tengah riuhnya dentuman musik.

“Nggir ra minggir tabrak, wong urip kudu tumindhak.”

Salah satu adegan di film Ada Apa Dengan Cinta (AADC) 2 ini menghadirkan Yogyakarta yang punya kekayaan tradisi tapi tidak menampik kedatangan budaya baru seperti musik elektronik. Lagu "Ora Minggir Tabrak" sejatinya adalah lagu dolanan anak-anak. Lagu ini digarap ulang oleh Libertaria dan Kill the DJ dalam balutan musik hip-hop dan Electronic Dance Music (EDM) dan menjadi salah satu lagu latar film AADC 2.

Citra Aryandari, musikolog, menganggap penggarapan ulang lagu Jawa itu mempunyai arti luas. "Bisa diartikan bahwa sekarang banyak orang datang ke Yogyakarta tidak lagi hanya melihat keraton atau candi, atau keadiluhungan. Namun juga untuk bersenang-senang," kata Citra pada Tirto.

Pada dua dekade lalu, masyarakat Indonesia masih melihat musik elektronik sebagai sesuatu yang tabu karena citra negatif: alkohol dan narkoba, dunia malam dan hedonisme. Hadirnya lagu "Ora Minggir Tabrak" mencoba melumerkan kesan "gelap" itu dan sejauh ini bisa dikatakan berhasil.

“Melalui film AADC2 dan soundtrack-nya, tampak EDM tumbuh berkembang melewati batas keistimewaan Kota Yogyakarta,” kata Citra.

Menurut musikolog yang meneliti perkembangan EDM di Indonesia ini, pendobrakan semacam ini tidak hanya terjadi di Yogyakarta. Di Makassar, misalnya, sudah ada musik elektronik yang berpadu dengan kultur mereka. Jika mau melongok katalog musik independen barang sejenak, musisi lokal bernama Fami pernah merilis album elektronik-psikedelik berjudul International Bitter Day via label Elevation.

Tanda-tanda makin populernya musik elektronik di Indonesia juga muncul melalui melalui institusi kesenian. Perhelatan Pekan Komponis Indonesia 2016 mengusung tema Musik Eksperimental Elektronik. Dalam acara yang diselenggarakan oleh Komite Musik Dewan Kesenian Jakarta ini ada pameran, konser musik, dan diskusi yang berlangsung selama 3 hari.

Dalam acara itu, pengunjung bisa melihat Artmosf, alat musik elektronik yang diciptakan oleh Ihsanul Fikri. Musiknya diciptakan saat Ihsan bergerak: meliukkan badan, menghentakkan kaki, hingga menggerakkan tangan membentuk ombak. Artmosf mampu mendeteksi gerakan dan dari sanalah alat itu bebunyian. Selain Artmosf, ada pula beberapa karya yang dikurasi dari sekitar 60 karya musik elektronik. Mulai dari musik elektro-musik, tape music, synth-pop, hingga techno.

Menurut Otto Sidharta, komponis yang juga menjadi kurator acara ini, dari kegiatan tersebut diharapkan akan muncul komponis muda baru di genre musik elektronik. Menurut Otto, musik elektronik memang mendobrak kemapanan dan mitos dalam dunia musik.

"Selama ini masyarakat, kan, menganggap musik adalah urutan dan rangkaian bunyi yang bernada. Bahkan yang lebih parah, menganggap musik harus bisa dinyanyikan," kata Otto.

Padahal, ujarnya lagi, musik itu punya banyak wajah. Termasuk musik elektronik yang terbebas dari nada dan tangga nada. Para komponis di genre ini membuat musik dengan cara yang berbeda: Ia mengamati, mengombinasikan, hingga berkreasi agar tercipta bunyi baru.

“Pameran Organologis ini juga memperlihatkan alat-alat elektronik musik yang dipakai. Tujuannya untuk membuka cakrawala masyarakat tentang pemahaman musik karena adanya keterbatasan tadi,” ungkap Otto.



Dua Wajah Musik Elektronik

Musik elektronik memang unik. Di satu sisi, ada wajah yang tak mudah dipahami oleh orang awam, yakni mereka yang dibilang Otto sebagai orang yang menganggap musik harus bisa dinyanyikan. Bagi mereka, musik elektronik adalah sebuah keanehan, kejanggalan, yang hanya bisa dinikmati oleh orang-orang "nyeni". Bebunyian yang dianggap sebagai musik oleh orang "nyeni" itu, akan dianggap sebagai kebisingan oleh banyak orang lain.

Namun di sisi yang lain, musik elektronik juga bisa populer. EDM adalah wajah paling populer dari genre ini. Di dunia musik elektronik, DJ adalah rock star dan bintang pujaan. Bahkan pundi-pundi penghasilannya pun besar. Pada 2014 Forbes pernah merilis daftar 10 artis EDM terkaya. Total kekayaan mereka mencapai 268 juta dolar AS, naik 11 persen dari tahun sebelumnya.

DJ dengan pendapatan terbesar pada 2014 adalah Calvin Harris, yang mendapat 66 juta dolar AS sepanjang 2014. Di nomor kedua ada David Guetta yang mendapat 30 juta dolar AS. Pendapatan mereka diraih dari berbagai macam bisnis. Mulai dari konser, penjualan merchandise, sponsor, penjualan musik, dan berbagai bisnis lain.

"Popularitas musik ini memang edan-edanan sejak tiga tahun terakhir," kata Harris pada Forbes. "Aku hanya berada di tempat yang tepat dan waktu yang tepat," katanya.

EDM bisa populer karena berbagai faktor. Misalnya kolaborasi dengan artis pop. Ini pernah terjadi ketika David Guetta berkolaborasi dengan Kelly Rowland dan The Black Eyed Peas. Langkah ini juga diikuti DJ lain seperti Calvin Harris yang berkolaborasi dengan Rihanna. Video "This Is What You Came For" yang diunggah Harris sudah ditonton 1,3 miliar kali di YouTube.

Media sosial juga sangat berpengaruh. DJ populer dunia biasanya punya banyak pengikut. David Guettta memiliki 21,2 juta pengikut di Twitter dan 7 juta di Instagram, Calvin Harris punya 9,5 juta pengikut Twitter juga 8 juta di Instagram, dan Steve Aoki meraih 5,7 juta pengikut Twitter bersamaan 4,8 juta pengikut Instagram. Mereka adalah beberapa DJ yang memaksimalkan media sosial.

Selain itu, sejak 1990-an, mulai bermunculan festival EDM. Karena suasana festival EDM yang selalu meriah, julukannya pun unik: taman bermain untuk orang dewasa. Festival-festival macam ini dikunjungi oleh ratusan ribu orang. Pada 2015, Electric Daisy Carnival yang diadakan di Las Vegas, dikunjungi oleh 400.000 orang selama tiga hari penyelenggaraan. Ada pula Ultra Music Festival, festival musik elektronik yang diselenggarakan sejak 1999. Pada 2016, festival ini dikunjungi oleh sekitar 165.000 penonton.

Dengan perbedaan yang demikian jauh ini, wajar kalau banyak orang menilai musik elektronik memang punya dua wajah. Dua-duanya punya dimensi yang berbeda, dinikmati dengan cara berbeda, dan sudah pasti akan memberikan pengalaman serta hasil yang berbeda pula.

Baca juga artikel terkait MUSIK DIGITAL atau tulisan menarik lainnya Nuran Wibisono
(tirto.id - Musik)

Reporter: Aditya Widya Putri
Penulis: Nuran Wibisono
Editor: Zen RS
DarkLight