tirto.id - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, menegaskan bahwa isu pencalonan dirinya pada Muktamar NU mendatang akan mengikuti hasil keputusan dari pengurus cabang.
Menurutnya, semenjak ditetapkan sebagai Ketum PBNU pada Muktamar ke-34 2021, Dirinya sudah menyerahkan seluruh keputusan organisasi kepada PBNU dan jam’iyah NU.
“Sejak 25 Desember 2021, sebetulnya sudah tidak ada lagi Yahya Cholil Staquf. Yang ada tinggal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dan jam'iyah Nahdlatul Ulama. Apa pun yang terjadi di dalam Muktamar, itulah hasil dari aspirasi seluruh cabang,” kata Yahya dalam konferensi pers di Kantor PBNU, Senen, Jakarta Pusat, Jumat (30/1/2026).
Dia menjelaskan, sebelum menggelar Muktamar, ada sejumlah tahapan yang harus dilalui. Di antaranya menyiapkan materi pembahasan dan menetapkan tempat dan waktu pelaksanaan Muktamar.
Seluruh tahapan itu disebutnya harus ditetapkan melalui forum Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU.
“Musyawarah Nasional Alim Ulama itu adalah musyawarah di antara para ulama-ulama di lingkungan Nahdlatul Ulama. Dan Konferensi Besar itu adalah forum dari pengurus-pengurus wilayah Nahdlatul Ulama dari seluruh Indonesia,” jelasnya.
Setelah dua forum itu digelar, barulah Muktamar bisa dilaksanakan. Meski begitu, Yahya tidak menampik bahwa persiapan-persiapan pelaksanaan dua forum itu sudah dimulai akhir-akhir ini.
Menurut Yahya, Munas dan Konbes itu kemungkinan akan digelar setelah Ramadhan. Sedangkan, Muktamar direncanakan digelar pada Juli atau Agustus 2026.
“Saya kira ini adalah ancar-ancar untuk memberi panduan kepada kami, secepat apa yang kami harus kerjakan untuk mempersiapkan semua itu supaya bisa terlaksana dengan sebaik-baiknya,” tuturnya.
Penulis: Naufal Majid
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
Masuk tirto.id
































