tirto.id - Ketegangan di wilayah pendudukan Palestina kembali memuncak setelah pasukan militer Israel melakukan tindakan represif di dua wilayah berbeda. Militer zionis dilaporkan melarang kumandangnya azan subuh di Betlehem, Tepi Barat, serta meluncurkan serangan udara mematikan ke sebuah pasar di Jalur Gaza bagian tengah.
Dikutip dari ANTARA, Pasukan Israel melarang kumandang azan dan salat Subuh berjama'ah di masjid yang berada di Desa Husan di Betlehem barat pada Sabtu (18/7/2026) dini hari.
Sumber keamanan mengatakan kepada koresponden Kantor Berita WAFA, bahwa zionis juga memaksa para jama'ah untuk keluar dari masjid.
Wafa melaporkan bahwa pasukan Israel menyerbu masjid tersebut dan mengusir jama'ah sebelum menembakkan granat kejut dan gas air mata ke arah mereka.
Israel juga menutup semua gerbang dan pintu masuk yang menuju ke Desa Al Arqoub di barat daya Betlehem.
Lebih lanjut, mereka juga menyerang salah satu warga Nahalin saat menyeberangi gerbang utama yang memisahkan Betlehem dari wilayah lain di provinsi tersebut.
Pelanggaran Gencatan Senjata di Bawah Proposal AS
Sedikitnya delapan warga Palestina tewas dan 20 lainnya terluka akibat serangan Israel yang menghantam sebuah pasar di dekat kamp pengungsi Nuseirat, Jalur Gaza bagian tengah, Jumat (17/7/2026), menurut pernyataan pengelola Kompleks Medis Al-Awda.
"Delapan korban tewas dan 20 korban luka dibawa ke Kompleks Medis Al-Awda setelah serangan Israel menghantam sebuah pasar di dekat kamp Nuseirat," demikian pernyataan fasilitas kesehatan tersebut dikutip dari ANTARA.
Pada 9 Oktober 2025, Israel dan Hamas, dengan mediasi Mesir, Qatar, Amerika Serikat, dan Turki, menyepakati pelaksanaan tahap pertama rencana perdamaian yang diusulkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Gencatan senjata mulai berlaku di Jalur Gaza pada hari berikutnya.
Berdasarkan kesepakatan tersebut, pasukan Israel mundur ke garis yang dikenal sebagai Garis Kuning (Yellow Line), namun tetap mempertahankan kendali atas lebih dari 50 persen wilayah Jalur Gaza.
Menurut otoritas Palestina, lebih dari 1.000 warga Palestina telah tewas dan sekitar 3.200 lainnya terluka akibat serangan Israel di berbagai wilayah Jalur Gaza sejak gencatan senjata diberlakukan.
Otoritas Palestina juga menyebutkan bahwa jumlah korban tewas sejak konflik kembali meningkat pada 7 Oktober 2023 telah melampaui 73.000 orang, sementara lebih dari 173.000 lainnya mengalami luka-luka.
Masuk tirto.id
































