Menuju konten utama

Israel Salahkan Hizbullah atas Gugurnya Pasukan TNI di Lebanon

Israel berkilah penyebab terbunuhnya tiga pasukan Unifil dari indonesia di Lebanon karena Hizbullah. Namun, perwakilan Indonesia tetap ingin investigasi.

Israel Salahkan Hizbullah atas Gugurnya Pasukan TNI di Lebanon
Ilustrasi-Dewan Keamanan PBB bersidang mengenai situasi di Timur Tengah, termasuk Palestina, di kantor pusat PBB di New York, Amerika Serikat, Senin (18/12/2017). ANTARA FOTO/REUTERS/Brendan McDermid
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Israel menyalahkan kelompok bersenjata Hizbullah atas terbunuhnya tiga personel Unifil asal Indonesia di Lebanon selatan pada Minggu (29/3/2026) dan Senin (30/3). Israel mengklaim hal tersebut tanpa menyertakan bukti.

Dinukil dari Times of Israel, klaim ini diutarakan oleh Duta Besar Israel untuk PBB, Danny Danon, dalam pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB pada Selasa (31/3/2026).

Seturut Reuters, Danon mengatakan bahwa Hizbullah telah meluncurkan roket dari desa-desa di dekat posisi pasukan PBB. Hal itu, menurutnya, "menempatkan pasukan penjaga perdamaian langsung di garis tembak".

Sementara itu, militer Israel merilis pernyataan pada Selasa (31/3/2026) bahwa tinjauan mereka atas peristiwa terbunuhnya prajurit TNI di Lebanon menyimpulkan, tidak menempatkan alat peledak di daerah terdampak dan tidak ada tentara yang hadir di sana.

Dalam pertemuan Dewan Keamanan PBB, Kepala Penjaga Perdamaian PBB, Jean-Pierre Lacroix, menyebut bahwa pihaknya kini tengah menginvestigasi insiden terbunuhnya prajurit TNI itu.

Juru bicara Unifil Kandice Ardiel juga menyebut bahwa pasukan perdamaian di Lebanon mengajak Danon dan Israel untuk berbagi bukti. Menurut Ardiel, pihaknya akan terbuka untuk membandingkan hasil investigasi kedua belah pihak.

"Kami mengundang mereka untuk berbagi dengan tim investigasi kami," kata Ardiel.

Indonesia Menuntut Investigasi dari PBB dan Tolak Klaim Israel

Melansir laman resmi PBB, Indonesia telah menyatakan penolakan atas klaim Israel. Perwakilan Indonesia juga telah mengungkapkan tuntutan agar dilakukannya investigasi dari PBB untuk perkara ini.

"Kami tidak menerima pembunuhan ini," kata Duta Besar Indonesia untuk PBB, Umar Hadi.

Perwakilan Indonesia tersebut juga dilaporkan menolak pernyataan bahwa anggota TNI yang gugur adalah "tentara yang ditempatkan di zona perang aktif". Hal ini ditentang karena mengabaikan siapa yang bertanggung jawab atas terjadinya permusuhan.

Indonesia menekankan bahwa eskalasi konflik tidak muncul dari ruang hampa, dan serangan Israel di Lebanon bagian selatan telah membuatnya makin rumit.

"Kami menuntut penyelidikan oleh PBB, bukan alih-alih alasan dari Israel," katanya.

Terbunuhnya tiga anggota TNI atas nama Praka Farial Rhomadhon, Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar, dan Sertu Muhammad Nur Ichwan menjadi perhatian publik setelah ketiganya tewas dalam dua peristiwa berbeda dalam rentang waktu 24 jam.

Praka Farizal terbunuh oleh ledakan akibat proyektil yang meledak di dekat salah satu pos di Desa Adchit Al Qusayr pada Minggu (29/3/2026). Sementara itu, Kapten Inf Zulmi dan Sertu Muhammad Nur tewas dalam tugas pengantaran logistik.

Kapten Inf Zulmi dan Sertu Muhammad Nur dilaporkan sedang bertugas dalam konvoi kendaraan saat sebuah ledakan yang tak teridentifikasi menyebabkan kendaraan militer rusak dan menewaskan keduanya.

Dua anggota TNI lainnya, Lettu (Inf) Sulthan Wirdean Maulana dan Praka Deni Rianto, juga terdampak ledakan tersebut. Keduanya dilaporkan mengalami luka-luka karena serangan tersebut.

Presiden RI Prabowo Subianto menyampaikan ucapan dukacita melalui fitur Story pada akun Instagram miliknya, Selasa (31/3/206).

"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Turut berdukacita atas gugurnya Kapten Inf. Zulmi Aditya Iskandar, Sertu Muhammad Nur Ichwan, dan Praka Rhomadhon, saat menjalankan misi perdamaian di Timur Tengah," kata Prabowo.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres mengutuk keras pembunuhan tersebut. Ia menyebut kematian prajurit TNI sebagai "pelanggaran berat terhadap hukum kemanusiaan internasional", ia juga membuka peluang penggolongan insiden ini sebagai "kejahatan perang".

Baca juga artikel terkait LEBANON atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar