Menuju konten utama

Israel Kembali Gempur Selatan Lebanon di Tengah Gencatan Senjata

Meski sepakat perpanjang gencatan senjata, Israel kembali membombardir selatan Lebanon hingga menewaskan warga sipil.

Israel Kembali Gempur Selatan Lebanon di Tengah Gencatan Senjata
Sebuah foto menunjukkan bangunan yang runtuh di lokasi serangan udara Israel di lingkungan Haret Hreik di pinggiran selatan Beirut pada 3 April 2026. (Foto oleh AFP)

tirto.id - Israel kembali melancarkan rentetan serangan udara di wilayah Lebanon selatan. Agresi ini terjadi hanya sehari setelah kedua negara sepakat memperpanjang kesepakatan gencatan senjata selama 45 hari melalui perundingan di Washington.

Pada praktiknya gencatan senjata tersebut tidak pernah benar-benar dipatuhi di lapangan oleh Israel.

Menurut laporan kantor berita resmi Lebanon, National News Agency (NNA)--yang dikutip melalui Al Jazeera, sedikitnya tiga orang tewas saat pesawat tempur Israel menggempur kota Tayr Falsayh di distrik Tyre. Korban tewas diidentifikasi sebagai seorang wanita, putranya, dan seorang petugas medis.

Selain menewaskan tiga warga sipil dalam serangan di selatan Lebanon, serangan Israel tersebut juga melukai lima warga sipil lainnya. Dikutip dari Kantor Berita Nasional Lebanon, kelima warga sipil mengalami saat hendak memungut jenazah yang terkenan runtuhan bangunan akibat serangan Israel.

Di lokasi lain, serangan udara Israel di kota Haboush, Lebanon Selatan, juga menewaskan sepasang suami istri. Di sisi lain, militer Israel mengonfirmasi pada hari Sabtu bahwa seorang perwiranya tewas di Lebanon selatan akibat serangan pesawat nirawak (drone).

Kementerian Kesehatan Lebanon mencatat sebanyak 2.969 orang tewas dan 9.112 lainnya luka-luka sejak serangan Israel pada 2 Maret.

Situasi di Lebanon selatan kian mencekam setelah setidaknya lima desa menjadi sasaran bombardir militer Israel sejak Sabtu kemarin. Selain serangan udara, tentara Israel juga terus memperluas zona pengungsian paksa bagi warga sipil di wilayah tersebut.

Otoritas militer Israel tercatat mengeluarkan perintah evakuasi paksa baru yang menyasar sembilan desa di Lebanon selatan, khususnya di sekitar wilayah Sidon dan Nabatieh. Desa-desa yang masuk dalam perintah pengosongan tersebut meliputi Qaaqaaiyet, al-Snoubar, Kaouthariyet al-Saiyad, al-Marwaniyah, hingga al-Ghassaniyah.

Hingga saat ini, perintah evakuasi massal tersebut memaksa warga setempat meninggalkan kediaman mereka di tengah intensitas serangan yang belum menunjukkan tanda-tanda deeskalasi.

Rentetan serangan ini terjadi setelah utusan dari Israel dan Lebanon menggelar negosiasi di Washington. Berdasarkan laporan NNA, perpanjangan gencatan senjata ini bertujuan untuk membuka jalan bagi dimulainya jalur keamanan yang difasilitasi Amerika Serikat (AS) pada 29 Mei mendatang.

Adapun putaran perundingan berikutnya dijadwalkan berlangsung pada 2 dan 3 Juni di Washington.

Hizbullah menentang keras negosiasi tersebut, terlebih karena pasukan Israel terus membombardir selatan Lebanon dan menduduki sebagian wilayahnya sejak gencatan senjata dinyatakan berlaku pada 17 April.

Pada hari Sabtu, kelompok tersebut merilis pernyataan yang mengecam hasil kesepakatan Washington dan mendesak pemerintah Lebanon untuk menyudahi segala bentuk "konsesi" (kompromi).

Namun, delegasi runding Lebanon di Washington pada hari Jumat masih menyambut baik perpanjangan gencatan senjata 45 hari dengan Israel. Dalam sebuah pernyataan resmi, pihak kepresidenan Lebanon menyampaikan:

"Perpanjangan gencatan senjata dan pembentukan jalur keamanan yang difasilitasi AS memberikan ruang bernapas yang sangat krusial bagi warga negara kami, memperkuat institusi negara, dan memajukan jalur politik menuju stabilitas yang langgeng."

Baca juga artikel terkait LATEST NEWS atau tulisan lainnya dari Irfan Amin

tirto.id - Flash News
Reporter: Irfan Amin
Penulis: Irfan Amin
Editor: Rina Nurjanah