tirto.id - Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan potensi pecahnya kembali perang terbuka dengan Amerika Serikat tergolong rendah lantaran lemahnya posisi musuh.
Meski begitu, Teheran seluruh angkatan bersenjatanya tetap dalam kondisi siaga menghadapi kemungkinan serangan baru.
Melansir AFP, Kamis (28/5/2026), pernyataan Korps Garda Revolusi itu, disampaikan pada Rabu (28/5/2026), sehari setelah Iran menuduh AS melanggar gencatan senjata yang berlaku sejak April lalu. Iran juga memperingatkan siap melakukan pembalasan usai serangan paling serius sejak gencatan senjata diberlakukan.
Di Lebanon, situasi keamanan juga masih memanas meski telah ada gencatan senjata dalam perang Israel melawan Hizbullah. Serangan Israel pada Selasa (27/5/2026) dilaporkan menewaskan 31 orang, termasuk empat anak-anak, menurut Kementerian Kesehatan Lebanon.
Perang di Timur Tengah pecah pada akhir Februari setelah serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran. Konflik kemudian meluas ke berbagai front dan mengguncang kawasan, sekaligus memicu kekacauan di pasar energi global.
“Peluang perang rendah karena kelemahan musuh, angkatan bersenjata bersiaga dengan magasin penuh,” kata Deputi Kepala Politik Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), Mohammad Akbarzadeh, seperti dikutip kantor berita Tasnim.
Akbarzadeh juga memperingatkan Iran siap memberikan respons keras apabila kembali diserang. “Jangan ragu bahwa kami akan mengubah kawasan dari Chabahar hingga Mahshahr menjadi kuburan bagi para agresor,” ujarnya, merujuk wilayah di sepanjang pesisir selatan Iran.
Iran dan AS selama beberapa pekan terakhir terus terlibat perang pernyataan di tengah negosiasi yang dimediasi Pakistan. Hingga kini, kedua negara belum menunjukkan tanda-tanda kompromi terkait isu utama dalam perundingan, termasuk Selat Hormuz dan program nuklir Iran.
Iran sebelumnya memblokade Selat Hormuz, jalur laut penting bagi distribusi energi global, sebagai respons atas perang. Sebagai balasan, AS menerapkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
Di tengah situasi tersebut, pasar saham global bergerak variatif pada Rabu. Investor masih menaruh harapan bahwa AS dan Iran dapat mencapai kesepakatan untuk meredakan ketegangan.
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id

































