tirto.id - Memanasnya hubungan Iran dan Amerika Serikat tak hanya mengguncang harga minyak dunia, tetapi juga ikut mendongkrak harga aspal hingga 45 persen.
Lonjakan harga aspal tersebut berdampak pada berkurangnya volume perbaikan jalan di Kota Cirebon.
Wali Kota Cirebon, Effendi Edo, mengatakan solusi atas kenaikan harga aspal saat ini adalah mengurangi volume pekerjaan yang terpaksa dilakukan.
“Misalnya pengerjaan jalan yang seharusnya 400 meter, saat ini mungkin hanya 200 meter. Untuk bahan baku memang ada kenaikan,” kata Effendi, Selasa (26/5/2026).
Selain aspal, harga bahan bangunan lain seperti semen, batu split, dan pasir juga mengalami kenaikan yang cukup signifikan.
Kenaikan tersebut disebut dipengaruhi situasi geopolitik yang memanas antara Iran dan Amerika Serikat.
“Situasi tersebut berpengaruh terhadap bahan baku bangunan dan juga aspal. Karena itu, program harus dijalankan dengan skala prioritas. Volumenya nanti disesuaikan dengan aturan,” kata Sekretaris Daerah Kota Cirebon, Iing Daiman.
Iing menjelaskan, perangkat daerah dapat mengajukan perubahan standar harga satuan yang nantinya akan direviu oleh Inspektorat.
Standar harga tersebut sebelumnya disusun pada Maret 2025. Namun, karena terjadi eskalasi yang berada di luar prediksi, pemerintah daerah dapat melakukan koreksi harga satuan atau owner estimate (OE).
Sementara itu, Kepala Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Kota Cirebon, Totong, mengatakan pihaknya telah melakukan survei harga satuan sebanyak dua kali, dengan survei terakhir dilakukan pada Mei 2026.
Hasil survei menunjukkan kenaikan harga bahan baku aspal dan material lainnya berkisar 30 hingga 45 persen.
“Harga aspal jenis AC-WC tadinya Rp1,5 juta per kubik menjadi Rp2,4 juta per kubik, naik sekitar 30 persen. Pada survei pertama sebelumnya juga sudah naik menjadi Rp1,9 juta per kubik,” katanya.
Selain aspal AC-WC, harga Campuran Aspal Panas (CAP) yang digunakan untuk menambal jalan berlubang juga naik sekitar 40 persen.
Harga aspal CAP meningkat dari Rp3,8 juta per kubik menjadi Rp5,4 juta per kubik atau naik sekitar Rp1,6 juta dibanding acuan harga sebelum perencanaan ulang.
Totong mengaku pihaknya tidak hanya mengambil data dari satu produsen, tetapi menggunakan harga tertinggi sebagai langkah antisipasi jika kembali terjadi kenaikan.
“Kami sudah mengajukan penyesuaian standar harga satuan dan saat ini masih berproses. Hal ini juga menjadi salah satu penyebab keterlambatan perbaikan jalan di Kota Cirebon,” ujarnya.
Pada 2026, DPUTR menganggarkan Rp5,3 miliar untuk perbaikan tujuh ruas jalan dengan total panjang mencapai 39 kilometer.
Namun, akibat kenaikan harga bahan baku, volume pekerjaan diperkirakan berkurang 20 hingga 30 persen dari total panjang tersebut.
“Contohnya Jalan Cipto, yang semula akan diperbaiki sepanjang 920 meter, kini menjadi 780 meter di dua ruas jalan. Jadi, pengurangannya mencapai 140 meter hanya untuk satu jalan,” ungkap Totong.
Totong memaparkan tingkat kemantapan jalan di Kota Cirebon saat ini mencapai 94 persen, sementara sekitar 6 persen sisanya mengalami kerusakan ringan hingga berat.
Tak hanya aspal, harga bahan baku beton juga mengalami kenaikan sekitar 15 persen. Harga beton struktur naik dari Rp2,9 juta menjadi Rp3,3 juta per kubik, sedangkan beton lapis meningkat dari Rp1,3 juta menjadi Rp1,5 juta per kubik.
“Sampai saat ini belum ada solusi untuk kenaikan harga bahan baku ini. Hanya ada metode micro surfacing, yakni menutup pori-pori aspal agar air tidak mudah masuk dan merusak kontur jalan. Namun, biayanya juga mahal,” tutupnya.
Penulis: Cirebon Banget
Editor: Anggun P Situmorang
Masuk tirto.id

































