Menuju konten utama

Investasi Saham Saat Pandemi: Iseng-Iseng Belum Tentu Berhadiah

Di masa pandemi orang-orang berbondong-bondong ke pasar modal untuk mencari penghasilan tambahan. Sayangnya mungkin tak semua berhasil.

Investasi Saham Saat Pandemi: Iseng-Iseng Belum Tentu Berhadiah
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). tirto.id/Andrey Gromico

tirto.id - Jumlah investor di pasar modal meningkat selama masa pandemi Corona. Ini ditandai dengan bertambahnya single investor identification (SID), yaitu “kode tunggal dan khusus yang diterbitkan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), digunakan nasabah, pemodal, dan/atau pihak lain untuk melakukan kegiatan terkait transaksi efek dan/atau menggunakan layanan jasa lainnya.”

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Hoesen mengatakan jumlah SID dari Januari sampai akhir September 2020 mencapai 3,23 juta. “Naik 30 persen dibanding 31 Desember 2019, 2,48 juta SID,” katanya dalam diskusi Capital Market Summit & Expo 2020, Selasa (20/10/2020).

Hoesen mengatakan fenomena ini “membuktikan kepercayaan publik terhadap pasar modal Indonesia masih terus meningkat.”

Analis Teknikal Panin Sekuritas William Hartanto menjelaskan faktor-faktor lain. Pertama adalah maraknya pemutusan hubungan kerja (PHK) yang melanda banyak pekerja, imbas tersendatnya aktivitas bisnis yang terdampak langsung pandemi. Kondisi itu memaksa masyarakat korban Corona mencari alternatif penghasilan baru bermodal uang pesangon, salah satunya lewat pasar modal.

“Mereka mencoba menjadi investor saham,” katanya kepada wartawan Tirto, Selasa (20/10/2020).

Faktor lain adalah instrumen investasi lain seperti emas yang sudah kadung mahal. “Bisa jadi peralihan dari emas ke saham karena tingkat risiko yang relatif tinggi, mengingat kenaikan harga yang sudah bertumbuh secara signifikan,” katanya.

Mengutip data situsLogam Mulia, harga emas Antam per 21 Oktober berada di level Rp 1.008.000/gram. Bagi investor pemula, angka ini tentu cukup menguras kantong, apalagi harganya cenderung stagnan sejak pertama kali menyentuh level psikologis Rp1 juta-an pada Juli lalu.

Di sisi lain IHSG sempat menyentuh titik terendah pada Maret. Mengutip data perdagangan di situs resmi Bursa Efek Indonesia (BEI), pada 2 Januari IHSG dibuka pada level 6.313,13 dan terus bergerak turun hingga menyentuh posisi 5.133,15 pada 9 Maret. IHSG terus rontok hingga menyentuh level terendahnya di 3.937,63 pada penutupan perdagangan 24 Maret.

Namun, sejak saat itu, tren IHSG menguat. “Sejak Maret IHSG dan saham-saham sudah kembali naik,” katanya. Pada penutupan perdagangan Selasa 20 Oktober, IHSG berhasil ditutup di level 5.099.

Bukan hanya pergerakan IHSG, pemulihan pasar modal juga tampak dari volume transaksi perdagangan saham. Saat IHSG mencatat titik terendah di 24 Maret, volume perdagangan saham melorot cukup dalam di posisi 6,3 miliar lembar. Namun, pada Selasa 20 Oktober, volume perdagangan saham harian telah menyentuh 10,05 miliar lembar saham, atau nyaris tumbuh dua kali lipat dibanding Maret.

Waspada Risiko

Meski terus naik, bukan berarti kondisi ini bebas risiko. William mengatakan para investor pemula harus memperhatikan berbagai faktor agar tak justru terjerumus dan merugi. Misalnya, “risiko salah memilih saham karena kurang pengetahuan.”

Ia lantas menyarankan para investor hijau ini menanamkan duit di “sektor yang defensif seperti consumer goods, atau yang sedang ada sentimen positifnya, misalnya farmasi, bank syariah, mining khususnya timah dan nikel.” “Startegi ini membuat mereka lebih cepat meraih capital gain,” katanya.

Senada, analis pasar modal dari Binaartha Sekuritas Nafan Aji juga mengingatkan investor pemula soal saham gorengan. Saham gorengan biasanya merujuk ke saham yang berkualitas jelek tapi direkayasa sehingga kenaikannya di luar kebiasaan. Tujuannya tentu saja untuk mengeruk keuntungan dalam jangka pendek.

“Saham gorengan itu saya pikir bukan hanya mendapatkan keuntungan besar tapi risikonya juga tinggi. Hati-hati dengan saham jenis ini," katanya kepada wartawan Tirto, Selasa.

Selain menghindari saham gorengan, Nafan mengatakan sebaiknya investor baru melakukan analisis fundamental, yaitu menganalisis kinerja keuangan perusahaan yang hendak mereka sasar. Dari mulai melihat laba bersih, pendapatan serta return on asset (ROA), dan return on equity (ROE).

Baca juga artikel terkait PASAR MODAL atau tulisan lainnya dari Selfie Miftahul Jannah

tirto.id - Bisnis
Reporter: Selfie Miftahul Jannah
Penulis: Selfie Miftahul Jannah
Editor: Rio Apinino