Soeharto dan Atasannya

Insiden Antara Kawilarang dan Soeharto Saat Menumpas Andi Azis

Ilustrasi Kawilarang dan Soeharto. tirto.id/Fuadi
Oleh: Petrik Matanasi - 4 Agustus 2020
Dibaca Normal 2 menit
Kawilarang adalah atasan Soeharto dalam Operasi Penumpasan Andi Azis di Makassar.
Beberapa bulan setelah pengakuan kedaulatan, situasi keamanan nasional belum sepenuhnya pulih. Di Makassar, sisa-sisa pasukan KNIL pimpinan Andi Azis mengamuk dengan dalih mempertahankan Negara Indonesia Timur bentukan van Mook. Hal ini mendorong pemerintah RI segera mengirim pasukan TNI untuk mengendalikan situasi. Di antara pasukan yang dikirim ke Makassar, terdapat Brigade Mataram yang terdiri dari dua batalion penggempur pimpinan Letnan Kolonel Soeharto.

Dalam Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya (1989) disebutkan bahwa pada 17 April 1950, Letnan Kolonel Sentot Iskandardinata--kepala staf pasukan Ekspedisi Indonesia Timur--memberi arahan kepada pasukan Soeharto agar mendarat di Bantaeng dan membangun markas di sana. Setelah itu mengirim satu batalion ke Makassar.

Sehari kemudian, Panglima Ekspedisi Indonesia Timur Kolonel Alexander Evert Kawilarang dan Panglima Tentara dan Teritorium III Jawa Tengah Kolonel Gatot Subroto memeriksa pasukan Soeharto yang terdiri dari Batalion Kresno dan Batalion Seno.

”Ternyata kedua batalion kami itu yang paling dulu siap di antara semua yang akan dikirimkan,” tulis Soeharto. Tanggal 19 April, Brigade Mataram berangkat dari Jawa menggunakan kapal Waiwerang.

Tanggal 24 April, Soeharto bertemu lagi dengan Kawilarang di kapal perang KRI Hang Tuah, di sekitar Pulau De Bril. Rencana berubah, Brigade Mataram yang semula hendak mendarat di Bantaeng justru berlabuh di Makassar pada 26 April. Pasukannya kemudian menyebar di sekitar Makassar, Jeneponto, dan Gunung Lompobattang. Saat operasi inilah Soeharto mulai kenal dengan keluarga BJ. Habibie.


Bentrokan dengan sisa-sisa KNIL menghebat di bulan Agustus. Kala itu, Kolonel Kawilarang sedang berada di Jakarta. Tanggal 7 Agustus Kawilarang datang ke Makassar dan langsung turun ke lapangan.

”Kebetulan waktu datang, Letnan Kolonel Soeharto sedang memeriksa front,” ujar Kawilarang dalam autobiografinya: A.E. Kawilarang untuk Sang Merah Putih (1988:212). TNI berhasil mematahkan perlawanan sisa-sisa KNIL yang akhirnya mengajak berdamai.

”Kolonel Kawilarang membawa kabar tentang kesungguhan maksud orang-orang KNIL/KL untuk meminta damai itu,” kata Soeharto dalam autobiografinya.

Meski Soeharto dan Kawilarang sama-sama mantan KNIL, tetapi padangan keduanya berbeda. Soeharto menilai sisa-sisa KNIL tak dapat dipercaya, sementara Kawilarang sebaliknya. Karena pangkat Kawilarang lebih tinggi, maka keputusannya yang diambil. TNI dan sisa-sisa KNIL pun kemudian berunding dan hasilnya KNIL harus keluar dari Makassar.

Setelah pemberontakan Andi Azis dipadamkan, beredar cerita sempat terjadi insiden antara Soeharto dengan Kawilarang di Pelabuhan Makassar. Konon, ada penyelundupan sejumlah mobil dari Makassar ke Jawa yang melibatkan Soeharto sehingga Kawilarang menamparnya. Rosihan Anwar dalam In Memoriam: Mengenang yang Wafat (2002:310) pernah menanyakan hal ini langsung kepada Kawilarang. Namun, ”Alex tidak mengiyakan pertanyaan saya, tidak pula menyangkalnya. Dia hanya tersenyum,” tulis Rosihan.

Cerita lain tentang Kawilarang yang menempelang Soeharto disampaikan Sjahrir yang biasa dipanggil Ciil dalam sebuah tulisan yang terbit sehari setelah Kawilarang wafat. Dalam tulisannya disebutkan bahwa ketika berada di Jakarta, Kawilarang menerima radiogram yang disodorkan Sukarno yang isinya adalah pasukan KNIL telah menduduki Makassar. Padahal ia hendak mengabarkan kepada presiden tentang Makasssar yang terkendali.

Brigade Mataram pimpinan Soeharto yang ditugaskan mempertahankan Makassar telah mundur ke lapangan udara Mandai. Begitu sampai di Makassar, Alex langsung memarahi Letkol Soeharto. ”Sirkus apa-apaan nih?” kata Kawilarang sambil menempeleng Soeharto.




Menurut David Jenkins dalam Suharto and His Generals: Indonesian Military Politics 1975-1983 (1984), M. Jusuf yang masih kapten berada di sana ketika Kawilarang menghajar Soeharto. Namun pada warsa 1980-an, Kawilarang membantah dirinya memukul Soeharto. Sejumlah orang di kalangan militer juga membantah hal tersebut dan meragukan ada Kolonel yang memukul Letnan Kolonel.

Setelah operasi militer di Makassar dan Ambon, Kawilarang pernah jadi Panglima Tentara dan Teritorium III Jawa Barat. Di masa tugasnya itu ia mempersiapkan pembentukan pasukan khusus--kelak menjadi Kopassus--untuk melawan DI/TII.

Ketika karier militer Kawilarang terhenti setelah ia ikut Permesta yang menyerah pada 1961, Soeharto justru mulai bersinar dengan dijadikan Panglima Komando Pembebasa Irian Barat dan kemudian menjadi Panglima Komando Tjadangan Angkatan Darat (Kostrad).

Sesudah tak aktif di militer, Kawilarang tak mau terlibat atau berbicara tentang politik. ”Tanpa alasan lebih jauh,” tulis Tempo (24/07/1971). Ia hanya ingin bicara tentang kuda peliharaannya. Kawilarang yang pernah tinggal di Jalan Situbondo 8 ini wafat pada 6 juni 2000, mendahului Soeharto yang baru tutup usia delapan tahun kemudian.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight