Menuju konten utama

Indonesia Perluas Pasar Ekspor Baru ke Iran

Indonesia mulai memperkuat kembali kerja sama di bidang perdagangan dan investasi dengan Iran setelah lama tidak melanjutkan hubungan kemitraan. melalui penandatanganan komitmen baru, Indonesia bisa mencari pasar ekspor baru ke Iran.

Indonesia Perluas Pasar Ekspor Baru ke Iran
Menko Perekonomian Darmin Nasution (kiri) dan Seskab Pramono Anung (kanan). ANTARA FOTO/Cahyo-Setpres.

tirto.id - Pemerintah Indonesia berkomitmen meningkatkan kerja sama perdagangan dan investasi dengan Republik Islam Iran, yang saat ini nilainya masih kecil dibandingkan dengan potensi ekonomi dari kedua negara.

"Ini [kerja sama] memang sudah lama tidak dilanjutkan [karena Iran terkena sanksi ekonomi], tapi kita berharap dalam dua atau tiga tahun bisa pulih kembali," kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution di Jakarta.

Untuk itu, kedua negara menyepakati kerja sama baru di sektor perdagangan maupun investasi dalam Sidang Komisi Bersama Ekonomi (SKB) Bidang Kerja Sama Ekonomi dan Perdagangan antara Republik Indonesia dan Republik Islam Iran, demikian informasi yang dilansir dari Antara, Jumat (25/11/2016).

Indonesia pada kesempatan itu dipercaya menjadi tuan rumah pertemuan SKB yang pertama setelah implementasi kesepakatan Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) yang mencabut sebagian sanksi ekonomi Iran. Sementara itu, dalam Sidang Komisi Bersama Ekonomi ini, Darmin bertugas sebagai pimpinan delegasi pemerintah.

Ikut hadir dalam SKB ini, Menteri Komunikasi dan Teknologi Informasi Iran Mahmoud Vaezi yang merupakan pimpinan delegasi Iran, Duta Besar Iran untuk Indonesia Valioah Mohammadi serta Duta Besar Indonesia untuk Iran Octaviano Alimudin.

Darmin mengatakan melalui penandatanganan komitmen baru, Indonesia bisa mencari pasar ekspor baru ke Iran untuk memulihkan kinerja perdagangan yang masih dilanda kelesuan karena perlambatan ekonomi global.

"Itu nanti bisa memulihkan perdagangan kita dengan Iran. Apalagi dengan situasi dimana negara-negara tujuan ekspor tidak terlalu menggembirakan. Buat kita ini penting, sehingga bisa meningkatkan ekspor kita ke Iran," katanya.

Darmin mengatakan barang Indonesia yang bisa diekspor ke Iran di antaranya kelapa sawit, tekstil dan pakaian jadi serta produk industri manufaktur unggulan lain.

Mengenai potensi peningkatan investasi, Darmin mengatakan bahwa Iran berminat berinvestasi di sektor minyak dan gas meski belum ada komitmen resmi mengenai rencana penanaman modal tersebut.

"Mereka belum bilang yang mana, tapi mereka berkeinginan untuk masuk ke kilang. Bahkan di listrik, kesempatan untuk investasi di 35 ribu MW itu banyak banget. Itu dibagi-bagi kepada banyak investor," ujarnya.

Darmin mengatakan bila Iran mau berinvestasi dalam pembangunan kilang, Indonesia bisa mendapatkan cadangan minyak yang bermanfaat untuk penyediaan energi nasional dalam jangka panjang.

"Sebenarnya dari negara yang ada minyaknya, buat Indonesia bagus juga, sehingga itu bisa di-backup dengan kontrak jangka panjang suplai minyak. Kalau cuma kilang minyak dibuat, tapi suplainya tidak ada kontrak jangka panjang, dunia gonjang ganjing kita bisa kena," ujarnya.

Nilai total perdagangan bilateral Indonesia-Iran pada 2015 mencapai 273,1 juta dolar AS, turun 38,51 persen sejak 2011, di mana ketika itu nilainya tercatat 1,8 miliar dolar AS.

Sementara sampai bulan Agustus 2016, nilai perdagangan bilateral antara kedua negara baru mencapai 150 juta dolar AS atau lebih rendah dari periode yang sama tahun lalu yaitu 195 juta dolar AS.

Di bidang investasi, menurut data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), realisasi investasi Iran di Indonesia secara kumulatif selama periode 2011 sampai 2014 mencapai 6,3 juta dolar AS dan meliputi 16 proyek.

Potensi kerja sama baru telah terlihat dari sektor energi seperti antara Pertamina dan National Iranian Oil Company (NIOC) yang berkolaborasi dalam penyuplaian LPG sebesar 88.000 ton pada 2016 dan jumlahnya terus meningkat pada 2017.

Kerja sama bilateral ekonomi ini dapat ditingkatkan ke sektor minyak dan gas lainnya seperti minyak mentah, kilang minyak, produk petrokimia dan lainnya di masa mendatang.

Indonesia dan Iran juga telah menandatangani Agreed Minutes of the 12th Session of Joint Commission on Economic and Trade Cooperation between the Republic of Indonesia and the Islamic Republic of Iran yang mencakup berbagai program kerja sama strategis antara kedua negara.

"Kami berharap semoga kerjasama bilateral antara Indonesia dan Iran di bidang ekonomi dapat terus ditingkatkan yang tentunya untuk mencapai kemakmuran bersama di masa yang akan datang," kata Darmin.

Seusai pertemuan, delegasi Iran kemudian melakukan kunjungan kehormatan ke Presiden Joko Widodo di Istana Kepresidenan.

Sebagai tindak lanjut dari penguatan kerja sama bilateral ekonomi ini, menurut rencana, Presiden Joko Widodo akan mengadakan kunjungan kenegaraan ke Iran pada Desember 2016.

Baca juga artikel terkait KERJA SAMA PERDAGANGAN atau tulisan lainnya dari Yuliana Ratnasari

tirto.id - Ekonomi
Reporter: Yuliana Ratnasari
Penulis: Yuliana Ratnasari
Editor: Yuliana Ratnasari