Menuju konten utama

Indonesia Impor AMDK Rp69 Miliar sepanjang Januari-Agustus 2025

Meski impor, neraca perdagangan industri air minum nasional mencatatkan surplus sebesar Rp324,23 miliar di sepanjang 2024.

Indonesia Impor AMDK Rp69 Miliar sepanjang Januari-Agustus 2025
Pekerja melakukan aktivitas bongkar muat air minum dalam kemasan di Jakarta, Selasa (21/4/2020).ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/foc.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat, sampai saat ini Indonesia masih mengimpor air minum dalam kemasan (AMDK). Dari periode Januari-Agustus 2025, impor AMDK mencapai 4,14 juta dolar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp69,08 miliar (kurs Rp16.701 per dolar AS).

Namun, di balik itu, neraca perdagangan industri air minum nasional mencatatkan surplus sebesar 19,46 juta dolar AS atau Rp324,23 miliar di sepanjang 2024. Kemudian, pada periode Januari-Agustus 2025, Indonesia juga mengekspor AMDK hingga 16,85 juta dolar AS atau setara Rp281,80 miliar.

"Neraca perdagangan industri AMDK cukup bagus juga, kita surplus 19,46 juta dolar AS. Impor kita tidak banyak, tapi ekspor cukup signifikan," kata Pelaksana tugas (Plt.) Direktur Jenderala (Dirjen) Industri Agro Kemenperin, Putu Juli Ardika, dalam rapat kerja (raker) dengan Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI, di Komplek Parlemen, Jakarta Pusat, Senin (10/11/2025).

Sementara itu, sampai saat ini sudah ada 707 pabrik AMDK yang berdiri di seluruh Indonesia, di mana 54 persen di antaranya berada di Pulau Jawa. Adapun, utilisasi industri AMDK mencapai 71,62 persen, dengan kapasitas mencapai 47 miliar liter per tahun di sepanjang 2024.

"Sarapan tenaga kerjanya juga cukup banyak, 46 ribu orang," tambah Putu.

Sementara itu, sejalan dengan pertumbuhan industri, pemerintah sudah rutin melakukan pembinaan untuk pengendalian kualitas dan keamanan pangan, melalui bimbingan teknis dan pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM).

Dengan bekerja sama dan berkoordinasi dengan Dewan Standarisasi Nasional, pemerintah juga berupaya mendorong produktivitas induatri AMDK melalui penerapan SNI dan digitalisasi.

"Industri yang skalanya tidak besar ini kita dorong ke peningkatan produksi dan kualitasnya melalui kredit industri padat karya yang ada diskon interest rate-nya 4 persen dan juga aspek keberlanjutan. Mulai dari karbon printnya bagaimana, kita mendorong industri ini untuk menggunakan panel surya di dalam tempat produksinya," tuturnya.

"Demikian juga terkait dengan daur ulang daripada kemasannya sendiri itu memang menjadi konsen kita untuk bisa seminimal mungkin berpengaruh terhadap lingkungan," jelas Putu.

Baca juga artikel terkait AIR MINUM DALAM KEMASAN atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Insider
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana