tirto.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah menunjuk Kevin Warsh sebagai calon Ketua Federal Reserve (The Fed), menggantikan Jerome Powell yang masa jabatannya berakhir pada Mei mendatang.
Jika mendapat persetujuan dari Senat, Warsh akan memimpin bank sentral paling berpengaruh di dunia, yang arah kebijakan suku bunganya akan berdampak besar terhadap stabilitas keuangan global.
Penunjukan Warsh terjadi di tengah upaya Trump memperbesar pengaruh Gedung Putih terhadap kebijakan moneter AS. The Fed, yang selama ini dipandang sebagai institusi independen yang menjadi jangkar stabilitas pasar keuangan global, kini menjadi sorotan pelaku pasar lantaran terindikasi mulai diintervensi.
Terlebih, sosok Warsh juga sarat dengan konteks politik dan jejaring elite. Mengutip Reuters, keputusan Trump menunjuk Wars tak lepas dari kampanye lobi dari orang-orang yang terafiliasi dengan Warsh, termasuk ayah mertuanya Ron Lauder—pengusaha kosmetik sekaligus loyalis Trump—serta investor kawakan Stanley Druckenmiller.
Trump sendiri menyatakan tidak ingin mencampuri kebijakan moneter secara langsung dalam proses pencalonan nahkoda baru The Fed. Termasuk, bagaimana ia enggan menanyakan kepada Warsh apakah akan memangkas suku bunga kendati ia meyakini Warsh akan lebih condong mendukung penurunan biaya pinjaman.
"Saya telah mengenal Kevin sejak lama, dan tidak ragu bahwa ia akan dikenal sebagai salah satu Ketua The Fed yang HEBAT, bahkan mungkin yang terbaik. Di atas semua itu, ia adalah sosok yang ‘central casting’, dan ia tidak akan pernah mengecewakan,” kata Trump dalam sebuah unggahan di media sosial saat mengumumkan pencalonan Warsh.
Namun, jalan Warsh menuju kursi Ketua The Fed belum sepenuhnya mulus. Proses konfirmasi di Senat diperkirakan berlangsung alot, terutama di tengah kekhawatiran bahwa penunjukan ini dapat mengikis independensi bank sentral AS.
Tantangan Warsh juga muncul dari tubuh The Fed sendiri, di mana sejumlah pejabat bank sentral menilai urgensi untuk memangkas suku bunga masih nihil di tengah kondisi inflasi yang tinggi dan perekonomian AS yang masih solid.
Presiden The Fed Atlanta Raphael Bostic, misalnya, menilai keberhasilan Warsh justru akan sangat bergantung pada kemampuannya membangun kepercayaan dan konsensus di antara para pembuat kebijakan. Menurutnya, mengarahkan kebijakan moneter bukan hanya soal posisi, tetapi juga soal relasi dan legitimasi internal.
Pandangan Warsh
Sikap Warsh terhadap kebijakan suku bunga memang dinilai telah bergeser seiring dengan pencalonan dirinya sebagai ketua The Fed. Meski dulu dikenal sebagai penentang inflasi, dalam beberapa tahun terakhir ia justru mendorong penurunan suku bunga, sejalan dengan pandangan Trump bahwa biaya pinjaman perlu ditekan untuk menopang pertumbuhan ekonomi.
Salah satu gagasan utama Warsh adalah keinginannya untuk secara signifikan memangkas neraca The Fed yang kini bernilai triliunan dolar AS. Ia menilai kepemilikan aset besar oleh bank sentral telah mendistorsi sistem keuangan dan memperluas peran The Fed melampaui mandat tradisionalnya.
Dalam sebuah artikel opini di Wall Street Journal pada November lalu, Warsh menyebut neraca The Fed telah “menggelembung” dan dirancang untuk menopang perusahaan-perusahaan besar pada era krisis yang sudah berlalu.
Menurutnya, neraca tersebut dapat dipangkas dan hasilnya digunakan untuk menurunkan suku bunga demi mendukung rumah tangga serta usaha kecil dan menengah.
Namun, para analis menilai ambisi tersebut tidak mudah direalisasikan. Neraca The Fed sempat mencapai puncak sekitar 9 triliun dolar AS pada 2022 setelah pembelian besar-besaran obligasi selama pandemi COVID-19. Meski telah menyusut lewat kebijakan quantitative tightening (QT), ruang pemangkasan lanjutan dinilai sangat terbatas.
Ketergantungan sistem keuangan AS terhadap likuiditas besar menjadi kendala utama. Ketika cadangan perbankan turun mendekati US$3 triliun, volatilitas pasar uang mulai meningkat dan mengancam kemampuan The Fed mengendalikan suku bunga acuannya.
Selain tantangan pasar, Warsh juga harus menghadapi dinamika internal The Fed. Ini lantaran setiap perubahan besar dalam kebijakan neraca membutuhkan dukungan dari para pembuat kebijakan The Fed lainnya, yang selama ini relatif solid mendukung penggunaan neraca sebagai instrumen kebijakan moneter.
Karena itu, meski kerap digambarkan sebagai figur reformis, sejumlah analis memperkirakan Warsh akan bersikap lebih pragmatis jika resmi menjabat. Ia dinilai akan menghindari perubahan mendadak dan memilih langkah bertahap yang meminimalkan risiko gejolak pasar.
"Kami menilai ia akan lebih pragmatis daripada yang banyak diperkirakan,” tulis analis Evercore ISI dalam riset terbarunya. “Kami juga menilai ia akan berjanji tidak melakukan perubahan mendadak pada kebijakan neraca The Fed serta mendorong kesepakatan antara The Fed dan Departemen Keuangan untuk menyediakan kerangka kerja sama yang lebih erat,” lanjut riset tersebut.
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id






































