Menuju konten utama

Trump Tunjuk Kevin Warsh Jadi Kandidat Calon Ketua The Fed

Penunjukan Warsh menandai keinginan Trump untuk melakukan "perubahan rezim" di bank sentral AS dan menggantikan Jerome Powell.

Trump Tunjuk Kevin Warsh Jadi Kandidat Calon Ketua The Fed
Kevin Warsh, Fellow bidang Ekonomi di Hoover Institution dan dosen di Stanford Graduate School of Business, berbicara selama Konferensi Investasi Sohn di New York City, AS. REUTERS/Brendan Mcdermid
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menunjuk mantan Gubernur Federal Reserve, Kevin Warsh, sebagai Ketua Bank Sentral AS (The Fed) yang baru. Warsh akan menggantikan Jerome Powell yang masa jabatannya berakhir pada Mei mendatang.

Langkah ini menandai keinginan Trump untuk melakukan "perubahan rezim" di bank sentral paling berpengaruh di dunia tersebut.

Penunjukan Warsh memperkuat sinyal bahwa Gedung Putih ingin memiliki kendali lebih besar atas penetapan suku bunga acuan. Selama ini, Trump kerap mengkritik Powell karena dianggap terlalu lambat menurunkan biaya pinjaman. Warsh, yang dulunya dikenal ketat terhadap inflasi, kini justru vokal mendukung pemangkasan suku bunga sesuai keinginan Trump.

Melalui unggahan di media sosial, Trump memuji Warsh sebagai sosok yang tidak akan mengecewakan. "Saya yakin dia akan dikenang sebagai salah satu Ketua Fed terhebat," tulis Trump sebagaimana dikutip Reuters, Sabtu (31/1/2026).

Menariknya, sumber internal menyebut Trump tertarik pada Warsh karena profilnya yang dinilai sangat pas sebagai bankir sentral. "Kamu pria yang tampan," ujar Trump kepada Warsh dalam beberapa kesempatan.

Meski sudah ditunjuk, jalan Warsh menuju kursi nomor satu di The Fed diprediksi bakal terjal. Senator Thom Tillis dari Partai Republik menyatakan akan menolak semua calon pejabat The Fed selama Departemen Kehakiman masih melakukan penyelidikan kriminal terhadap Jerome Powell. Powell sendiri mengklaim penyelidikan itu hanyalah alat politik untuk menekan independensi bank sentral.

Warsh membawa visi perombakan besar di The Fed. Ia berencana melonggarkan regulasi perbankan dan memangkas neraca keuangan bank sentral secara signifikan. Selain itu, Warsh mendukung penggunaan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) untuk mendorong produktivitas guna menekan inflasi, alih-alih terus menaikkan suku bunga.

Pasar bereaksi hati-hati terhadap kabar ini. Bursa saham AS ditutup melemah tak lama setelah pengumuman, sementara mata uang Dolar AS menguat dan imbal hasil obligasi pemerintah menunjukkan pergerakan variatif. Investor global kini menunggu apakah Warsh benar-benar akan menghapus independensi The Fed dari pengaruh politik praktis.

Jalan Terjal Kevin Warsh ke Kursi Panas The Fed

Setelah penunjukan resmi oleh Trump, nasib Kevin Warsh kini berada di tangan Senat AS. Proses konfirmasi ini diprediksi bakal menjadi medan tempur politik yang sengit. Isu utamanya adalah kekhawatiran pasar global terhadap independensi The Fed yang selama ini dianggap sebagai "penjaga stabilitas" ekonomi dunia karena bebas dari campur tangan politik.

Hambatan justru muncul dari sekutu Trump sendiri. Senator Thom Tillis, anggota kunci Komite Perbankan Senat dari Partai Republik, menegaskan akan memblokir semua calon pejabat The Fed, termasuk Warsh.

Tillis tidak setuju dengan penyelidikan kriminal Departemen Kehakiman terhadap Jerome Powell yang sedang berlangsung. "Posisi saya tetap: Saya akan menolak siapa pun sampai penyelidikan terhadap Ketua Powell diselesaikan secara transparan," tegas Tillis melalui akun X miliknya.

Menanggapi ganjalan tersebut, Donald Trump tampak tidak ambil pusing. Mengingat Tillis akan segera mengakhiri masa jabatannya tahun ini.

Trump mengisyaratkan, ia akan menunggu hingga ada orang baru yang mengisi posisi Tillis di Senat. "Kalau dia tidak setuju, kita tinggal tunggu sampai ada orang baru masuk, kan?" ujar Trump ketus sambil menyebut Tillis sebagai "penghalang."

Di sisi lain, tidak semua senator menolak Warsh. Senator Bill Hagerty dan Tim Scott justru memuji Warsh sebagai sosok yang paling cocok untuk membawa The Fed kembali ke mandat aslinya.

Namun, drama tidak berhenti di situ. Jerome Powell dilaporkan mungkin akan melakukan manuver untuk tetap bertahan di jajaran gubernur The Fed meski masa jabatannya sebagai Ketua berakhir Mei nanti. Hal ini dianggap sebagai upaya terakhir Powell untuk melindungi bank sentral dari pengaruh politik Gedung Putih.

Selain Powell, Trump juga tengah berupaya mendepak Gubernur Fed lainnya, Lisa Cook, lewat jalur hukum. Jika Trump memenangkan pertempuran di Mahkamah Agung ini, sejarah akan mencatatnya sebagai presiden pertama Amerika Serikat yang berhasil memecat pembuat kebijakan bank sentral.

Kevin Warsh Siap Guncang Bank Sentral AS

Meski secara resmi bukan bagian dari staf Gedung Putih, Kevin Warsh dikenal sebagai orang kepercayaan Donald Trump. Sering terlihat sebagai tamu di kediaman pribadi Trump di Florida, Warsh kini dijuluki sebagai sosok "Ketua Bayangan" yang siap menjalankan agenda-agenda ekonomi Trump. Bahkan sebelum jabatan Jerome Powell resmi berakhir, pada pertengahan Mei mendatang.

Sebagai peneliti ekonomi dari Stanford University, Warsh memiliki pandangan yang sangat sejalan dengan Trump. Ia terang-terangan mendukung langkah presiden untuk memangkas suku bunga secara drastis.

Warsh mengkritik kebijakan The Fed saat ini yang dianggap meremehkan potensi kecerdasan buatan (AI). Menurutnya, AI bisa meningkatkan produktivitas dan menekan inflasi secara alami tanpa harus menahan suku bunga tinggi. Ia pun menyerukan adanya "perubahan rezim" atau perombakan besar-besaran di bank sentral, termasuk melonggarkan aturan perbankan yang selama ini dinilai terlalu kaku.

Ini bukan pertama kalinya Warsh berada di pusat kekuasaan moneter. Saat menjabat sebagai Gubernur The Fed (2006-2011), ia menjadi jembatan utama antara bank sentral dan para raksasa Wall Street selama krisis keuangan global 2008. Koneksi kuatnya dengan para investor besar menjadi modal utamanya dalam menavigasi kebijakan ekonomi AS ke depan.

Hingga saat ini, pasar masih menebak-nebak seberapa cepat pengaruh Warsh akan terasa. Setelah tiga kali pemotongan pada 2025, suku bunga acuan AS kini tertahan di level 3,50%-3,75%.

Mengingat The Fed baru saja memberikan sinyal untuk menahan suku bunga dalam waktu dekat, para pelaku pasar memprediksi tidak akan ada perubahan kebijakan hingga Juni mendatang—tepat saat pengganti Powell resmi memegang kendali penuh.

Baca juga artikel terkait THE FED atau tulisan lainnya dari Siti Fatimah

tirto.id - Insider
Reporter: Siti Fatimah
Penulis: Siti Fatimah
Editor: Andrian Pratama Taher