Imunoterapi Wujudkan Dunia Bebas Kanker

Penulis: Aditya Widya Putri - 17 Jun 2022 08:00 WIB
Dibaca Normal 3 menit
Percobaan imunoterapi teranyar pada awal Juni lalu diklaim berhasil menyembuhkan semua sampel pasien kanker rektum. Inikah awal dunia bebas kanker?
tirto.id - Kanker adalah salah satu penyakit mengerikan yang menjadi momok bagi banyak orang. Segala pikiran buruk pasti langsung menghantui ketika dokter memvonis kita terkena penyakit ini. Bahkan sebuah riset pada 2014 lalu menyebut lebih dari 60 persen responden menganggap mengidap kanker sama seperti divonis hukuman mati oleh pengadilan.

Situasi tersebut dapat dipahami mengingat, seperti dinyatakan dalam riset dari Sajib Chakraborty dan Taibur Rahman pada 2012 lalu, tidak ada obat yang cukup efektif untuk menyembuhkan penyakit ini secara total. Pengobatan untuk sebagian besar kanker masih jauh dari kenyataan, kata mereka.

Tapi ilmu pengetahuan baru saja membuka tabir kebuntuan pengobatan kanker dengan imunoterapi, satu dari sekian pengobatan kanker yang semakin populer dalam beberapa tahun terakhir.

Medium imunoterapi salah satunya adalah obat. Jadi cara ini sama seperti menyembuhkan penyakit pada umumnya.

Kabar positif tersebut datang dari sebuah studi terbatas di New York, Amerika Serikat yang dipublikasikan di New England Journal of Medicine pada 5 Juni 2022 lalu. Disebutkan bahwa semua sampel pasien kanker berhasil disembuhkan dengan obat imunoterapi.

“Kondisi 12 orang pasien dengan kanker rektum stadium lanjut berhasil dipulihkan. Hasilnya lebih bagus ketimbang melakukan kemoterapi standar dan radiasi,” tulis studi tersebut.


Pada kondisi normal, imun berfungsi melawan infeksi atau penyakit yang masuk ke tubuh. Namun sel kanker terlalu “lihai” karena mampu mengelabui, berubah, serta beradaptasi. Sistem kekebalan tubuh manusia ternyata tidak cukup kuat. Bahkan beberapa sel kanker tak terbedakan dengan sel normal sehingga imun tidak menyerangnya.

Di sinilah peran imunoterapi: ia mendorong kinerja sistem imun agar lebih efektif dalam melawan penyakit.

Imunoterapi dostarlimab bekerja dengan mengekspos sel kanker sehingga sistem kekebalan tubuh berhasil mengidentifikasi dan menghancurkan sel parasit itu.

Semua sampel memiliki sel kanker yang telah menyebar ke rektum (bagian akhir usus besar, dekat anus), beberapa ke kelenjar getah bening, serta mutasi genetik langka (MMRd).

Sekitar 5-10 persen penderita kanker rektum kekurangan enzim untuk memperbaiki kerusakan sel sehingga kurang responsif pada kemoterapi dan radiasi. Operasi pembedahan pun memiliki dampak buruk pada kerusakan saraf, infertilitas, disfungsi seksual, dan disfungsi usus.

Sementara dalam uji coba ini, beberapa gejala paling berat seperti rasa sakit luar biasa dan pendarahan berhasil teratasi.

“Pasien sejauh ini baru diamati selama 6 bulan hingga 2 tahun. Ukuran kualitas hidup atau seberapa lama efektivitas obat belum ditelisik lebih lanjut.”

Uji coba ini menggunakan obat imunoterapi berjenis dostarlimab yang didapat dari perusahaan farmasi yang berkantor pusat di London, Inggris, GlaxoSmithKline. Perusahaan ini juga menjadi sponsor dari penelitian tersebut.

Para pasien mendapat dostarlimab setiap tiga minggu selama enam bulan. Artinya, dalam rentang tersebut, mereka menerima delapan dosis. Harga per dosisnya mencapai 11 ribu dolar AS (Rp159 juta). Jika ditotal, maka setiap pasien menghabiskan 88 ribu dolar AS atau Rp1,3 miliar--belum termasuk biaya lain.


Sebelum peneliti melaporkan dostarlimab manjur untuk kanker rektum, imunoterapi sudah pernah memberikan hasil positif untuk kanker paru, kolon (usus besar), dan endometrium (menyerang bagian dalam rahim). Obat yang digunakan bukan dostarlimab, melainkan pembrolizumab.

Obat ini disimpulkan dapat memperpanjang hidup pasien kanker paru 2-4 bulan dibandingkan kemoterapi. Jadi, jika dengan kemoterapi pasien bisa bertahan 6-9 bulan, lewat imunoterapi pasien bisa bertahan 10-12 bulan.

Efek samping imunoterapi dengan pembrolizumab paling umum mencakup berkurangnya nafsu makan, kelelahan, mual, dan ruam kulit. Meski gejalanya hampir sama dengan kemoterapi, tapi percobaan klinis menunjukkan efek samping pembrolizumab lebih rendah.

Sudah Tersedia di Indonesia

Sebelum mencapai titik ini, sejarah mencatat upaya pertama manusia mengalahkan kanker adalah dengan membedah selnya pada 1809. Hampir seratus tahun kemudian, tepatnya pada 1896, diperkenalkanlah terapi radiasi atau radioterapi. Metode ini memanfaatkan radiasi dosis tinggi untuk membunuh sel kanker dan mengecilkan tumor (radiasi dosis rendah digunakan untuk rontgen).

Kemoterapi, pengobatan paling umum untuk kanker, mulai diperkenalkan menjadi tindakan medis di tahun 1940-an. Lalu, pada 1990-an, evolusi pengobatan sampai pada tindakan terapi target guna memblok sel kanker agar tidak berkembang.

Metode imunoterapi sendiri mulai diperkenalkan sebagai tata laksana medis teranyar untuk kanker sejak 2000-an. Penelitian terbatas dilakukan pada 2004-2006, kemudian dipasarkan tiga tahun kemudian.

Food and Drug Administration (FDA) atau Badan Pengawas Obat dan Makanan AS awalnya mencantumkan imunoterapi sebagai pengobatan lini kedua sejak Desember 2015. Artinya, imunoterapi baru boleh digunakan ketika pengobatan lini pertama--seperti kemoterapi dan radiasi--tak berbuah hasil.

Namun, saat ini, imunoterapi sudah bisa diakses sebagai pengobatan lini pertama di AS.


Infografik Kanker Hampir Bisa Disembuhkan
Infografik Kanker Hampir Bisa Disembuhkan. tirto.id/Sabit


Imunoterapi juga tersedia di Indonesia. Metode ini mulai diterapkan sejak Agustus 2016 dengan akses khusus Kementerian Kesehatan dan kini telah digunakan lebih luas. Pada Juni 2017, BPOM memberi izin edar pembrolizumab sebagai obat imunoterapi pertama yang tersedia di Indonesia untuk pengobatan kanker paru, menyusul kemudian atezolizumab.

Tentu perkembangan terbaru yang datang dari AS sana membawa kabar gembira ke seluruh dunia, termasuk Indonesia yang peta kankernya terus naik setiap tahun. Ia bisa menjadi landasan untuk mewujudkan dunia yang bebas kanker.

Tapi, selain belum bisa dijadikan pengobatan lini pertama, masalah biaya turut menjadi batu sandungan pengentasan kanker di Indonesia, negara yang memiliki kasus kanker terbanyak ke-23 di Asia.

Semoga nantinya BPJS Kesehatan tak lagi defisit dan bisa menanggung biaya perawatan kanker dengan imunoterapi.

Baca juga artikel terkait KANKER atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Rio Apinino

DarkLight