tirto.id - Mandiri Sekuritas mencatat adanya penurunan signifikan pada imbal hasil (yield) obligasi Indonesia, di mana untuk tenor 5 tahun turun hingga 134 basis poin (bps) dari posisi akhir Desember 2024 masih di level 7 persen kini menjadi 5,68 persen. Sedangkan, untuk obligasi tenor 10 tahun mengalami penurunan sebesar 81 bps, dari yang sebelumnya 7,1 persen menjadi 6,31 persen.
Penurunan imbal hasil ini praktis membuat investor yang mengoleksi surat utang mendapat untung besar setelah menjual asetnya.
“Jadi, kalau kita bicara total return, karena ada capital gain karena ada penurunan bond yield rata-rata return investasi di obligasi kita sekarang mencatatkan hampir 10 persen, sesuatu yang sangat positif di tengah kondisi uncertain (ketidakpastian) yang sangat tinggi,” ungkap Head of Fixed Income Research Mandiri Sekuritas, Handy Yunianto, dalam Mandiri Economic Outlook Q3 2025, secara daring, Kamis (28/8/2025).
Ada dua faktor penyebab turunnya imbal hasil obligasi Indonesia. Pertama, pelemahan mata uang Amerika Serikat dolar yang membuat investor mencari instrumen investasi lainnya sebagai lindung nilai. Pada kondisi ini, banyak investor yang menempatkan modalnya ke instrumen emas dan juga surat utang negara lain, salah satunya Indonesia.
“Dan ini kita bisa rasakan bagaimana emas mengalami kenaikan luar biasa dalam beberapa tahun terakhir dan kita juga melihat ada inflow (aliran modal) asing yang cukup masif di bond di tahun lalu dan tahun ini, yang mendorong kenapa terjadi penurunan (imbal hasil),” jelas Handy.
Kedua, adalah faktor dari sisi domestik yang didorong oleh keputusan Bank Indonesia (BI) untuk menurunkan suku bunga acuan hingga empat kali sejak awal tahun hingga Agustus 2025. Penurunan suku bunga acuan bank sentral ini pun tertransmisikan, khususnya kepada obligasi dengan tenor pendek.
“ini juga mendorong adanya pelonggaran liquidity dan ini semakin memberikan support buat pasar obligasi, tercermin dari adanya kenaikan dari sisi demand (permintaan). Nah, ini mungkin dua hal yang mendorong kenapa pasar kita masih sangat resilien dan solid di pasar obligasi,” tukas Handy.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Dwi Aditya Putra
Masuk tirto.id





































