tirto.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 305 poin atau 4,94 persen ke level 5.889 pada akhir perdagangan sesi I Rabu (3/6/2026). Bahkan, IHSG sempat menyentuh level terendah 5.841,996 atau turun 365,106 poin setara 5,88 persen dari posisi pembukaan di level 6.207,102. Menurut analisis Pilarmas Investindo Sekuritas, anjloknya bursa saham Indonesia ini tidak sejalan dengan penguatan bursa regional Asia.
“Bursa regional Asia menguat mengikuti kenaikan bursa Wall Street, di tengah ketidakpastian konflik di Timur Tengah yang terjadi kebuntuan negosiasi perdamaian Amerika Serikat (AS)-Iran dan ketegangan yang kembali meningkat di Timur Tengah,” tulis Pilarmas Investindo Sekuritas, dalam risetnya.
Di sisi lain, gerak saham di bursa regional Asia dipengaruhi pula oleh sikap pelaku pasar yang menilai bahwa prospek ekonomi Tiongkok menunjukkan PMI Komposit naik ke level tertinggi selama tiga bulan terakhir, di angka 54,0 pada Mei, dengan PMI jasa juga mencapai puncak di angka 54,4. Ini menandai pertumbuhan terkuat di sektor jasa sejak Februari, karena pesanan baru meningkat dengan laju tercepat dalam tiga bulan, sementara pesanan ekspor meningkat setelah sedikit penurunan dalam dua bulan sebelumnya.
“Meskipun, pertumbuhan penjualan luar negeri tetap lebih lemah dari pada permintaan domestik,” tambah analisis tersebut.
Sementara dari dalam negeri, merahnya indeks saham pada dasarnya sejalan dengan sejumlah sentimen pasar.
Inflasi bulan Mei memang terjaga di kisaran target Bank Indonesia dan neraca perdagangan April mengalami surplus. Namun demikian, kenaikan laju inflasi Mei dan juga menyempitnya neraca perdagangan tersebut praktis menekan daya beli dan juga ketahanan eksternal.
Kondisi ini pun mendorong melemahnya nilai rupiah terhadap dolar AS yang yang sudah di atas Rp17.900 per dolar AS.
“Sentimen lainnya penggeledahan kantor Badan Gizi Nasional (BGN) oleh Kejaksaan Agung secara yang merupakan mengelola untuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG),” tulis riset tersebut.
Pilarmas Investindo Sekuritas menilai, kondisi ini akan meningkatkan pandangan sensitif para pelaku pasar terhadap korupsi, hukum, dan bagimana tata kelola serta pertanggungjawab program MBG yang menggunakan dana besar dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pada akhirnya, kondisi ini dikhawatirkan akan berimplikasi pada peningkatan persepsi risko investasi di dalam negeri.
“Pada sesi pertama hari ini, saham-saham yang mengalami kenaikan terbesar MMIX, MSIN, PMUI, LABS, ICON. Sedangkan saham-saham yang mengalami penurunan terbesar PTRO, MORE, MDIA, IRSX, APIC. Kami merekomendasikan BUY dengan support dan resistance (di level) 1.600 – 1.800,” tulis Pilarmas Investindo Sekuritas.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id






































