Sejarah Indonesia

Idul Adha 1996: Kematian Tien Soeharto dan Duka Penguasa Orba

Oleh: Iswara N Raditya - 22 Agustus 2018
Dibaca Normal 4 menit
Siti Hartinah Soeharto meninggal dunia pada 28 April 1996, bertepatan dengan hari raya Idul Adha 1416 Hijriah.
tirto.id - “Kamu masih ingat kepada Siti Hartinah, teman sekelas adikmu, Sulardi, waktu di Wonogiri?” tanya Nyonya Prawiro kepada keponakannya, Soeharto, seperti dikisahkan Ira Tri Onggo dalam Falsafah Cinta Sejati Ibu Tien dan Pak Harto (2013).

Yang ditanya tertegun sesaat. Pemuda dari pelosok Yogyakarta itu ragu-ragu sebelum menjawab pertanyaan sang bibi.

“Tapi, apakah orangtuanya akan setuju? Saya orang kampung biasa. Dia orang ningrat,” ucap Soeharto.

“Keadaan sudah berubah,” tegas sang bibi meyakinkan.

Nyonya Prawiro kenal betul siapa orang tua Hartinah, Soemoharjomo dan Hatmati Hatmohoedojo, yang memang berdarah ningrat.

Gayung bersambut. Lamaran si pemuda dusun diterima. Tak perlu waktu lama, pernikahan pun dihelat pada 26 Desember 1947 di Surakarta.

Pasangan suami-istri ini saling mencintai kendati sempat menempuh jalan berliku, termasuk menjalani masa-masa awal berumahtangga dalam situasi darurat: menghadapi perang melawan Belanda. Soeharto adalah seorang tentara.


Tien, begitu Hartinah akrab disapa, akhirnya menikmati masa-masa paling bahagia sejak suaminya merengkuh puncak kejayaan sebagai orang paling berkuasa di negeri ini. Kemesraan pasangan ini pun seolah-olah tak pernah lapuk hingga keduanya beranjak menua.

Hingga di suatu pagi, Tien terkena serangan jantung sebelum mengembuskan napas terakhir pada 28 April 1996, tepat pada hari perayaan Idul Adha 1416 Hijriah. Soeharto limbung. Separuh jiwanya pergi.

Perjodohan dari Cinta Remaja

Raden Ajeng Siti Hartinah lahir di Surakarta, Jawa Tengah pada 23 Agustus 1923. Dikutip dari buku Pahlawan Nasional Hj. Fatimah Siti Hartinah Soeharto (1997) suntingan Abdul Gafur, Hartinah adalah anak kedua dari 11 bersaudara. Kedua orangtuanya berasal dari keluarga ningrat Jawa. Ibunya bahkan masih keturunan Mangkunegara III (hlm. 442).


Wonogiri, tepatnya di Wuryantoro, menjadi tempat yang tidak akan dilupakan Tien, juga Soeharto. Di kota perbukitan di sisi selatan Jawa Tengah inilah untuk pertama kalinya kedua anak manusia itu bertemu.

Soeharto kala itu pindah sekolah dari desanya di Kemusuk, Sedayu (kini termasuk wilayah Kabupaten Bantul, DIY) ke Wuryantoro, karena harus tinggal di rumah keluarga Prawirowiharjo, pamannya. Namun, belum genap setahun, Harto dijemput keluarganya dan pulang ke Kemusuk.

Setahun berselang, Soeharto kembali ke Wuryantoro untuk melanjutkan sekolah menengah. Di sekolah inilah ia melihat seorang adik kelas yang menurutnya berparas menarik dan membuat dirinya kepincut. Siapa lagi kalau bukan Siti Hartinah.

Barangkali memang jodoh bagi Soeharto. Tien dan keluarganya saat itu memang bermukim di Wuryantoro, mengikuti lokasi dinas sang ayah yang ditugaskan sebagai pejabat daerah di Wonogiri.

Menurut cerita adik tiri Soeharto, Probosutedjo, seperti dicatat Alberthiene Endah dalam Memoar Romantika Probosutedjo: Saya dan Mas Harto (2013), kakaknya sudah menyimpan rasa kepada Hartinah, meskipun tidak pernah diungkapkan. Soeharto tahu diri bahwa ada perbedaan status sosial yang dianggapnya tak sepadan (hlm. 119).

Cinta monyet sekaligus cinta pertama ini pun terlewat begitu saja. Hingga beberapa tahun kemudian, saat perang berkecamuk di Yogyakarta pada 1947, Soeharto yang waktu itu sudah berpangkat letnan kolonel kembali ditemui bibinya yang datang dari Wuryantoro.

“Harto, sekarang umurmu sudah 27 tahun,” ucap Nyonya Prawiro. “Sekalipun engkau bukan anakku sendiri, aku sudah mengasuhmu sejak ayahmu mempercayakan engkau kepada kami. Aku pikir, sebaiknya segera mencarikan istri untukmu.”


Nyonya Prawiro memang berinisiatif menjodohkan Soeharto dengan Hartinah. Harto yang sudah kadung tresno kepada Tien sejak masa remaja dulu akhirnya setuju, walau sempat berkelit karena tidak percaya diri.

Selanjutnya, terjadilah perjodohan hingga pernikahan yang ternyata berlangsung langgeng sehidup-semati.

Kesetiaan Istri Prajurit

Soeharto mengakui, perkawinannya dengan Hartinah tidak didahului dengan cinta-cintaan layaknya anak muda zaman sekarang. “Kami berpegang pada pepatah witing tresna jalaran saka kulina,” ungkapnya kepada ‎G. Dwipayana dan Ramadhan K.H. dalam autobiografi Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya (1989: 45).

Tidak mudah bagi Tien menjalani hidup sebagai seorang istri prajurit, dalam situasi perang pula. Ia kerap ditinggal sang suami bergerilya, bahkan hingga berpekan-pekan lamanya. Namun, di mata Probosutedjo, Tien adalah sosok istri yang setia dan sempurna bagi Soeharto.

“Wanita priyayi itu sangat ramah dan mumpuni sebagai seorang istri,” sebut Probosutedjo yang kerap menyapa kakak iparnya itu dengan panggilan Mbakyu Harto, seperti dicatat Alberthiene Endah (hlm. 122).

“Beberapa minggu sekali Mas Harto pulang dari medan tempur,” Probosutedjo melanjutkan, “Mbakyu Harto biasanya akan memasak istimewa jika suaminya kembali.”

Pada 23 Januari 1949, anak pertama mereka lahir. Saat kelahiran bayi perempuan yang diberi nama Siti Hardijanti Hastuti itu, seperti diungkap Suripto dalam Ibu Tien Soeharto: Ibu Negara jang Ramah Tamah (1971), Soeharto tengah bergerilya setelah Kota Yogyakarta diduduki Belanda (hlm. 40).


Seperti kata Probosutedjo, Tien memang istri yang sempurna bagi Soeharto. Ia adalah sosok pendamping yang selalu mendukung apapun yang dilakoni suami. Soeharto pun beberapa kali dibikin takjub oleh istrinya itu.

Pada 1950, misalnya, saat Soeharto bertugas di Makassar, Tien tiba-tiba datang dengan membawa putri mereka yang masih bayi. Harto tentu saja terkejut. Tien dengan cepat berkata bahwa ia bukan hanya mengunjungi suami, tapi juga mengemban tugas menyampaikan keluhan dari istri para tentara yang ditinggal bertugas. Keluhan terbesarnya adalah persoalan kesetiaan suami.

Tentang kesetiaan, pasangan Soeharto dan Hartinah tidak perlu diragukan lagi. “Kami, istri saya dan saya, memang sama-sama setia, saling mencintai, penuh pengertian, dan saling mempercayai,” tegas Soeharto dalam autobiografinya (hlm. 534).



Infografik Raden Ayu Siti Hartinah

Kuasa Sang Ibu Negara

Titik demi titik terpenting sejarah perjalanan negara ini dilalui bahtera rumah tangga Soeharto dan Tien. Hingga akhirnya, Soeharto mencapai posisi tertinggi setelah Orde Lama di bawah rezim Sukarno runtuh setelah peristiwa Gerakan 30 September 1965.

Soeharto naik takhta sebagai presiden, Hartinah pun bergelar ibu negara.

Hartinah adalah tulang rusuk Pak Harto sekaligus menjadi kaki ke mana pun sang penguasa pergi. Ia seringkali memberi masukan kepada suaminya dalam mengelola negara. Bahkan, dikutip dari buku Psikologi Prasangka Orang Indonesia (2006) karya Sarlito Wirawan Sarwono, pengaruh Tien terhadap Soeharto sangat kuat (hlm. 62).

Terwujudnya megaproyek Taman Mini Indonesia Indah (TMII)—yang banyak menuai protes—pada 1975 dan berlanjut dengan pembangunan Taman Buah Mekarsari merupakan bentuk kecintaan Soeharto kepada istrinya. Pembangunan itu juga menjadi bukti bahwa Tien memang punya pengaruh kuat terhadap sang presiden.

Ada lagi. Konon atas desakan Tien pula, seperti diungkap Kholid O. Santosa dalam Perjalanan Sang Jenderal Besar Soeharto (2008), Soeharto melarang poligami bagi pegawai negeri sipil dengan Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1983. Tien memang sangat menentang poligami, karena apapun alasannya, itu akan mengubah kebahagiaan keluarga (hlm. 198).


Kuasa ibu negara yang amat memengaruhi tindakan Soeharto diakui oleh Rais Abin, tokoh militer sekaligus diplomat Orde Baru. Menurutnya, Tien sama sekali tidak memberikan toleransi kepada pejabat pemerintah atau petinggi militer yang berselingkuh.

“Atas tekanan Ibu Tien, jenderal bintang empat pada masa Orde Baru pun bisa non-aktif bila tersangkut isu selingkuh,” sebut Rais Abin, dinukil dari Seri Buku Tempo edisi Sarwo Edhie dan Peristiwa 1965 (2013: 72).

Soeharto pun mendukung penuh kehendak sang istri karena baginya Hartinah adalah segala-galanya. “Hanya ada satu Nyonya Soeharto dan tidak ada lagi yang lainnya. Jika ada, akan timbul pemberontakan yang terbuka di dalam rumah tangga Soeharto,” ucapnya suatu kali.


Cinta Soeharto kepada istrinya memang tidak terbantahkan. Maka, ketika pagi itu, pada hari perayaan Idul Qurban 28 April 1996, Tien pergi untuk selama-lamanya, Soeharto tentu saja tenggelam dalam duka yang tak tertanggungkan.

Dua tahun kemudian, Soeharto lengser. Di tengah hiruk-pikuk politik, termasuk suara-suara yang mencaci-maki diri dan keluarganya, sang autokrat Orde Baru itu kerap menyepi ke tempat yang selalu mengingatkannya kepada mendiang istri terkasih.

“Saya rindu kepada Ibu, dan setiap saya merindukan Ibu, Taman Mini ini yang membuat kerinduan saya terobati.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Iswara N Raditya
(tirto.id - Humaniora)


Penulis: Iswara N Raditya
Editor: Ivan Aulia Ahsan