Menuju konten utama

IDAI Sumut Kirim 70 Dokter Anak ke Wilayah Terdampak Bencana

Banyak anak di lokasi terdampak bencana di Sumatra mengalami ISPA, dermatitis, diare, gastroenteritis, hingga infeksi kulit.

IDAI Sumut Kirim 70 Dokter Anak ke Wilayah Terdampak Bencana
Sejumlah anak-anak pengungsi korban bencana banjir bandang luapan sungai Peusangan mengikuti kegiatan kesehatan mental di posko pengungsian Desa Alue Kuta, Kecamatan Jangka, Bireuen, Aceh, Kamis (18/12/2025). Kegiatan yang dilakukan Dinas Sosial Provinsi Aceh dan Kabupaten Bireuen tersebut guna memberikan rasa aman dan nyaman kepada anak-anak korban bencana selama menempati tempat pengungsian. ANTARA FOTO/Irwansyah Putra/YU

tirto.id - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Sumatra Utara (Sumut) mengerahkan sebanyak 70 dokter spesialis anak untuk diterjunkan ke berbagai wilayah terdampak bencana banjir bandang dan longsor, mulai dari Medan, Langkat, hingga Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang,

Wakil Ketua IDAI Sumatra Utara sekaligus Koordinator Penanggulangan Bencana IDAI Sumut, dr. Eka Airlangga, mengatakan langkah ini dilakukan untuk memberikan layanan medis darurat kepada ribuan anak yang mengalami dampak langsung bencana.

“Total ada 70 spesialis anak yang bergabung dalam operasi pengungsian ini, dari Medan hingga Kuala Simpang,” kata Eka yang hadir secara virtual dalam acara Seminar Media Ikatan Dokter Anak Indonesia yang diselenggarakan di Gedung IDAI, Jakarta Pusat, Senin (22/12/2025).

Eka pun menjelaskan bahwa pengerahan tim besar ini dilakukan setelah melihat skala kerusakan dan tingginya jumlah korban di perbatasan Sumatra Utara hingga Aceh.

“Aceh Tamiang merupakan daerah yang paling terdampak. Fasilitas kesehatan seperti 15 puskesmas dan 1 Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) hampir semuanya tidak berfungsi sehingga kami memutuskan untuk fokus memperkuat layanan di sana,” ujarnya.

Sejak akhir November hingga awal Desember, kata Eka, tim IDAI telah melayani sekitar 4.500 anak di berbagai lokasi terdampak. Pelayanan dilakukan di Medan, 10 area di Langkat, Bukit Tengah dan Sibolga, hingga kawasan-kawasan terisolasi seperti Tapanuli yang hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki atau menggunakan helikopter.

Di Aceh Tamiang, layanan diberikan di Semandang, Paya Bedi, kawasan sekitar RSUD, Ranturung, dan Bintang Purung.

“Rata-rata layanan terbesar berada di Aceh Tamiang. Begitu akses terbuka pada 3 Desember, kami langsung masuk ke wilayah tersebut pada 4 Desember,” kata Eka.

Eka menyebutkan salah satu temuan terbesar tim di lapangan adalah dominasi kasus ISPA usai bencana, diikuti dermatitis, diare, gastroenteritis, hingga infeksi kulit. Selain anak, tim juga menangani caregiver, ibu hamil, dan pengasuh yang mengalami hipertensi, gangguan pencernaan, arthritis, hingga masalah psikologis akibat bencana.

Selain layanan medis, IDAI membawa berbagai logistik untuk kebutuhan anak dan pengasuh, mulai dari 900 botol minyak kayu putih, 1.600 popok bayi, 4.100 snack anak, 547 pembalut wanita, 1.610 daster, hingga ribuan pakaian layak pakai yang disumbangkan masyarakat.

Baca juga artikel terkait BANJIR HARI INI atau tulisan lainnya dari Nabila Ramadhanty

tirto.id - Flash News
Reporter: Nabila Ramadhanty
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Bayu Septianto