tirto.id - Pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, menolak rencana pertemuan pemerintah Lebanon dan Israel yang dijadwalkan berlangsung di Amerika Serikat (AS), Selasa (14/4/2026) waktu setempat. Pertemuan itu rencananya akan dihadiri Duta Besar Lebanon dan Israel untuk AS membahas penyelenggaraan negosiasi langsung antara kedua negara.
Melansir Aljazeera, sebagaimana dikutip Selasa (14/4/2026), Qaseem menyebut upaya negosiasi itu akan sia-sia karena pasukan Israel mengintensifkan serangan mereka ke Lebanon. Pembicaraan itu juga adalah taktik untuk menekan Hizbullah agar melucuti senjata mereka.
"Israel dengan jelas menyatakan bahwa tujuan negosiasi ini adalah untuk melucuti Hizbullah, seperti yang berulang kali dinyatakan oleh [Perdana Menteri Israel Benjamin] Netanyahu. Jadi, bagaimana Anda bisa pergi ke negosiasi yang tujuannya sudah jelas?” Kata Qassem.
Dia menyebut Hizbullah tak akan lelah dan menyerah dalam hal ini.
Sebagai informasi, Israel mengintensifkan perangnya terhadap Lebanon pada awal Maret 2026 setelah Hizbullah sempat meluncurkan serangan roket. Serangan yang dilakukan Israel terus terjadi setiap hari meskipun Israel dan kelompok yang didukung Iran itu melakukan gencatan senjata sejak November 2024.
Hizbullah mengatakan serangannya pada 2 Maret adalah pembalasan atas pembunuhan AS dan Israel terhadap Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.
Sejak itu, pemboman Israel ke Lebanon dan invasi darat di selatan telah menewaskan sedikitnya 2.055 orang, termasuk 165 anak-anak dan 87 pekerja medis. Lebih dari 6.500 lainnya telah terluka, sementara sekitar 1,2 juta telah dipaksa mengungsi dari rumah mereka.
Penulis: Rahma Dwi Safitri
Editor: Andrian Pratama Taher
Masuk tirto.id


































