Menuju konten utama

Hingga 2035, Pemerintah Fokus Kembangkan Industri Pesawat

Mulai tahun depan hingga tahun 2035, Pemerintah akan fokus mengembangkan industri tanah air. Dari sektor industri kedirgantaraan, pemerintah akan fokus kembangkan komponen dan perawatan pesawat terbang.

Hingga 2035, Pemerintah Fokus Kembangkan Industri Pesawat
Senegal Air Force Chief of Staff General Birame Diop (kiri), Deputi General Director A.D Trade Belgia Max Abitbul (kedua kiri), Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto (kedua kanan) dan Dirut PTDI Budi Santoso (kanan) berbincang disela serah terima t Satu Unit Pesawat CN235-220M Multi Purpose Aircraft Untuk Angkatan Udara Senegal di Hanggar PT Dirgantara Indonesia, Bandung, Jawa Barat, Selasa (27/12). Pesawat multihop capability fuel tank berteknologi sistem avionik terbaru modern dan full glass cockpit yang dibeli A.D Trade Belgia untuk AU Senegal yang diterbangkan dari Bandung menuju Dakar Senegal ini merupakan pesawat multiguna yang difungsikan untuk evakuasi medis, angkut penerjun, kargo, sipil maupun VIP dan VVIP. ANTARA FOTO/Fahrul Jayadiputra.

tirto.id - Mulai tahun depan hingga tahun 2035, Pemerintah akan fokus mengembangkan industri tanah air. Dari sektor industri kedirgantaraan, pemerintah akan fokus kembangkan komponen dan perawatan pesawat terbang. Fokus tersebut disebut-sebut berdasarkan pada Peraturan Pemerintah Nomor 14 tahun 2015 tentang Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN) yang menetapkan industri alat transportasi merupakan salah satu industri andalan.

“Fokus pengembangan industri hingga tahun 2035, untuk sektor industri kedirgantaraan adalah pengembangan pesawat, komponen pesawat, dan perawatan pesawat,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto lewat keterangan pers di Jakarta, Selasa, (27/12/2016) seperti dikutip dari Antara.

Airlangga menyampaikan untuk mendukung tiga sektor tersebut, Pemerintah mengembangkan tiga program mengembangkan kebijakan penggunaan produk dalam negeri dan kebijakan pengembangan kawasan industri, serta kebijakan pengembangan komponen pendukung seperti pengembangan SDM termasuk pengembangan desain dan engineering serta kebijakan regulasi yang mendukung.

Ia menambahkan Indonesia bangga memiliki PT Dirgantara Indonesia yang merupakan satu-satunya industri pesawat terbang di Asia Tenggara.

“Sejak tahun 1976 hingga saat ini, lebih dari 180 pesawat terbang yang telah dibuat dan diserahkan kepada pengguna. Pesawat-pesawat tersebut terdiri dari Pesawat CN 235, CN 295 dan NC 212,” sebutnya.

Menurut Airlangga, pesawat NC 212 merupakan pesawat yang paling banyak diproduksi PT DI, sedangkan dalam kurunw aktu yang sama, PT DI telah mengirim lebih dari 200 helikopter ke luar negeri.

“Kami berharap di tahun selanjutnya, PT. DI dapat meningkatkan jumlah produk pesawat dan helikopter yang di delivery baik di dalam maupun luar negeri sekaligus dapat meningkatkan diversifikasi produk sesuai dengan kebutuhan pasar,” tuturnya.

Saat ini, PT DI sedang mengembangkan pesawat N219 dengan jumlah penumpang 19 orang yang diharapkan mendukung konektivitas antar wilayah di Indonesia yang sebagian besar terdiri dari kepulauan. Pesawat N219 merupakan pesawat perintis yang didesain sesuai dengan karakteristik wilayah Indonesia, antara lain mampu mendarat di ketinggian tertentu, seperti di wilayah Papua.

“Pemerintah mengharapkan pesawat N219 dapat terbang perdana pada tahun 2017 nanti,” kata Airlangga.

Selanjutnya, Pemerintah sedang merencanakan pengembangan jenis pesawat lain, yakni pesawat N245. Pesawat N245 adalah pesawat propeller dengan jumlah penumpang sekitar 50 orang. Pesawat ini cocok sebagai penghubung kota-kota kecil di wilayah Indonesia.

Sementara itu, seperti telah dilaporkan sebelumnya, dari sektor industri pendukung, pada 2015, Kemenperin mengukuhkan Asosiasi Industri Komponen pesawat Udara, Indonesia Aircraft and Component Manufacture Association (INACOM) yang anggotanya terdiri dari berbagai industri di bidang metal, karet, plastik, Polyurethane, serta lembaga riset, dan konsultan.

INACOM diharapkan mampu mendukung penyediaan komponen untuk pesawat produksi dalam negeri. Selain itu, INACOM juga diharapkan mampu menjadi bagian penting dalam rantai pasok global dalam industri pesawat di dunia.

Saat ini INACOM turut serta dalam pengembangan beberapa komponen terutama pada program pesawat N219. Diharapkan, saat terbang perdana pesawat N219 memiliki TKDN sebesar 40 persen dan selanjutnya dapat ditingkatkan menjadi 60 persen pada tahun 2019.

Di sektor jasa perawatan, lanjut Airlangga, Kemenperin juga memfasilitasi berdirinya Asosiasi Jasa Perbaikan dan Perawatan Pesawat (Maintenance, Repair dan Overhaul/MRO), yaitu Indonesia Aircraft Maintenance Services Association (IAMSA) yang saat ini beranggotakan lebih dari 35 industri MRO.

Untuk mendukung peningkatan kapasitas MRO sebagai usaha dalam penyerapan pasar dalam negeri, saat ini telah diwacanakan beberapa pengembangan Aerospace Park di Indonesia diantaranya di Jawa Barat dan Bintan. “Kami berharap kedua Asosiasi di bidang kedirgantaraan tersebut dapat menjadi bagian penting dalam mendorong pengembangan industri kedirgantaraan nasional,” tegasnya.

Sebagai pelengkap dalam penguatan ekosistem di bidang industri kedirgantaraan, baru-baru ini telah dikukuhkan Pusat Desain dan Engineering Pesawat Udara atau Indonesia Aircraft Engineering Center (IAEC) di Pusat Teknologi Penerbangan LAPAN. IAEC diharapkan mampu mengisi sektor desain dan engineering dalam pengembangan pesawat maupun komponen sehingga dapat memperbaiki kualitas produk pesawat dan komponen di masa depan.

Baca juga artikel terkait PESAWAT atau tulisan lainnya dari Mutaya Saroh

tirto.id - Bisnis
Reporter: Mutaya Saroh
Penulis: Mutaya Saroh
Editor: Mutaya Saroh