Menuju konten utama

Hikmah Obrolan Ringan yang Tak Terduga

Tak perlu malu-malu mengajak orang yang belum kamu kenal baik untuk berbasa-basi. Siapa tahu chit-chat kali ini akan membawamu pada peluang baru!

Hikmah Obrolan Ringan yang Tak Terduga
Header Diajeng Basa-basi. tirto.id/Quita

tirto.id - Bagi beberapa orang, memilih untuk tidak hadir dalam pertemuan sosial seperti pesta atau reuni adalah sebuah keputusan yang tepat.

Tebak alasannya yang paling umum?

Yup, sesederhana karena malas berbasi-basi. Apa kamu termasuk yang berpikiran demikian?

Ada berbagai alasan mengapa beberapa orang enggan basa-basi. Salah satunya karena pandangan bahwa basa-basi cuma buang-buang waktu dan justru menghambat percakapan bermakna.

Ada juga yang ogah basa-basi karena merasa kurang cakap untuk menciptakan obrolan ringan dengan orang lain.

Obrolan ringan, basi-basi, atau dalam bahasa Inggris disebut small talk mengacu pada percakapan informal dan sopan yang acap kali berfokus pada topik tidak penting atau sepele.

Kamus Cambridge kelak menambahkan definisi obrolan ringan sebagai percakapan yang kerap terjadi antara orang-orang yang tak saling mengenal baik, atau pendeknya, between strangers.

Meski terkesan membahas soal remeh-temeh, small talk sebenarnya cukup relevan buat keseharian kita, apalagi dalam konteks budaya kolektif masyarakat Indonesia yang kuat.

Tak heran jika kemudian ada pandangan tersendiri yang disematkan pada mereka yang kurang lihai berbasa-basi.

Ardi Primasari, M.Psi., Psikolog dari dari Prima Consultant menuturkan, individu demikian cenderung mendapatkan penilaian sosial sebagai orang yang kaku, sombong. Padahal realitanya tidak begitu.

Lalu, seberapa pentingkah aktivitas berbasa-basi? Buat kita sendiri, apa keuntungannya berbasa-basi?

Soal itu, Ardi menyampaikan bahwa obrolan ringan ibarat pintu gerbang untuk membuka relasi atau berkomunikasi satu sama lain.

Bukan hanya dalam ranah informal, beberapa area pekerjaan memerlukan kemampuan untuk melakukan obrolan ringan. Sebut saja sales atau marketing.

Header Diajeng Basa-basi

Ilustrasi Basa-basi. FOTO/iStockphoto

Melalui obrolan ringan, kamu dapat memperoleh informasi ‘gratis’ dari orang-orang yang kamu ajak ngobrol.

Bayangkan skenario ini. Kamu sedang berada di kereta dan melihat seseorang memakai kaos yang unik. Coba iseng tanyakan di mana dia membelinya. Kalau lancar dan berlanjut, obrolan ringan kalian bisa mengarah pada pembicaraan lebih serius.

“Itu bisa membawa keuntungan tersendiri bagi seseorang yang mungkin tidak dibayangkan atau duga sebelumnya,” papar Ardi.

Terlebih dari itu, menurut sebuah studi, obrolan ringan ternyata berkaitan dengan kesehatan mental seseorang.

Gillian Sandstrom, pengajar ilmu psychology of kindness—psikologi kebaikan—di University of Sussex, Inggris melakukan beberapa penelitian tentang manfaat interaksi santai dengan orang asing maupun kenalan.

Riset Sandstrom menunjukkan, interaksi singkat dapat meningkatkan kesehatan dan kebahagiaan, suasana hati, energi, dan kesejahteraan secara keseluruhan seseorang. Obrolan santai juga dapat mendorong pembelajaran, memperluas pandangan tentang dunia, dan memperkuat rasa memiliki.

Studi Sandstrom juga menemukan bahwa orang memandang interaksi sosial yang minim seperti senyuman, pujian, atau obrolan singkat sebagai tindakan kebaikan.

Interaksi spontan bahkan dapat menginspirasimu. Melalui percakapan random, bukan tidak mungkin kamu dapat menemukan ide kreatif atau inovasi.

Sayangnya, kemampuan untuk melakukan obrolan ringan ini semakin minim dimiliki. Why? Sesederhana karena kita kian bergantung pada teknologi untuk berkomunikasi.

Pada hari ini kita dengan mudah melakukan berbagai aktivitas sendiri (self provide) baik itu melalui aplikasi maupun layanan mandiri (self service).

“Ketika kita terbiasa melakukan apa-apa sendiri, kita cenderung menjadi individualistik,” kata Ardi.

Keterampilan dalam menafsirkan emosi pun menjadi berkurang. Akibatnya, alih-alih mencoba untuk berinteraksi, kita cenderung memilih untuk menghindar.

Situasi tersebut diperburuk dengan pandemi Covid-19, ketika terjadi pembatasan interaksi dan menjaga jarak dengan orang-orang, juga terbatasnya acara-acara sosial seperti pertandingan olahraga atau konser musik.

Generasi muda disebut sebagai generasi yang harus berjuang keras dengan seni untuk berbasi-basi ini.

Mahasiswa di jurusan bisnis Michigan State Universy di Amerika Serikat sampai harus mengikuti kuliah chit-chat—pelajaran tentang cara melakukan obrolan ringan. Pasalnya, mereka dipandang sudah kehilangan keterampilan sosial selama aturan pembatasan dan tak tahu lagi caranya memulai percakapan tatap muka.

Menurut pihak pengajar, komunikasi interpersonal tidak lagi bersifat intuitif sehingga mereka perlu membuat panduan tentang bagaimana berperilaku di acara-acara networking.

Di balik itu, masih ada secercah harapan untuk mengatasi kecanggungan dalam memulai obrolan ringan. Salah satunya dengan mengetahui topik-topik yang berpotensi menjadi bahan obrolan.

Untuk memulai, saran dari Ardi adalah mengajukan pertanyaan umum dan sederhana.

Seperti menanyakan apakah jalanan macet, naik apa untuk menuju ke tempat tujuan, kehujanan atau tidak.

Contoh topik umum lain yang berpotensi menjadi bahan obrolan adalah olahraga, hiburan dan seni, makanan, atau cerita soal liburan.

Header Diajeng Basa-basi

Ilustrasi Basa-basi. FOTO/iStockphoto

Namun jangan sampai lupa pada rambu-rambu, ya! Hindari topik yang sensitif dan personal! Sebagaimana disampaikan Ardi, misalnya yang berkaitan dengan status: apakah sudah menikah, berapa umurnya, apakah sudah punya anak, bekerja di mana.

Memang betul, di Indonesia, pertanyaan demikian lumrah diajukan. Padahal, penting kita sadari bahwa tak semua orang mampu atau berkenan menjawabnya.

Prinsip lain saat melakukan obrolan ringan adalah mengetahui kapan harus memulai. Jangan kemudian mencoba melakukan obrolan di tengah situasi genting.

Lalu, anggaplah dirimu seperti bicara dengan teman sehingga vibe-nya lebih santai, alami, dan tidak terkesan seperti terpaksa. Lakukan sambil tersenyum dengan nada bicara ramah dan gesture terbuka.

“Jika melakukannya dengan alami kita bisa mendapatkan hasil kembali dari obrolan itu, seperti rasa bahagia, terberkahi dan rasa bahwa kita tidak sendirian di dunia ini,” kata Ardi.

Jangan lupa juga untuk memberi jeda saat mengobrol dan durasinya tidak berlebihan. Menurut Ardi, asumsikan waktunya kurang dari 15 menit.

“Jangan ngobrol terus, beri jeda. Jangan sampai obrolan ringan menjadi pengalaman yang tidak menyenangkan bagi kita atau partner yang kita ajak ngobrol,” tambahnya lagi.

Memang, semua tidak ada yang mudah pada awalnya. But it’s always a good thing to try. Siapa tahu chit-chat kali ini akan membawamu pada hal-hal yang tak terduga.

Selamat mencoba, ya!

Baca juga artikel terkait LYFE atau tulisan lainnya dari MN Yunita

tirto.id - Diajeng
Kontributor: MN Yunita
Penulis: MN Yunita
Editor: Lilin Rosa Santi & Sekar Kinasih