tirto.id - Gajah Jawa (Elephas maximus sondaicus) adalah subspesies yang baru diusulkan oleh Paules Edward Pieris Deraniyagala pada 1953. Ia mengira subspesies endemik mamalia darat terbesar di bumi itu memang ada, berlandaskan pada pengamatannya terhadap relief di Candi Borobudur dan Prambanan yang menunjukkan ilustrasi identik.
Padahal, menurut riwayat arkeologi, fosil termuda yang ditemukan di Pulau Jawa ditemukan di endapan pleistosen, sekitar 2,6 juta hingga 11.700 tahun silam. Sementara itu, Candi Borobudur, oleh Peter Cirtek, disebut sebagai candi bercorak Buddha yang baru dibangun pada wangsa Dinasti Syailendra, sekitar 770 M.
Penamaan subspesies baru untuk Gajah Jawa itu mirip dengan pola penelitian Deraniyagala untukElephas maximus dari Cina. Identifikasinya pada artefak patung perunggu antik yang disimpan di Field Museum, Chicago, mengantarkannya pada kesimpulan mentah yang menyatakan bahwa pernah ada gajah endemik asal Negeri Tirai Bambu. Namun, lempengan-lempengan yang mengguratkan reproduksi fotografi dan ilustrasi perilaku gajah di Cina sebenarnya tidak serta merta dapat memvalidasi eksistensi spesies tersebut.
W. Dammerman, dalam On Prehistoric Mammals from Sampoeng Cave, Central Java (1932: 482), menyebut bahwa fosil yang disebut sebagai "Gajah Jawa" itu terungkap persis sama dengan genus yang berkembang di India dan Sumatra. Dari subspesies itu, hanya dua geraham gajah dewasa—sebagian patah—yang ditemukan persis dengan geraham gajah Sumatra modern (Elephas maximus sumatranus).
Kebuntuan tersebut pernah hampir menemukan jalan keluar berkat penemuan fosil gajah di Borneo pada 2003. Kompas menyiarkan, fosil gajah kecil (pygmy), yang dikonservasi Sultan Sulu (kini masuk Filipina) beberapa abad silam, disebut merupakan ras Gajah jawa terakhir. Gajah pygmy disebut punah sejak 1800-an.
Hasil temuan tes DNA oleh peneliti Columbia University dan World Wide Fund for Nature (WWF) menyatakan, gajah pygmy di Borneo secara genetika berbeda dengan subspesies gajah Sumatra atau Asia lainnya. Akan tetapi, kebenaran serta hubungan antara gajah pygmy dan subspesies Gajah jawa masih dugaan, belum menemukan titik terang.
Lebih dari itu, pertanyaan soal kapan Gajah Jawa punah, belum bisa terjawab sampai hari ini.
Gajah dalam Literatur Kebudayaan Kerajaan di Jawa
Terdapat berbagai memoar dan ilustrasi yang menyatakan bahwa Gajah Jawa adalah hewan agung nan adiluhung bagi kerajaan-kerajaan di Nusantara.
Eksistensi gajah pernah terinformasi dalam ilustrasi peta-peta dunia kuno. Salah satunya ialah peta yang dibuat oleh Urbano Monte pada 1578, yang kemudian direvisi lebih rinci dalam “Peta Jawa” gubahan Henri Chatelain (1718).
Menyitir catatan para penjelajah Tiongkok, Dammerman menulis bahwa gajah adalah kendaraan tunggangan raja-raja Jawa semasa periode Hindu-Buddha. Namun boleh jadi, gajah-gajah tunggangan raja diimpor dari India, bersamaan dengan kronik ekspansi bejana-bejana perunggu ke Nusantara. Lalu, gajah-gajah itu dikembangkan, diperanak, dan menjadi primadona kebanggaan raja-raja di Jawa pada masa berikutnya.
“Gajah hidup dan bahkan badak terkadang dipersembahkan kepada kaisar-kaisar Tiongkok sebagai hadiah upeti,” tulis Dammerman (hlm. 480).
Di antara hadiah upeti dari raja Jawa, terdapat pula ekspor gading yang disebut “kara”. Oleh Dammerman ditekankan, persepsi eksportir demikian sering dianggap keliru, terlebih produk yang dikirim suatu negara tertentu sering kali dianggap berasal pula dari wilayah itu. Perkenaan yang dimaksud itu boleh jadi berkaitan dengan relasi perniagaan antara Ratu Shima dari Kerajaan Kalingga dan utusan Dinasti Tang.
Kompilasi W. P. Groeneveldt, dalam buku Notes on the Malay Archipelago and Malacca Compiled from Sources (2018: 6), menyebut bahwa dekorasi balai-balai penyambut kunjungan Dinasti Tang ke Kalingga dibikin dari gading gajah.
Semasa Majapahit, gajah sudah serupa pusaka berharga sebagaimana diabadikan dalam Kakawin Negarakertagama.
“Demikianlah Sri Narapati yang didewakan di Kerajaan Majapahit itu, nampak jelas bagaikan bulan di musim gugur menyebabkan rasa bahagia di seluruh dunia, seperti bunga padma di tengah orang jahat, seperti bunga kumuda di antara orang bijak luhur, abdi, juga harta, kereta, gajah, serta kuda begitu banyaknya bagaikan lautan,” demikian tertulis di pupuh 83.
Tom Pires dalam Suma Oriental (2018: 218—219) mengisahkan, selain mengendarai kereta yang ditarik lembu, hulubalang Majapahit juga menunggangi gajah. Saat menghadiri acara kerajaan, para permaisuri raja menunggangi gajah yang dirias vair (sebangsa bulu-buluan) serta dikawal 30 abdi perempuan yang berjalan telanjang kaki.
Dalam literatur sastra, simbolisme gajah memiliki prestise sosial yang tinggi. Gajah alias hastin dalam Wiracarita Mahabharata mewakili penamaan Hastinapura, yang berarti pura gajah. Penamaan kadipaten di Hastinapura juga mengambil istilah gajah, seperti Kadipaten Gajah Oya dan Pakuwon Watu Gajah.

Tak hanya itu, gajah merupakan perwujudan Ganesha, dewa cerdas perlambang ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan.
Heru S. Sudjarwo lewat catatan bertajuk Rupa & Karakter Wayang Purwa (2010: 110—111) menulis, Ganesha adalah dewa berbadan manusia tetapi berkepala gajah. Dalam literatur India, ia merupakan putra Siwa, trinitas Hindu yang menyimbolkan kerusakan. Adapun di kisah pewayangan Jawa, Ganesha merupakan putra pasangan Batara Guru alias Sang Hyang Manikmaya dan Dewi Uma. Ganesha lahir “berbeda” dari kebanyakan dewa lain, terutama karena pengaruh aji-aji Batara Narada, dewa penjaga nirwana.
Dalam Krisdisk: Chapter I (2007: 22), Karsten Sejr Jensen menyatakan, bilah keris Jawa terinspirasi dari sosok tlale atau belalai Ganesha. Namun saat periode Mataram Islam, ornamen di gandik keris diubah menjadi kembang kacang, bentuk akomodasi akulturasi Hindu-Islam. Satu-satunya nama ornamen rincikan 'bagian-bagian'keris yang berkenaan dengan Hindu dan masih dipertahankan adalah lambe atau bibir gajah.
Tokoh lain dalam pewayangan Jawa yang berkaitan dengan gajah alias liman adalah Garjendramuka. Mirip seperti Ganesha, ujung kaki sampai lehernya berwujud manusia, tetapi kepalanya merupa gajah. Tokoh ini dikisahkan bertubuh besar dan kuat, tetapi berwatak congkak dan arogan.
Selain itu, gajah menjadi tunggangan kesayangan Batara Indra. Dinamakan Erawana di Jawa; Airawata di India. Nama Gajah Airawata juga termuat sebagai transportasi Raja Purnawarman dari Tarumanegara yang diabadikan lewat Prasasti Kebon Kopi I, yang beraksara Pallawa dan berbahasa Sanskerta. Prasasti tersebut memuat manuskrip yang mencantumkan babad telapak kaki Gajah Airawata.
“Di sini tampak sepasang tapak kaki … yang seperti [tapak kaki] Airawata, gajah penguasa Taruma [yang] agung dalam … dan … kejayaan,” demikian terjemahan bebasnya.
Penaklukan Tuban oleh Mataram pada 1619 terbilang cukup spesial. Penggawa kesultanan memboyong 10 gajah sebagai harta rampasan perang, yang kemudian dipajang di kandang samping kediaman Sultan Agung Hanyakrakusuma. Peristiwa itu disaksikan oleh seorang Belanda yang melawat ke Tuban dan lantas direkam oleh H. J. De Graff dalam Puncak Kekuasaan Mataram (2020: 79).
Perlambang Adidaya Penguasa: Dulu hingga Kini
Kerajaan Majapahit percaya, makin banyak gajah yang dimiliki oleh seorang raja atau penggawa kerajaan, makin tinggi pula pengaruh dan kebesarannya.
Di masa itu, gajah tidak hanya menjadi perlambang kemewahan, tetapi juga adidaya militer. Gajah terbukti tangguh sebagai mesin perang yang ditakuti lawan. Di medan perang, seekor gajah terlatih mampu memorak-porandakan pasukan infanteri maupun kavaleri. Salah satu lukisan di Pura Pakualaman, Yogyakarta, menggambarkan parade prajurit Perang Jawa yang menaiki gajah sebagai kendaraan perang di garda terdepan.

Dalam persona lain, gajah juga bisa menunjukkan geliat karismatik dalam upacara dan perayaan keagamaan. Gajah adalah simbol status dan kekuasaan yang tak jauh dari lingkungan pembesar kerajaan.
Kekuatan dan fisiknya yang tangguh makin melegitimasi kekuasaan raja-raja di Jawa. Karena itu, gajah bukan hanya dinilai sebagai hewan istimewa, melainkan juga pusaka yang adiluhung.
Di masa modern, gajah termanifestasi dalam lambang-lambang kebesaran negara atau organisasi. Kawanan gajah yang hidup berkelompok menyimbolkan loyalitas dan solidaritas, dengan ikatan sosial kuat antaranggota.
Negara Siam (Thailand) berjuluk Gajah Putih, dan memilihnya (chang) sebagai hewan nasional negaranya. Gajah putih dalam tradisi Buddha Thailand begitu dihormati, sebab telah menghiasi lambang bendera Siam sampai awal 1900-an.
Beberapa partai politik di luar negeri, seperti Partai Republik di AS, Bahujan Samaj Party di India, United National Party di Sri Lanka, dan New Patriotic Party di Ghana, menggunakan gajah sebagai lambang kebesaran partai mereka.
Terbaru, Partai Solidaritas Indonesia mengganti logo lama bunga mawar dengan gajah berbadan hitam, berleher putih, dan berkepala merah. Logo itu baru itu dirilis secara resmi oleh PSI dalam kongres di Solo 19-20 Juli 2025.
Penulis: Abi Mu'ammar Dzikri
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id

































