Menuju konten utama

Hashim Klaim Rusia akan Suplai Minyak 150 Juta Barel Selama 2026

Kesepakatan itu diklaim terjalin usai Presiden Prabowo Subianto, menemui Presiden Rusia, Vladimir Putin di Moskow.

Hashim Klaim Rusia akan Suplai Minyak 150 Juta Barel Selama 2026
Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo menyampaikan sambutannya pada Peluncuran Pasar Renewable Energy Certificate dan Sinergi Ekosistem Pasar Derivatif di Jakarta, Rabu (9/7/2025). ICDX bersama Bank Indonesia, OJK, dan Bappebti meluncurkan Pasar Renewable Energy Certificate dan Sinergi Ekosistem Pasar Derivatif untuk mengimplementasikan Undang-Undang tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU PPSK), serta mengembangkan pasar keuangan di Indonesia. ANTARA FOTO/Reno Esnir/app/tom.

tirto.id - Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi Hashim Djojohadikusumo, mengklaim Rusia bakal menyuplai minyak hingga 150 juta barel selama 2026. Kesepakatan itu diklaim terjalin usai Presiden Prabowo Subianto, menemui Presiden Rusia, Vladimir Putin, beberapa waktu lalu.

Menurut Hashim, dengan adanya kesepakatan tersebut, kebutuhan minyak nasional bakal terpenuhi selama tahun ini.

"Presiden Prabowo pergi ke Moskow, bertemu dengan Presiden Putin selama tiga jam dan berhasil mengamankan komitmen dari Presiden Putin bahwa Indonesia akan memperoleh pasokan hingga 150 juta barel untuk tahun ini yang akan membuat pasokan minyak mentah dan produk minyak Indonesia aman dan terjamin sepanjang tahun ini," kata Hashim di acara IPA Convex, Tangerang Selatan, Banten, Rabu (20/5/2026).

Dalam kesempatan itu, Hashim mengakui Indonesia dihadapi masalah bertubi-tubi. Salah satu permasalahannya, yakni imbas perang Iran dengan Amerika Serikat (AS)-Iran.

Persoalan antarnegara tersebut juga tidak hanya dihadapi Indonesia, melainkan juga sebagian besar negara lain. Persoalan imbas perang itu berupa stok energi negara masing-masing.

"Seperti kita ketahui bersama, Indonesia mengimpor 1 juta barel per hari minyak mentah dan produk minyak. Hal itu membuat Indonesia rentan terhadap guncangan eksternal seperti perang di Iran," lanjut dia.

Adik kandung Prabowo itu, mengaku bersyukur dengan posisi politik luar negeri Indonesia. Mengingat, Indonesia yang disebut tidak memiliki musuh sehingga dapat menjalin kerja sama dengan negara manapun.

"Indonesia memiliki hubungan persahabatan dengan semua negara dan tidak memiliki musuh. Oleh sebab itu, ketika perang Iran pecah dan impor kita menjadi tidak pasti, termasuk impor minyak dan produk minyak," tutur Hashim.

Baca juga artikel terkait MINYAK atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Flash News
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama