Hasan Din, Mertua Sukarno yang Dekat dengan Taipan Liem Sioe Liong

Ilustrasi Hasan Din. tirto.id/Fuadi
Oleh: Petrik Matanasi - 22 Desember 2019
Dibaca Normal 2 menit
Hasan Din adalah mertua Sukarno yang dianggap pembawa hoki oleh Liem Sioe Liong, konglomerat yang dekat dengan Soeharto.
Hasan Din atau biasa disapa Datuk pada mulanya adalah seorang klerk (jurutulis) pada perusahaan Borneo Sumatra Maatschappij (Borsumij) di Bengkulu. Gajinya lumayan untuk menghidupi keluarganya.

Di luar jam kerja, ia aktif di Muhammadiyah: organisasi yang didirikan pada 1912 oleh Kiai Haji Achmad Dahlan di Yogyakarta, yang kemudian menyebar ke berbagai daerah lain di Indonesia, termasuk Bengkulu.

Belakangan, Hasan Din memilih aktif sepenuhnya di Muhammadiyah ketimbang terus bekerja di Borsumij, dan melupakan gajinya yang cukup besar. Sebagai catatan, Borsumij adalah salah satu dari lima perusahaan besar milik Belanda di Nusantara.

Pilihan itu tentu saja berisiko. Hendrowinoto dalam Ibu Indonesia dalam Kenangan (2004:81) mencatat, setelah mengundurkan diri dari Borsumij, Hasan Din dan keluarganya menghadapi masalah ekonomi yang cukup berat. Untuk mengatasi hal tersebut, ia kemudian berdagang. Salah satu koleganya dalam perniagaan adalah Oei Tjeng Hien atau Abdul Karim Oei. Keduanya sama-sama berasal dari Sumatra Barat dan lahir pada 1905.

Richard Borsuk dan Nancy Chng dalam Liem Sioe Liong dan Salim Group: Pilar Bisnis Soeharto (2016:89) menerangkan bahwa Hasan Din kemudian menjadi tokoh agama di Bengkulu. Ia mendirikan sebuah sekolah bercorak Muhammadiyah.

Tahun 1938, Bengkulu kedatangan tokoh pergerakan paling masyhur di negeri ini, yakni Sukarno yang berstatus sebagai orang buangan. Saat itu, Sukarno masih berstatus sebagai suami Inggit Garnasih. Hasan Din kemudian memintanya mengajar di sekolah yang ia dirikan. Fatma atau kemudian lebih dikenal dengan sebutan Fatmawati, adalah putri Hasan Din yang belajar di sekolah tersebut. Beberapa tahun kemudian, Fatmawati dinikahi oleh gurunya, yaitu Sukarno.


Bank Muslimin Indonesia dan NV Mega

Sebagai pebisnis, Hasan Din dan Karim Oei pernah mendirikan Bank Muslimin Indonesia di Bengkulu dari tahun 1946 hingga 1948. Bank tersebut sempat menjadi tempat para polisi dan tentara Republik untuk meminjam dana.

Dalam Mengabdi Agama, Nusa dan Bangsa: Sahabat Karib Bung Karno (1982:121), Abdul Karim Oei menyebutkan bahwa pemerintah Republik Indonesia di Bengkulu tidak punya uang. Maka bankir pro Republik harus membantunya.

Sebagai mertua Sukarno, Hasan Din pernah jadi buruan NICA, namun selamat karena dilindungi oleh orang-orang Tionghoa. Menurut catatan Leo Surayadinata dalam Mencari Identitas Nasional: dari Tjoe Bou San sampai Yap Thiam Hien (1990:183), Liem Sioe Liong adalah orang yang melindungi Hasan Din agar tidak ditangkap oleh tentara Belanda. Di masa revolusi, Liem termasuk pedagang yang memasok kebutuhan militer Republik.

Warsa 1950, Hasan Din kembali berbisnis. Bersama Karim Oei, kali ini ia mendirikan usaha dagang cengkeh. Mereka memulai usaha dengan modal yang tidak banyak.

“Namanya Mega. Ya, NV Mega. Mega adalah nama anak Bapak Presiden. Semua orang kenal siapa Mega,” kata Hasan Din seperti dikutip Abdul Karim Oei (1982:125). Mega yang dimaksud adalah Megawati Soekarnoputri, anak dari Sukarno dengan Fatmawati.




Liem Sioe Liong terlibat dalam perusahaan tersebut. Richard Borsuk dan Nancy Chng dalam Liem Sioe Liong dan Salim Group: Pilar Bisnis Soeharto (2016:89) menyebutkan bahwa Hasan Din kemudian memperkenalkan Liem kepada menantunya, Sukarno.

Liem kemudian sering diundang Sukarno, sekadar pertemuan-pertemuan persahabatan biasa, bukan urusan bisnis. Sebagai presiden, Sukarno tak memberi fasilitas bisnis kepada Liem. Kelak, hal ini bertolak belakang apa yang dilakukan oleh Soeharto.

Sukarno memang tidak dekat dengan pengusaha Tionghoa. Ia lebih menginginkan orang-orang bukan keturunan Tionghoa yang menonjol sebagai pengusaha, meskipun kenyataannya amat sedikit, di antaranya adalah Hashim Ning, Achmad Bakrie, dan Gobel. Saat itu, Liem Sioe Liong dan sesama pengusaha Tionghoa lainnya hanya jadi pengusaha biasa, bukan konglomerat yang menonjol.

Bagi Liem, Hasan Din dan NV Mega adalah pembawa kemujuran. Sesulit apapun perusahaan itu, Liem ogah membubarkannya, seperti ketika impor cengkeh tidak terjadi lagi pada tahun 1986. Pada perjalanannya, Liem Sioe Liong alias Sudono Salim menjadi pengusaha besar di Republik ini dengan bendera Salim Group, terutama pada era Orde Baru.

Meski Liem dikenal dekat dengan rezim Soeharto, dan kekuasaan Sukarno telah sangat berkurang sejak 1965, namun Hasan Din tak di tinggalkannya.

“Hasan Din pernah ia jadikan direktur di beberapa perusahaannya di Jakarta, antara lain PT Mega dan Bank Central Asia,” tulis Leo Suryadinata.

Bank itu adalah salah satu bank penting milik Liem yang terus membesar pada zaman Soeharto dan setelahnya. Richard Borsuk dan Nancy Chng menyebut Hasan Din dianggap mitra bisnis pribumi pertama dari Liem. Hingga meninggal pada 1974, Hasan Din tetaplah mitra Liem.

Jejak bisnis Hasan Din tampaknya diteruskan oleh cucu sulungnya, Guntur Sukarnoputra, yang memilih menjauh dari dunia politik. Ya, tidak seperti saudara-saudarinya, Guntur lebih memilih dunia bisnis.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight