tirto.id - Berbagai stimulus dan insentif kembali digulirkan jelang libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025/2026. Manuver yang mengulang pola tahun-tahun sebelumnya ini menjadi dorongan terakhir pemerintah untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi 5,2 persen pada 2025.
Alasannya jelas: pertumbuhan ekonomi kumulatif sampai September baru mencapai 5,01 persen. Untuk menutup gap itu, kuartal IV harus mencatatkan pertumbuhan di kisaran 5,7-5,8 persen—angka yang menjadi syarat agar realisasi PDB dapat mencapai target APBN.
Paket stimulus yang digulirkan mencakup diskon tiket kereta, pesawat, dan kapal laut, serta potongan tarif jalan tol. Tak hanya itu, pemerintah juga menyiapkan rabat belanja akhir tahun dengan menggandeng Asosiasi E-Commerce Indonesia (idEA), Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) hingga Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI).
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarato dalam Konferensi Pers terkait Kebijakan Pendorong Pertumbuhan Ekonomi TW IV dan Kesiapan Nataru 2025, Rabu (27/11/2025) mengatakan, kerja sama tersebut akan memfasilitasi serangkaian program belanja nasional, seperti Harbolnas 12.12, Indonesia Great Sale, dan EPIC Sale yang ditargetkan akan menghasilkan transaksi hingga puluhan triliun rupiah.
Dengan berbagai upaya tersebut—ditambah serapan anggaran belanja pemerintah yan dibidik mencapai lebih dari 90 persen di ujung Desember—, ia optimistis perekonomian di kuartal IV tahun ini bisa tumbuh di rentang 5,4-5,6 persen.
“Nanti kontribusi dari government spending atau belanja pemerintah, kemudian dari berbagai program bansos, ditambah lagi program yang diharapkan (mendorong) mobilitas masyarakat untuk memanfaatkan Nataru, kami optimistis (pertumbuhan ekonomi) range-nya antara 5,4-5,6 persen," ujarnya, dalam Konferensi Pers terkait Kebijakan Pendorong Pertumbuhan Ekonomi TW IV dan Kesiapan Nataru 2025, Rabu (27/11/2025).
Proyeksi Airlangga itu lebih rendah ketimbang yang disampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sepekan sebelumnya. Dalam acara Bloomberg Businessweek Indonesia, Kamis (20/11/2025), percaya diri kenaikan PDB bisa berada di kisaran 5,6-5,7 persen, sehingga pertumbuhan ekonomi 2025 secara keseluruhan berada di angka 5,2 persen.
“Saya akan pastikan itu terjadi. Makanya saya ke sana ke sini memastikan program-program pembangunan kita bisa terjadi, bisa jalan, dan bisa tumbuh lebih cepat," ucap mantan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan tersebut.
Meski demikian, angka pertumbuhan ekonomi yang diramalkan Airlangga masih dinilai terlalu optimistis oleh sejumlah ekonom. Ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda, misalnya, memperkirakan ekonomi pada periode Oktober-Desember akan tumbuh paling tinggi di level 5,1 persen.
“Saya masih merasa Purbaya terlampau optimis ketika bilang pertumbuhan ekonomi triwulan IV bisa mencapai 5,6 persen. Semua itu hanya diucapkan untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi 5,2 persen tahun ini. Saya melihat, secara tahunan, akan mentok di angka 5,1 persen dengan mesin pertumbuhan triwulan IV adalah pengeluaran pemerintah,” ucapnya kepada Tirto, Kamis (21/11/2025).
Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, terang Huda, konsumsi rumah tangga diperkirakan masih akan menjadi pendorong utama ekonomi Indonesia di penghujung tahun. ebaliknya, investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB)—yang pada kuartal III tumbuh 5,04 persen (yoy)—diprediksi melambat karena sebagian besar realisasi sudah terjadi pada kuartal II dan III. BPS mencatat PMTB kuartal II tumbuh 6,99 persen, lebih tinggi dari kuartal III.
“Secara siklus juga, PMTB biasanya lebih rendah di akhir tahun. Investasi untuk mesin dan sebagainya akan dilakukan di awal tahun. Kecuali ya pemerintah berakrobat lagi dengan data,” sambung Huda.
Berbeda dengan Huda, Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai bahwa paket stimulus Nataru memang dirancang untuk memberikan dorongan kuat pada kuartal IV, terutama melalui konsumsi rumah tangga dan konsumsi pemerintah.
Menurutnya, paket itu bukan sekadar diskon tiket atau tarif tol, melainkan rangkaian lengkap: bansos tunai lebih dari Rp30 triliun, percepatan belanja kementerian, program belanja nasional, dukungan perumahan subsidi, KUR, hingga acara wisata dan wisata belanja di berbagai daerah. "Dengan komposisi seperti ini, memang wajar bila pemerintah berharap kuartal IV menjadi periode pertumbuhan tertinggi tahun ini," katanya kepada Tirto.
Sedangkan, dari sisi konsumsi rumah tangga, efek langsung stimulus terlihat dari kebijakan diskon tarif transportasi dan program wisata. Program ini digabungkan pula dengan mudik gratis dan ratusan acara pariwisata di berbagai daerah yang diproyeksikan menarik jutaan wisatawan mancanegara dan puluhan bahkan ratusan juta pergerakan wisatawan nusantara.
"Secara teori, kombinasi penurunan biaya perjalanan dan peningkatan aktivitas wisata akan mengungkit belanja di hotel, restoran, ritel, dan usaha kecil di daerah tujuan, sehingga menambah volume konsumsi jasa dan perdagangan pada kuartal IV," sambungnya.
Di luar sektor transportasi dan pariwisata, daya dorong besar juga datang dari belanja pemerintah dan bantuan sosial. Melalui tambahan stimulus fiskal sekitar Rp 30 triliun, Josua menilai daya beli masyarakat di akhir tahun dalat tumbuh semakin kuat, di luar pola belanja rutin.
Apalagi, kelompok penerima bantuan umumnya memiliki kecenderungan sangat tinggi untuk langsung membelanjakan tambahan pendapatan, sehingga pengganda fiskalnya relatif besar.
Di saat bersamaan, sisa plafon KUR puluhan triliun juga didorong untuk segera disalurkan. Jika serapan anggaran kementerian besar bisa tembus 90 persen seperti klaim pemerintah, maka kontribusi konsumsi pemerintah terhadap PDB kuartal IV akan semakin signifikan
"Hal ini penting karena pada semester pertama tahun ini pertumbuhan sempat tertahan akibat belanja pemerintah yang relatif hati-hati," kata dia.
Menurut hitungan Josua, tambahan belanja pemerintah dan bantuan sosial sekitar Rp30 triliun dapat memberikan tambahan langsung kurang lebih 0,5 persen terhadap PDB. Jika pengganda fiskal berada di kisaran 1,3-1,5, maka kontribusinya terhadap pertumbuhan kuartalan dapat mendekati 0,1 ppt.
Adapun diskon tiket transportasi dan program belanja nasional kemungkinan hanya menambah beberapa puluh triliun perputaran ekonomi. Josua menilai, insentif belanja cenderung memajukan konsumsi yang sudah direncanakan, bukan menambah konsumsi baru secara signifikan.
"Dengan kata lain, daya ungkit bersihnya positif, tetapi tidak sepenuhnya tambahan murni. Selain itu, kapasitas kursi transportasi, keterbatasan anggaran rumah tangga kelas menengah yang masih berhitung cicilan, serta kehati-hatian pelaku usaha dalam menambah persediaan dan investasi akan membatasi efektivitas penuh stimulus," ujar dia.
Dengan mempertimbangkan berbagai faktor, Josua menyimpulkan stimulus Nataru kemungkinan hanya akan menjaga pertumbuhan kuartal IV di kisaran menengah 5 persen dan mencegah konsumsi melemah. Dalam kerangka ini, proyeksinya terhadap pertumbuhan ekonomi kuartal IV juga lebih hati-hati, yakni di kisaran 5,0-5,1 persen
"Untuk mencapai 5,6 persen seperti yang diharapkan pemerintah, persyaratannya cukup berat. Secara realistis, tambahan dorongan dari bantuan sosial, diskon transportasi, program belanja murah, dan percepatan belanja pemerintah kemungkinan menambah sekitar 0,1-0,2 ppt di atas kecenderungan dasar perekonomian yang tanpa stimulus tambahan mungkin berada di kisaran sekitar 4,9 persen," tutup Josua.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id





































