Laskar Pribumi Pro-Belanda

HAMOT: Para Pembela Ratu Belanda di Front Timur Jakarta

Infografik Pasukan Belanda dari Pribumi
Ilustrasi tentara KNIL. tirto.id/fiz
Oleh: Petrik Matanasi - 29 Agustus 2019
Dibaca Normal 3 menit
Bekasi menjadi salah satu wilayah pertempuran yang panas di zaman Revolusi. Belanda memanfaatkan para mantan laskar yang bermusuhan dengan TNI.
tirto.id - Koert Bavinck lahir di Bandung pada 7 Januari 1926. Saat Perang Dunia II, ia berada di Belanda. Warsa 1944 ketika usianya 18 tahun, Bavinck ditangkap Sicherheitsdienst atau dinas keamanan pendudukan Jerman di Belanda. Ia ditahan di Haaren ke Vught dan sempat akan ditembak mati pada 10 September 1944. Namun, setahun kemudian ia dibebaskan.

Setelah lepas dari tahanan Sicherheitsdienst, ia ditangkap tentara Rusia yang justru menuduhnya sebagai mata-mata Jerman. Itu pun tak berlangsung lama, sebab ia buru-buru dibebaskan. Menurut surat kabar Het Dagblad edisi 4 Agustus 1948, salah satu prestasi Bavinck pada masa itu adalah ikut menyelamatkan militer sekutu yang dikejar aparat Jerman di Negeri Belanda.

Setelah Jerman kalah dan Belanda bebas pada 1945, perjuangan bawah tanah Bavinck pun selesai. Ia kemudian bergabung dengan Regiment Stoottroepen (Resimen Pasukan Pemukul) pada 1946 dan ditempatkan di Resimen Infanteri 3-9.

Ketika perang kemerdekaan terjadi, beserta ribuan pemuda Belanda lainnya, ia dikirim ke Indonesia menjadi tentara pendudukan di daerah Bekasi dengan pangkat Sersan.


Bekasi sebagai Wilayah Pertempuran

Waktu itu, Bekasi dan daerah sekitar Jakarta Timur lainnya adalah salah satu wilayah pertempuran yang panas. Kawasan yang dihuni orang-orang dengan beraneka latarbelakang ini menjadi daerah yang sulit ditenteramkan militer Belanda di awal revolusi.

Bekasi menjadi salah satu pusat perlawanan pasukan TNI, sejumlah laskar gerilya, termasuk para gerombolan liar. Dalam perkembangannya, TNI memerangi pasukan-pasukan liar ini. Maka di wilayah sekitar Bekasi pun terjadi perang segitiga antara tentara Belanda, TNI, dan pasukan liar.

Klender, daerah antara Bekasi dan Jakarta, menjadi salah satu daerah operasi militer Belanda. Daerah ini adalah wilayahnya Haji Darip, seorang jawara kenamaan yang mempunyai menantu bernama Panji, yang juga seorang jago.

Menurut Robert Cribb dalam Para Jago dan Kaum Revolusioner Jakarta 1945-1949 (2010:193), Panji dikenal sebagai orang sakti nan karismatik yang pernah 12 tahun dibui di zaman kolonial. Seperti jagoan sohor lainnya, Panji mempunyai 300 anggota laskar. Haji Darip, Panji, dan pengikut mereka menjadi bagian dari Laskar Rakyat Jakarta Raya. Selain pasukan yang dipimpin Panji, kelompok pasukan liar lainnya adalah kelompok Harun Umar, Sujono, dan Arbi.

Panji dan pasukannya, serta sejumlah laskar lainnya sempat menjadi lawan yang sulit disergap oleh Batalyon III dari Resimen Infanteri 3-9 di sekitar Klender. Cribb menyebut Batalyon III sampai membentuk tim-tim kecil untuk disebar ke pelosok-pelosok Klender—masing-masing terdiri 8 hingga 10 orang—untuk menghambat gerak laskar-laskar seperti pasukan Panji.

Sebuah tim reaksi cepat yang terdiri dari 10 orang juga disiapkan untuk menggebuk pasukan Panji. Komandan tim reaksi cepat ini adalah Bavinck yang pangkatnya sudah menjadi Letnan Dua.


Sepak Terjang HAMOT

Terpilihnya Bavinck sebagai perwira intelijen dalam perang revolusi di Indonesia tak dapat dilepaskan dari sejumlah pengalamannya.

“Sempat tinggal di Indonesia ketika kanak-kanak, mampu berbicara bahasa Melayu dengan lancar, dan memiliki pengalaman pertempuran rahasia ketika Belanda menghadapi Jerman," tulis Cribb menerangkan kualifikasi perwira intelijen itu.

Bavinck yang menangkapi anak buah Panji, tidak berlama-lama menahannya. Ia segera melepaskannya untuk dijadikan pembujuk kawan-kawan pasukan liar lainnya agar berhenti melawan Belanda. Panji sendiri akhirnya memilih untuk keluar dari petualangan gerilyanya dan kembali ke Klender.

Panji dan laskarnya yang sangat benci kepada TNI karena mereka dianggap liar dan senjatanya hendak dilucuti, tidak disia-siakan oleh Bavinck dan pejabat Belanda lainnya. Menurut Cribb, ia mengusulkan kepada Letnan Jenderal Simon Hendrik Spoor untuk menggunakan bekas laskar sebagai pasukan bantuan tentara Belanda (KNIL-KL). Bavinck pun menerima anggaran untuk membiayai pasukan liar yang diarahkan membela Ratu Belanda.



“Bavinck juga mencetuskan nama untuk unit baru itu, yaitu Hare Majesteits Ongeregelde Troepen (pasukan liar Ratu) atau HAMOT,” tulis Cribb dalam Para Jago dan Kaum Revolusioner Jakarta 1945-1949 (2010).

HAMOT bermarkas di Kampung Sumur, tidak jauh dari perlintasan rel kereta api Klender. Pasukan bekas laskar anti-TNI itu diberi latihan militer dan diberi senjata ringan infanteri. Hingga Juni 1947, terdapat 300 bekas laskar pasukan liar yang tergabung dalam pasukan tersebut. Anggota pasukan baru itu diberi upah, makanan, pakaian, dan tempat tinggal untuk anak istri mereka.

Bavinck menugasi mereka menghambat penyelundupan senjata atau barang apapun untuk pasukan Republik. Selain itu, mereka juga diberi tugas untuk melakukan sabotase terhadap pasukan republik di belakang garis pertahanan musuh.

HAMOT terlibat dalam Agresi Militer Belanda I yang berlangsung pada 21 Juli hingga 5 Agustus 1947. Di bawah kepemimpinan Bavinck, sebanyak 120 anggota HAMOT termasuk Panji ikut serta menduduki daerah Tambun, Karawang, dan Cikampek. HAMOT membuktikan diri sebagai kombatan yang tidak hanya berani tapi juga berguna. Prestasi HAMOT itu membuat Bavinck diganjar medali Militaire Willems Orde (MWO).

Kesuksesan HAMOT kemudian ditiru oleh kesatuan lain tentara Belanda. Letnan Spier dari Resimen Artileri ke-6 merekrut 100 bekas anggota laskar sebagai pasukan semacam HAMOT. Pasukan itu dikenal sebagai Spiertjes.

Menurut arsip koleksi ANRI Kabinet Perdana Menteri RI nomor 155: Berkas mengenai gerak-gerik gerombolan-gerombolan liar di daerah Bogor dan Karawang Mei-Juli 1950, Spier menurut laporan pihak Republik telah mempersenjatai gerombolan-gerombolan di daerah Cibarusa maupun gerakan rahasia lainnya. Spier juga dianggap sebagai jaringan Kapten Westerling dalam peristiwa APRA.

Karena HAMOT merupakan pasukan yang terdiri dari para jawara, jago, dan orang-orang yang malang melintang di dunia kriminal, tingkat kedisiplinan mereka pun rendah. Sejumlah pemimpinnya seperti Harun Umar, Sujono dan Panji desersi yang kemudian hilang tanpa jejak. Pukulan paling telak adalah saat 27 anggota HAMOT yang desersi di Rengasdengklok dengan membawa senjata lengkap.

Selain kasus desersi, ketidakpecayaan serdadu pribumi KNIL kepada HAMOT membuat pasukan ini sulit berkembang. Menurut Cribb, HAMOT lebih bisa hidup berdampingan serdadu KL bule. HAMOT yang dijadikan ujung tombak dalam pelbagai palagan itu pun harus kehilangan sekitar 50 orang dalam waktu dua bulan. Revolusi usai, HAMOT pun tinggal cerita.

Baca juga artikel terkait SEJARAH INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Humaniora)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight