tirto.id - Habis Gelap Terbitlah Terang quotes dan kutipan Kartini bisa masyarakat bagikan untuk memperingati Hari Kartini. Peringatannya setiap tanggal 21 April ini berdasarkan hari kelahiran tokoh tersebut.
Indonesia merayakan Hari Kartini usai Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 108 Tahun 1964. Dalam keputusan tersebut, Kartini juga terdaftar menjadi Pahlawan Kemerdekaan Nasional.
Pada usianya yang ke-14, Kartini telah melahirkan sejumlah tulisan. Ia belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi dari Belanda, salah satunya Rosa Abendanon.
Mengutip Intersections, surat-surat ini membahas masalah tradisi feodal yang menindas, pernikahan paksa dan poligami bagi perempuan Jawa kelas atas, dan pentingnya pendidikan bagi anak perempuan.
Kata-Kata Kutipan Kartini dan Habis Gelap Terbitlah Terang Quotes

Dalam surat-suratnya, Kartini menulis keluhan dan gugatan khususnya menyangkut budaya di Jawa yang dipandang sebagai penghambat kemajuan perempuan. Dokumen tersebut juga mencerminkan pengalaman hidup Kartini sebagai putri seorang bupati Jawa.
Setelah Kartini meninggal, surat-surat tersebut dikumpulkan dan diterbitkan menjadi sebuah buku yang dalam bahasa Belanda berjudul Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang).
Buku pertama Dari Kegelapan Menuju Cahaya terbit pada 1911. Kemudian, Balai Pustaka menerbitkan buku tersebut dalam bahasa Melayu dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran pada 1922.
Pada 1938, seorang sastrawan Pujangga Baru bernama Armijn Pane merilis Habis Gelap Terbitlah Terang. Selain pemikiran, Kartini pun melakukan aksi nyata dengan mendirikan sekolah untuk anak perempuan.
Berikut ini Habis Gelap Terbitlah Terang quotes dan kata-kata kutipan Kartini lainnya.
- "Door Duisternis, Tot Licht-Habis Gelap, Terbitlah Terang."
- "Ikhtiar! Berjuanglah membebaskan diri. Jika engkau sudah bebas karena ikhtiarmu itu, barulah dapat engkau tolong orang lain."
- "Gadis yang pikirannya sudah dicerdaskan, pemandangannya sudah diperluas, tidak akan sanggup lagi hidup di dalam dunia nenek moyangnya."
- "Karena ada bunga mati, maka banyaklah buah yang tumbuh. Demikianlah pula dalam hidup manusia. Karena ada angan-angan muda mati, kadang-kadang timbulah angan–angan lain yang lebih sempurna, yang boleh menjadikannya buah."
- "Teruslah bermimpi, teruslah bermimpi, bermimpilah selama engkau dapat bermimpi! Bila tiada bermimpi, apakah jadinya hidup! Kehidupan yang sebenarnya kejam."
- "Dan biarpun saya tiada beruntung sampai ke ujung jalan itu, meskipun patah di tengah jalan, saya akan mati dengan rasa berbahagia, karena jalannya sudah terbuka dan saya ada turut membantu mengadakan jalan yang menuju ke tempat perempuan Bumiputra merdeka dan berdiri sendiri."
- "Tahukah engkau semboyanku? Aku mau! Dua patah kata yang ringkas itu sudah beberapa kali mendukung dan membawa aku melintasi gunung keberatan dan kesusahan. Kata Aku tiada dapat! melenyapkan rasa berani. Kalimat 'Aku mau!' membuat kita mudah mendaki puncak gunung."
- "Banyak hal yang bisa menjatuhkanmu. Tapi satu-satunya hal yang benar-benar dapat menjatuhkanmu adalah sikapmu sendiri."
- "Bagaimana pun jalannya, sekali-sekali jangan lelah untuk berusaha gigih membela semua yang baik."
- "Sebab, barang siapa tidak dapat merasakan sakit, dia juga kebal terhadap rasa gembira. Barang siapa tidak menderita, tidak juga dapat merasakan nikmat yang sesungguhnya."
Editor: Agung DH
Penyelaras: Yuda Prinada
Masuk tirto.id




































