Menuju konten utama

Guru di Cirebon Lari 8,7 km ke Sekolah, Hemat Rp200 Ribu/Pekan

Sejak sekitar enam tahun terakhir, Eka telah membiasakan diri bersepeda dan berlari untuk menunjang aktivitas hariannya.

Guru di Cirebon Lari 8,7 km ke Sekolah, Hemat Rp200 Ribu/Pekan
Guru Eka Novianto yang rela lari sejauh 8,7 km demi melakukan efisiensi dan juga berolahraga menuju kesekolah. FOTO/Dokumentasi Pribadi
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kebijakan pemerintah untuk menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) terus didorong melalui berbagai cara, salah satunya dengan mengimbau aparatur sipil negara (ASN) menggunakan moda transportasi non-BBM. Bagi Eka Novianto, seorang guru di Cirebon, langkah yang kini didorong pemerintah itu sejatinya bukan hal baru.

Sejak sekitar enam tahun terakhir, Eka telah membiasakan diri bersepeda dan berlari untuk menunjang aktivitas hariannya, termasuk berangkat ke sekolah. Kebiasaan itu bermula dari ketertarikannya pada olahraga dan kemudian berkembang menjadi bagian dari gaya hidup yang konsisten dia jalani.

“Saya memang senang lari dan olahraga mulai dari 2020, tapi memang setiap Rabu pakai sepeda. Untuk Jumat, saya jogging. Kalau sekarang, saya coba jogging setiap hari ke sekolah,” ujar Eka, Jumat (10/4/2026).

Eka berlari atau bersepeda dari rumahnya di kawasan Cempaka Arum, Kabupaten Cirebon, menuju sekolah tempatnya mengajar di Jalan Dr. Wahidin Sudirohusodo. Jaraknya sekitar 8,7 kilometer. Jarak tersebut dia lalui dengan berlari dalam waktu rata-rata 1 jam 10 menit. Dia biasanya berangkat pukul 05.15 WIB dan tiba di sekolah sekitar pukul 06.25 WIB.

Konsistensi tersebut tidak hanya berdampak pada kebugaran fisik, tetapi juga pada pengeluaran hariannya. Eka memperkirakan mampu menghemat biaya transportasi hingga Rp200 ribu per minggu. Jika diakumulasi dalam jangka panjang, angka tersebut menjadi cukup signifikan.

“Saya itu sebelum melakukan kebiasaan berolahraga, uang yang dikeluarkan untuk BBM mobil bisa mencapai Rp400 ribu per pekan. Jadi, ketika saya rutin berlari, itu sangat menghemat biaya,” katanya.

Selain itu, kebiasaan berlari juga memiliki dimensi edukatif dalam perannya sebagai guru. Eka mengaku ingin memberikan contoh langsung kepada para siswa tentang pentingnya disiplin waktu.

Baginya, yang dia lakukan sehari-hari bisa menjadi cara sederhana untuk menunjukkan bahwa datang tepat waktu adalah hal yang bisa diupayakan.

Sementara itu, salah satu staf Metrologi di Dinas Koperasi, Usaha Kecil, Menengah, Perdagangan dan Perindustrian (DKUKMPP) Kota Cirebon, Maman Suhardiman, mengaku berangkat kerja menggunakan angkutan umum dikarenakan ingin menghemat uang di samping adanya kebijakan WFH dan hari bebas kendaraan oleh pemerintah.

“Saya dari Gunungjati itu nebeng temen dahulu. Tapi, karena tidak searah, saya pakai angkot. Kalau pakai ojek online, itu mahal biayanya. Kalau angkot, cuma Rp5 ribu,” katanya.

Disamping murah, ia mengaku menaiki angkutan umum sembari mengenang masa lalu saat jaman sekolahnya dahulu.

Baca juga artikel terkait EFISIENSI atau tulisan lainnya dari Cirebon Banget

tirto.id - Flash News
Kontributor: Cirebon Banget
Penulis: Cirebon Banget
Editor: Fadrik Aziz Firdausi