Menuju konten utama

Gamifikasi di Kemasan Tingkatkan Daya Saing Produk Mainan Anak

Tim dosen Prodi Desain Grafis PNJ membantu UMKM meningkatkan daya saing produk mainan anak dengan memasukkan unsur gamifikasi dalam desain kemasan.  

Gamifikasi di Kemasan Tingkatkan Daya Saing Produk Mainan Anak
Foto bersama UMKM Guru Anak Kita dalam kegiatan PkMLK. Foto/Dok. Prodi Desain Grafis/PNJ
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Program Studi Desain Grafis, Politeknik Negeri Jakarta (PNJ) melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Lektor Kepala (PkMLK) pada Rabu, 15/10/2025. Kegiatan ini bertajuk “Perancangan Gamifikasi pada Kemasan UMKM Bidang Mainan Anak untuk Meningkatkan Daya Saing Produk.” Kegiatan ini menjadi bentuk nyata hilirisasi hasil penelitian dosen dalam mendukung pelaku usaha kecil agar mampu bersaing melalui inovasi desain kemasan.

Ketua tim pengabdian, Tiyas Maheni, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan implementasi lanjutan dari penelitian sebelumnya. Penelitian yang berfokus pada penerapan elemen gamifikasi dalam desain kemasan produk. Menurutnya, banyak pelaku UMKM di bidang mainan anak yang masih menghadapi kendala. Khususnya dalam menciptakan kemasan yang menarik, edukatif, dan bernilai jual tinggi.

“Dari hasil penelitian, kami menemukan bahwa elemen permainan (gamifikasi) pada kemasan bukan hanya meningkatkan daya tarik visual, tetapi juga memberi nilai edukatif dan interaktif bagi konsumen, terutama anak-anak. Kemasan bukan lagi sekadar wadah, tetapi menjadi bagian dari pengalaman belajar dan bermain,” ujar Tiyas.

Melalui program ini, tim dosen Desain Grafis PNJ bermitra dengan Komunitas Sahabat UMKM dan memilih Guru Anak Kita, produsen media edukatif anak berupa flashcard sebagai mitra utama. Produk Guru Anak Kita dikenal dengan media belajar membaca dan berhitung yang dirancang sesuai tahap perkembangan anak. Namun, UMKM tersebut masih memiliki keterbatasan pada aspek kemasan.

Tim pengabdian membantu merancang logo dan desain kemasan baru dengan unsur gamifikasi, agar produk flashcard tampil lebih profesional dan kompetitif. Kemasan dirancang agar dapat menjadi bagian dari pengalaman belajar anak, sekaligus meningkatkan citra produk di mata konsumen.

“Gamifikasi pada kemasan membuat anak-anak belajar sambil bermain. Sementara bagi UMKM, hal ini bisa meningkatkan daya saing dan nilai jual produk,” jelas Tiyas.

Proses perancangan kemasan ini memerlukan waktu cukup panjang. Tim pengabdi bersama mitra menjalani serangkaian tahapan, mulai dari identifikasi kebutuhan, pengembangan konsep, uji fungsi, hingga penyempurnaan hasil cetak secara berulang. Menurut Tiyas, durasi yang panjang menunjukkan bahwa hasil akhir tidak dibuat secara instan, melainkan melalui riset, uji coba, dan evaluasi berkelanjutan agar kemasan benar-benar aman, fungsional, dan efektif secara edukatif.

Dari sisi mitra UMKM, kolaborasi ini memberikan dampak positif terhadap pengembangan produk Guru Anak Kita. Kinanti Shinta Wicesa, pemilik UMKM Guru Anak Kita, mengungkapkan bahwa kolaborasi ini membuka wawasan baru dalam merancang kemasan edukatif yang sesuai dengan karakter anak.

“Sebelum kolaborasi ini, kami mendesain kemasan secara sederhana. Tantangan terbesarnya adalah bagaimana menyeimbangkan fungsi edukatif, estetika, dan efisiensi produksi dalam satu kemasan. Melalui pendampingan tim dosen PNJ, kami belajar bagaimana kemasan bisa menjadi media belajar sekaligus alat promosi yang menarik,” ujar Kinanti.

Kinanti juga berharap, dengan kemasan baru yang lebih interaktif dan profesional, produk flashcard mereka dapat menarik lebih banyak perhatian dan minat beli masyarakat.

“Kami sangat puas dengan pengalaman kolaborasi ini. Semoga kedepannya Guru Anak Kita kembali mendapat kesempatan untuk mengembangkan desain produk edukatif lainnya bersama PNJ,” tutupnya.

Kegiatan yang ditandai dengan serah terima hasil menjadi bukti konkret peran akademisi dalam memberdayakan masyarakat melalui inovasi desain grafis. Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan UMKM, hasil riset di kampus dapat benar-benar diterapkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi kreatif yang berkelanjutan.

Penulis: Tim Media Servis