tirto.id - Gigitan ular weling di Pekalongan, Jawa Tengah, menelan korban jiwa pada Minggu (5/7/2026). Seorang anak usia lima tahun tewas setelah dipatuk ular dengan bisa yang sangat beracun itu.
Insiden kematian anak akibat gigitan ular weling itu dilaporkan terjadi di Desa Mesoyi, Kecamatan Talun, Pekalongan. Korban adalah Muhammad Khoirul Anam, bocah berusia lima tahun.
Seturut keterangan perangkat Desa Mesoyi, insiden itu terjadi ketika korban tengah tertidur di malam hari pada Sabtu (4/7). Korban disebut sedang tidur di rumahnya, tepatnya di depan televisi.
Kemudian pada tengah malam, korban dipatuk ular weling. Setelahnya, korban dievakuasi pihak keluarga. Ia dibawa ke RSUD Kajen untuk mendapatkan perawatan medis.
Sesampainya di rumah sakit, korban diberi perawatan medis, termasuk diberi antibisa. Namun, kondisi korban sudah menunjukkan penurunan kesadaran saat sampai di rumah sakit.
Tak lama kemudian, sekitar pukul 04.00 WIB, korban dinyatakan meninggal dunia. Korban meninggal setelah sekitar empat jam dipatuk ular weling.
Mengenal Bahaya Ular Weling dan Bedanya dengan Ular Welang
Ular weling merupakan salah satu spesies ular yang berbahaya. Ia memiliki bisa yang mematikan dan dikenal cukup sering dijumpai di lingkungan sekitar manusia.
Di dunia, ular weling dikenal dengan nama latin Bungarus candidus. Ular ini tergolong spesies endemik Asia Tenggara dan karenanya dapat ditemukan di kawasan tersebut, termasuk Indonesia.
Jika ditilik dari fisiknya, ular ini memiliki ciri khas utama pada pola warna pada tubuhnya. Weling identik dengan pola belang garis hitam kebiruan yang berselang-seling dengan warna putih atau kuning pucat. Sementara itu, pada bagian bawah tubuhnya, kulit weling berwarna putih bersih.
Ular ini juga dapat dikenali dari bentuk kepalanya yang kecil dan tubuhnya yang ramping. Panjang weling umumnya berkisar antara 1 hingga 1,6 meter.

Menukil Antara, weling memiliki bisa yang mematikan dan lebih berbahaya ketimbang ular kobra. Tingkat kematian akibat bisa ular weling tanpa penanganan medis, mencapai 60-70 persen.
Bisa ular ini bersifat neurotoxin. Artinya, weling memiliki bisa yang akan menyerang sistem saraf sehingga dapat menyebabkan kelumpuhan. Jika tidak ditangani secara medis dengan cepat, korban gigitan weling dapat meninggal dunia dalam kurun waktu kurang dari 24 jam.
Beberapa gejala yang umum pada korban gigitan weling berkisar pada rasa mual, muntah, dan lemas pada jam-jam awal gigitan. Setelah itu, gejala meningkat, korban dapat merasakan kelopak mata yang memberat dan kesulitan bernapas.
Gejala gigitan weling ini tak jarang membuat identifikasi awal sulit dilakukan. Hal tersebut dikarenakan gejala awal gigitan tidak sejelas gigitan ular lain macam kobra.
Gigitan ular kobra kerap kali memicu gejala tanda bengkak di area yang tergigit. Sementara weling tidak menunjukkan gejala seperti itu.
Namun, selain bisanya yang mematikan, bahaya dari ular weling lainnya adalah cukup umum ditemukan di sekitar habitat manusia. Weling hidup di alam liar, namun sering pula ditemukan di perkebunan atau rumah manusia yang dekat kebun.
Meski sering dijumpai di sekitar manusia, banyak orang masih kerap keliru membedakan antara ular weling dan dipersamakan dengan ular welang. Padahal, weling dan welang merupakan dua spesies ular yang berbeda.
Perbedaan weling dan welang yang paling kentara adalah pada pola pada tubuhnya. Pola sisik weling cenderung berwarna belang hitam-putih, sementara welang cenderung berwarna belang hitam-kuning.
Selain pada warnanya, perbedaan kedua spesies ular ini juga dapat ditengarai dari bentuk kepalanya. Kepala weling tampak lebih menyatu dengan tubuhnya, tak tampak menonjol. Sementara welang memiliki kepala dengan garis yang lebih tegas dan menyerupai bentuk segitiga.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id
































