Fiksi Ilmiah Kerap Menginspirasi Penemuan Teknologi

Oleh: Ahmad Zaenudin - 2 Maret 2017
Dibaca Normal 2 menit
Selama ini kerap dipahami bahwa karya fiksi meniru kenyataan. Namun kerap terjadi sebaliknya: karya fiksi menginspirasi manusia untuk membuat kenyataan, khususnya: teknologi.
tirto.id - Dunia hari ini, dipenuhi oleh beragam perangkat berteknologi tinggi. Perlahan tapi pasti, manusia menciptakan masa depan dengan teknologi-teknologi yang hari ini diketemukan. Secara awam, kita akan berpikiran bahwa teknologi-teknologi yang eksis di masa ini, dibuat dengan pemikiran-pemikiran yang matang di sebuah laboratorium penelitian.

Tapi tunggu dulu. Sebagian teknologi yang kita kenal, memang diciptakan dengan pemikiran-pemikiran serius nan rumit dan diciptakan di tempat yang steril. Namun di sisi lain, banyak juga temuan-temuan teknologi yang lahir justru karena terinspirasi oleh kisah-kisah fiktif, baik dalam bentuk cerita pendek, novel, atau bahkan film.

Dengan kata lain, sesungguhnya masa depan terutama menyangkut teknologi, sangat dekat dengan dunia fiksi ilmiah yang oleh sebagian orang dianggap hanya karangan-karangan biasa saja. Bahkan dianggap buang-buang waktu.

Robert H. Goddard, seorang penemu roket atau liquid-fuelled rocket, menciptakan barang temuannya tersebut karena ia terinspirasi oleh novel berjudul War of the World yang terbit pada tahun 1898 karangan H.G. Wells. Selain itu, teknologi sensor gerak pada perangkat Microsoft Kinnect, seperti dipacak The Guardian, telah muncul jauh lebih dahulu dalam film 2001: A Space Odyssey karya Stanley Kubricks yang tayang pada 1968. Atau, ada pula “The Communicator” yang digunakan Captain Kirk dalam serial Star Trek yang tayang pada tahun 1966 bisa dianggap sebagai “cikal bakal” sebuah perangkat yang hari ini kita kenal dengan sebutan telepon selular.

Tentu, tidak semua fiksi ilmiah yang bertebaran dalam cerita pendek, novel, atau film kemudian bisa ditransformasikan dalam bentuk nyata. Diwartakan New Republic, Robert Heinlein di tahun 1939 mengarang sebuah cerita pendek berjudul "Life-Line" yang menceritakan seorang ilmuwan bernama Professor Piner, pencipta mesin yang dapat mendeteksi berapa lama seseorang akan hidup melalui sinyal yang dikirimkan melalui garis temporal dalam tubuh seseorang.

Dalam dunia fisika, apa yang dikarang Heinlein bisa disebut sebagai “psichic radar”. Terdengar keren dan mencengangkan bukan? Namun, hingga saat ini belum ada mesin yang seperti hal tersebut.

Fiksi ilmiah, merupakan inspirasi yang sangat berharga bagi kalangan peneliti. Bagi anak-anak muda, fiksi ilmiah bisa menjadi penyemangat mereka untuk masuk ke dalam dunia sains dan teknologi. Menurut tulisan pada The Huffington Post, beberapa ilmuwan bahkan masuk ke dunia sains dan teknologi karena terinspirasi karangan-karangan Jules Verne atau menonton serial Flash Gordon dan Star Trek.

Sophia Brueckner, seorang peneliti, sebagaimana dikutip dari laman Smithsonian, mengatakan, “pengarang telah mengeksplorasi topik ini dalam kedalaman yang luar biasa untuk beberapa tahun [ke belakang] dan saya merasa ketika membaca tulisannya akan terasa sama pentingnya seperti membaca makalah penelitian.”

Seorang ilmuwan tenar di Amerika Serikat, Michio Kaku, bahkan mengungkapkan bahwa fiksi ilmiah tidak bisa diremehkan karena fiksi ilmiah mengandung “kemustahilan.” Dan dalam dunia fisika yang digelutinya, “kemustahilan” merupakan kata yang relatif. Dalam dunia teknologi, artinya karangan-karangan yang terkesan mustahil di dunia nyata tapi eksis dalam karya-karya fiksi, sebetulnya menyimpan aspek relatif. Sesuatu yang mustahil, sesungguhnya tidaklah mustahil-mustahil amat.

Selain itu, Kim Stanley Robinson, seorang pengarang fiksi ilmiah yang tenar melalui trilogi Mars mengungkapkan bahwa, “fiksi ilmiah merepresentasikan bagaimana orang-orang di masa kini, merasakan masa depan.”

Fiksi ilmiah dan temuan-temuan teknologi, merupakan suatu simbiosis mutualisme yang sangat sayang jika diabaikan begitu saja. Perusahaan-perusahaan teknologi besar di dunia juga memanfaatkan fiksi ilmiah dalam mengembangkan produk-produk di perusahaan mereka.

Infografik Teknologi yang Terinspirasi fiksi


Microsoft, Google, Apple, dan perusahaan lain, diketahui membuat semacam kuliah umum yang menghadirkan penulis fiksi ilmiah untuk melakukan presentasi untuk karyawan perusahaan-perusahaan teknologi terkemuka tersebut. Setelahnya, para penulis fiksi ilmiah melakukan pertemuan tertutup dengan departemen penelitian dan pengembangan di perusahaan-perusahaan tersebut.

Selain itu, menurut The Huffington Post, lembaga antariksa paling beken di dunia, NASA, atau lebih tepatnya NASA Goddard Space Flight Center juga melakukan kerjasama dengan para penulis fiksi ilmiah. Paling tidak, kerjasama tersebut menghasilkan sebuah publikasi yang diberi judul Pilar to the Sky oleh William R. Forstchen.

Selain itu, dalam dunia teknologi kini, telah berkembang suatu metodologi yang diberi nama “design fiction” atau fiksi rancangan. Jika fiksi ilmiah mencoba menstimulasi imajinasi tentang masa depan dalam pandangan luar biasa, maka fiksi rancangan mencoba mengeksplorasi masa depan dalam konteks pandangan biasa. Keduanya sama-sama fiksi.

Fiksi rancangan mencoba untuk memprovokasi orang-orang tentang masa depan dalam konteks teknologi. Perusahaan-perusahaan menerapkan metodologi ini karena mereka mengerti bahwa apa yang mereka buat, belum tentu bisa diwujudkan atau secara ekonomis, belum tentu mendatangkan keuntungan.

Diwartakan Wired, kebanyakan paten yang dipegang oleh perusahaan-perusahaan teknologi dunia hanyalah sebuah kertas tanpa ada implementasi sungguhan. “Design fiction” merupakan jembatan yang digunakan perusahaan untuk mengukur realistis dan tidak realistis suatu barang atau produk yang hendak mereka buat.

Fiksi ilmiah, sebuah karya kreatif yang sering disepelekan itu, sejatinya memiliki kekuatan tersembunyi yang bisa digunakan sebagai bahan-bakar bagi orang-orang dalam dunia teknologi.

Baca juga artikel terkait KARYA FIKSI atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Reporter: Ahmad Zaenudin
Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Maulida Sri Handayani