tirto.id - Saban kali menelusuri lini masa media sosial dan menemukan kisah horor supranatural, satu hal yang kerap kali muncul adalah pernyataan bahwa di luar negeri itu enggak ada hantu. Padahal, anggapan itu salah besar.
Di negara mana pun selalu ada kisah-kisah di luar nalar yang disangkutpautkan dengan eksistensi entitas-entitas tak kasatmata yang kerap disederhanakan dengan penyebutan istilah hantu.
Di sini kita tidak akan berbicara soal apakah hantu itu nyata atau tidak? Sebab, itu berkaitan dengan kepercayaan pribadi yang muskil diganggu gugat.
Meski begitu, perlu diketahui bahwa di luar sana ada sejumlah peneliti yang mencoba menjelaskan eksistensi hantu, khususnya di rumah-rumah tua yang, oleh masyarakat sekitar, dianggap sebagai "rumah hantu". Dari penelitiannya, para ilmuwan pun berhasil menawarkan penjelasan saintifik.
Secara garis besar, fenomena hantu secara saintifik bisa dijelaskan lewat lima hal: suara infrasonik, ruang dan ekspektasi manusia terhadapnya, jamur dan racun penyebab halusinasi, sugesti, serta medan elektromagnet.
Soal Suara Infrasonik Adalah yang Mutakhir
Suara infrasonik, atau infrasound, adalah gelombang suara berfrekuensi di bawah 20 hertz, yang merupakan batas bawah pendengaran manusia normal. Kita tidak bisa mendengar suara berfrekuensi di bawah itu.
Namun, tidak terdengar bukan berarti tidak ada pengaruhnya. Suara infrasonik selalu ada di sekitar kita, mulai dari yang dihasilkan ombak laut, aktivitas vulkanik, lempeng tektonik, sampai sistem ventilasi dan pipa.
Rodney Schmaltz, profesor psikologi dari MacEwan University di Kanada, adalah salah satu peneliti yang menduga suara tersebut berkaitan dengan pengalaman "supranatural" di dalam bangunan.
Schmaltz dan timnya mengundang 36 orang partisipan untuk duduk sendirian di sebuah ruangan sambil mendengarkan musik. Ada musik yang menenangkan; ada pula yang menegangkan. Separuh dari mereka juga terpapar suara infrasonik 18 hertz yang dipancarkan dari subwoofer tersembunyi (speaker khusus untuk memproduksi suara berfrekuensi sangat rendah).
Nah, mereka yang terpapar suara infrasonik ternyata menunjukkan kadar kortisol lebih tinggi—berdasarkan uji sampel air liur mereka—sekaligus melaporkan perasaan lebih mudah tersinggung dan lebih murung.
Kortisol adalah hormon yang diproduksi tubuh sebagai respons terhadap stres. Artinya, mereka yang terpapar suara infrasonik merasakan stres secara fisiologis dan itu terlihat dari peningkatan kadar hormon.
Meski begitu, Schmaltz enggan gegabah menarik kesimpulan dari penelitiannya, yang terbit pada April 2026 di jurnal Frontiers in Behavioral Neuroscience. Ia tidak mau langsung menyebut hantu itu ada atau tidak.

Desain Ruang dan Ekspektasi Kita Sendiri
Otak manusia bekerja seperti mesin prediksi. Setiap kali kita memasuki ruangan baru, otak langsung membangun "peta internal" dari ruang tersebut, berdasarkan dinding, sudut, dan penanda-penanda visual lainnya. Begitu kata Lisa Giocomo, profesor neurobiologi dari Stanford University.
Peta itu kemudian diperkuat dengan makna yang ditarik dari memori dan pengalaman kita. Ketika sebuah ruang memenuhi ekspektasi otak, kita merasa aman. Jika tidak, sistem itu pun goyah seketika.
Itulah sebabnya koridor panjang, tangga melingkar yang ujungnya tidak terlihat, atau ruangan luas tanpa jendela, bisa membuat bulu kuduk berdiri. Tanpa penanda yang bisa diandalkan, otak kesulitan menentukan posisi kita dan arah potensi bahaya yang mungkin datang.
"Itu menghasilkan disorientasi ringan dan memberi sinyal bahwa ada sesuatu yang tidak aman atau aneh," jelas Beth Tauke, profesor arsitektur dari University at Buffalo.
Studi terbitan 2021 tentang bentuk arsitektur dan emosi menemukan, perubahan dalam kompleksitas ruang, kelengkungan, dan pencahayaan, secara nyata memengaruhi tingkat kewaspadaan fisiologis seseorang.
Otak seseorang menjadi lebih aktif ketika bergerak melalui jenis ruangan tertentu. Kondisi tertentu, seperti pencahayaan redup atau kesunyian total, memberi sinyal pada otak bahwa ada sesuatu yang "salah" dengan lingkungan itu.
Jamur Pembawa Halu dan Sugesti Memperkuatnya
Rumah-rumah tua sangat rentan terhadap pertumbuhan jamur, terutama jamur hitam atau Stachybotrys chartarum. Beberapa spesies jamur diketahui menyebabkan peradangan pada saraf optik dan halusinasi.
Eksperimen pada tikus menunjukkan, Stachybotrys mampu menginduksi rasa takut. Bahkan, penelitian lain menemukan bahwa rumah-rumah yang dilaporkan "berhantu" secara statistik lebih mungkin mengandung jamur, dibandingkan dengan rumah-rumah biasa.
Selain jamur, ilmuwan menduga bahwa paparan zat kimia tertentu bisa menyebabkan halusinasi yang terasa sangat nyata.
Karbon monoksida, misalnya, telah terbukti dalam beberapa kasus menjadi penyebab di balik laporan "penampakan". Sejak Februari 1921, American Journal of Ophthalmology sudah memublikasikan surat yang mengaitkan "penampakan hantu" dengan keracunan karbon monoksida dari tungku pemanas yang rusak. Bahan kimia lain yang dicurigai meliputi pestisida tertentu dan formaldehida yang ditemukan dalam kayu olahan, cat, dan pernis juga dapat menyebabkan halusinasi.
Penjelasan berikutnya, yang mungkin sudah kerap kali dibahas dalam siniar-siniar horor populer, adalah sugesti.
Ketika seseorang diberitahu bahwa sebuah tempat "angker", persepsinya terhadap tempat itu berubah secara dramatis.
Dalam sebuah eksperimen, dua kelompok uji diminta berjalan mengelilingi sebuah bioskop yang sudah tidak beroperasi. Satu kelompok diberitahu bahwa properti tersebut sedang direnovasi, kelompok lain diberitahu bahwa aktivitas paranormal pernah terjadi di sana.
Hasilnya, kelompok kedua melaporkan jauh lebih banyak pengalaman fisik, emosional, dan spiritual, yang tidak biasa.
Penelitian dari jurnal Cognition and perception, Personality and self juga menemukan, dalam sebuah séance (ritual komunikasi dengan arwah, red.) palsu, sekitar sepertiga dari peserta secara keliru melaporkan bahwa meja yang tidak bergerak telah bergerak, setelah si "medium" palsu berkata demikian.
Mereka yang percaya pada hal paranormal lebih rentan terhadap sugesti semacam itu. Kira-kira seperlima dari total peserta uji percaya bahwa mereka telah menyaksikan fenomena paranormal yang nyata.
Singkatnya, apabila kita sudah mendapat informasi bahwa kita sedang berada di "rumah berhantu", otak akan lebih mudah menafsirkan setiap suara kecil, bayangan, atau sensasi tubuh, sebagai tanda kehadiran entitas tak kasatmata.
Peran Medan Elektromagnet
Michael Persinger, pakar neurosains dari Laurentian University, mengembangkan alat yang dijuluki God Helmet, helm yang dilengkapi kumparan magnetik untuk mengaplikasikan sinyal magnet kompleks ke bagian kepala, tepatnya di sekitar lobus temporal otak.
Dari serangkaian eksperimen, Persinger mengklaim bahwa paparan medan magnetik lemah tetapi berpola kompleks pada lobus temporal bisa memicu pengalaman seperti merasakan kehadiran sesuatu, halusinasi ringan, atau bahkan pengalaman mistis.
Hipotesisnya, bangunan-bangunan tertentu, terutama yang tua, bisa memiliki fluktuasi medan elektromagnet yang tidak biasa karena berbagai faktor, mulai dari instalasi listrik yang sudah lapuk hingga aktivitas geologis di bawah tanah. Fluktuasi itulah yang kemudian bisa memicu pengalaman paranormal pada individu tertentu yang lobus temporalnya lebih sensitif.
Penelitian di Hampton Court Palace, salah satu "rumah hantu" paling terkenal di Inggris, menemukan bahwa perubahan pada kekuatan medan magnetik di area-area tertentu berkorelasi secara signifikan dengan jumlah pengalaman "di luar nalar" yang dilaporkan pengunjung di area tersebut.
Perlu dicatat bahwa temuan Persinger tidak terlepas dari kontroversi. Sebuah studi replikasi menemukan, efek yang dilaporkan dalam eksperimen God Helmet bisa dijelaskan melalui sugesti dan ekspektasi partisipan, bukan semata-mata oleh medan magnetik tersebut. Dengan kata lain, belum ada konsensus ilmiah yang bulat.

Kelima penjelasan di atas, tentu saja, tidak harus berdiri sendiri.
Sebuah gedung tua yang lembap dan berdebu bisa sekaligus mengandung jamur, memiliki pipa-pipa berkarat yang menghasilkan suara infrasonik, dan menyimpan fluktuasi medan magnetik yang tidak biasa.
Masuk ke gedung itu dengan ekspektasi bahwa tempat tersebut angker hanya akan membuat otak makin mudah menafsirkan semua rangsangan fisik sebagai tanda-tanda kehadiran supranatural.
Namun, perlu digarisbawahi pula bahwa sains tidak mengatakan bahwa pengalaman orang-orang di "rumah berhantu" itu tidak nyata.
Orang-orang betul-betul merasakan sesuatu yang nyata secara fisiologis. Yang ditawarkan sains hanyalah penjelasan berbeda tentang hal yang sesungguhnya menyebabkan perasaan itu.
Penulis: Yoga Cholandha
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id


































