Menuju konten utama

Fenomena Makan Tabungan di Tengah Biaya Hidup yang Kian Mahal

Bhima Yudhistira minta agar masyarakat lebih banyak ikat pinggang, hindari gaya hidup boros. Lalu, cari pendapatan sampingan.

Fenomena Makan Tabungan di Tengah Biaya Hidup yang Kian Mahal
Ilustrasi Neraca Saldo. foto/IStockphoto

tirto.id - Sejak tiga bulan ke belakang, Andi bukan nama sebenarnya, kelimpungan. Saldo kas tabungannya terpaksa 'dikuras' untuk memenuhi kebutuhan mendesak keluarganya. Andi merupakan tulang punggung keluarga. Memiliki dua orang adik dan seorang ibu sudah paruh baya. Sementara ayahnya sudah lama berpulang.

Sebagai pekerja purna waktu di salah satu perusahaan swasta, penghasilannya sebulan tak bisa mengimbangi biaya hidup sehari-hari. Sementara Andi harus tetap memenuhi kebutuhan ibunya, menyekolahkan adik-adiknya, hingga menutup lubang kebutuhan lainnya seperti biaya sewa kontrakan dan cicilan kendaraan bermotor.

“Belakangan ini kebutuhan memang besar. Makanya tabungan jadi [alternatif] pilihan terakhir," kata Andi kepada Tirto, Rabu (20/12/2023).

Secara nominal memang tidak begitu besar. Tapi setidaknya tabungan yang sudah dikuras itu, bisa menyambung kebutuhan hidup keluarganya hingga beberapa bulan ke depan. “Setidaknya masih bisa bertahan,” imbuh Andi yakin.

Kendati begitu, Andi sendiri sempat kepikiran untuk mencari pendapatan lebih di luar dari pekerjaannya saat ini. Harapannya, bisa memberikan tambahan pemasukan yang kemudian bisa kembali ditabung untuk kebutuhan jangka panjang.

Banyak faktor lain sebenarnya yang membuat masyarakat terpaksa 'makan tabungan'. Beda dengan Andi, Lia menggerogoti tabungannya justru untuk keperluan konsumtif, meskipun pendapatannya terbilang cukup. Konsumtif umumnya adalah perilaku atau gaya hidup individu yang senang membelanjakan uangnya tanpa pertimbangan yang matang.

“Kalau saya larinya lebih ke barang-barang sih. Misal tas, Sepatu, dan lainnya,” imbuh dia kepada Tirto.

Kondisi masyarakat seperti ini, sejalan dengan hasil survei konsumen yang dikeluarkan Bank Indonesia (BI) pada November 2023. Pada bulan lalu, rata-rata proporsi pendapatan konsumen yang disimpan (saving to income ratio) mengalami penurunan. Dari 15,7 persen di Oktober 2023 menjadi 15,4 persen di November 2023.

Penurunan juga diikuti dengan proporsi pendapatan konsumen untuk konsumsi (average propensity to consume ratio) di November. Pada periode itu, pendapatan konsumen untuk konsumsi hanya berkisar 75,3 persen, atau turun dari Oktober sebelumnya sebesar 75,6 persen.

Sebaliknya, proporsi pembayaran cicilan/utang (debt to income ratio) rata-rata dialami masyarakat pada November justru mengalami peningkatan. Dari 8,8 persen di Oktober 2023 menjadi 9,3 persen di November 2023. Artinya, pendapatan konsumen masyarakat lebih banyak dihabiskan untuk membayar cicilan/utang. Akibatnya mereka harus menggerogoti tabungan.

Biaya Hidup yang Masih Mahal

Direktur Center of Economics and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, melihat memang terjadi fenomena masyarakat menengah ke bawah mulai mengambil uang tabungan untuk kebutuhan pokok atau biaya hidup. Bisa dalam bentuk keperluan pangan dan transportasi.

“Ada korelasi antara kenaikan harga beras, cabai, dan gula terhadap jumlah tabungan yang pertumbuhannya rendah,” kata Bhima kepada reporter Tirto, Rabu (20/12/2023).

Sementara itu, dari sisi pendapatan masyarakat terhambat oleh sulitnya mencari pekerjaan yang layak. Sehingga kenaikan kebutuhan pokok dengan pendapatan bulanan diterima oleh masyarakat tidak berbanding lurus.

Apalagi hasil Survei Biaya Hidup (SBH) 2022 yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) menempatkan DKI Jakarta sebagai wilayah dengan biaya hidup termahal di Indonesia. Nilai konsumsi (NK) di wilayah metropolitan tersebut mencapai Rp14,9 juta per bulan.

“Data di DKI Jakarta kebutuhan hidup saja surveinya bilang Rp14,8 juta, sementara UMP-nya sekitar Rp4,9 juta tahun ini. Jadi gap-nya lebar sekali," kata Bhima.

Direktur Eksekutif Center of Reform on Economic (CORE), Mohammad Faisal, menambahkan fenomena makan tabungan terjadi seiring dengan pendapatan masyarakat lebih rendah daripada biaya hidup. Hal ini bisa dilihat dari indikator inflasi secara keseluruhan yang belakangan menunjukkan harga barang-barang masih alami kenaikan.

“Kalau kita bicara hidup kita tentu ada skala prioritasnya. Ada yang kebutuhan sifatnya sandang, pangan, dan tersier. Inflasi mencakup semuanya," kata dia kepada Tirto, Rabu (20/12/2022).

Menilik data BPS, inflasi inti pada November 2023 tercatat sebesar 0,12 persen secara month to month (mtm), meningkat dari inflasi pada bulan sebelumnya sebesar 0,08 persen (mtm). Realisasi inflasi inti pada November 2023 disumbang terutama oleh inflasi komoditas emas perhiasan dan gula pasir.

Sementara untuk inflasi kelompok volatile food pada November 2023 mencatat sebesar 1,72 persen (mtm), lebih tinggi dari inflasi bulan sebelumnya sebesar 0,21 persen (mtm). Peningkatan inflasi volatile food tersebut disumbang terutama oleh inflasi pada komoditas aneka cabai, bawang merah, dan beras.

Sedangkan inflasi kelompok administered prices pada November 2023 tercatat sebesar 0,08 persen (mtm), lebih rendah dari inflasi pada bulan sebelumnya yang sebesar 0,46 persen (mtm). Perkembangan ini dipengaruhi oleh deflasi bensin akibat penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi.

“Sehingga biaya hidup yang basic itu sebetulnya lebih tinggi daripada inflasi umum yang banyak disorot pada saat sekarang,” kata Faisal.

Menurut Faisal, menjadi wajar jika kemudian kalangan menengah ke bawah yang rentan sensitif terhadap kenaikan harga pangan ini, income-nya berkurang bahkan kalangan bahwa sudah tipis sekali. Akhirnya harus mengorek tabungannya untuk bisa memenuhi kebutuhannya.

“Paling tidak yang non basic yang sekunder ataupun sekunder," kata dia.

Konsumsi di Masyarakat Mulai Pulih?

Pengamat Perbankan dan Praktisi Sistem Pembayaran, Arianto Muditomo, melihat fenomena penurunan rasio tabungan terhadap pendapatan mencerminkan peningkatan pengeluaran, penurunan pendapatan, atau kombinasi dari keduanya.

Jika rasio tersebut menurun, kata dia, maka menunjukkan individu atau masyarakat lebih banyak mengalokasikan pendapatannya untuk pengeluaran konsumtif daripada menabung.

Di sisi lain, kata Arianto, penurunan rasio tabungan juga bisa disebabkan oleh penurunan pendapatan, meskipun pengeluaran tetap atau meningkat. Tapi paling penting adalah memahami konteks ekonomi dan faktor-faktor lainnya untuk menginterpretasikan dengan lebih tepat apa yang mendasari perubahan dalam rasio tabungan.

“Setelah masa pandemi COVID-19, sulit untuk secara umum menyimpulkan apakah fenomena ini menunjukkan bahwa konsumsi masyarakat sudah pulih sepenuhnya. Respons ekonomi dan sosial terhadap pandemi bervariasi di seluruh dunia, dan dampaknya sangat kompleks,” kata Arianto kepada Tirto, Rabu (20/12/2023).

Konsumsi rumah tangga umumnya masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2023 dengan kontribusi pertumbuhan 2,63 persen year on year (yoy). Pertumbuhan konsumsi rumah tangga tertinggi dikontribusikan oleh sektor transportasi dan komunikasi, yang tercermin dari peningkatan penjualan sepeda motor dan penumpang angkutan rel, laut dan udara, serta restoran dan hotel.

Akan tetapi, jika ditelisik lebih dalam, kontribusi konsumsi rumah tangga terhadap sumber pertumbuhan pada kuartal III-2023 sebenarnya relatif lebih kecil jika dibandingkan kontribusi pada kuartal II-2023 lalu yang sebesar 2,77 persen (yoy) dan kuartal III-2022 yang sebesar 2,81 persen (yoy).

Untuk beberapa wilayah dan sektor, mungkin kata Arianto, memang telah mengalami pemulihan ekonomi dengan adanya program stimulus, vaksinasi massal, dan adaptasi terhadap kenormalan baru. Namun, di beberapa tempat lain, dampak jangka panjang dari pandemi, termasuk ketidakpastian ekonomi, kehilangan pekerjaan, dan perubahan perilaku konsumen, mungkin masih dirasakan.

“Beberapa wilayah atau sektor mungkin menunjukkan tanda-tanda pulih, keseluruhan konsumsi masyarakat mungkin belum sepenuhnya pulih di beberapa tempat," kata dia.

Maka penting, lanjut dia, untuk memperhatikan bahwa pemulihan ekonomi tidak selalu sejalan dengan pemulihan konsumsi. Beberapa masyarakat mungkin masih menghadapi ketidakpastian keuangan, yang dapat memengaruhi keputusan mereka untuk menghabiskan uang.

Oleh karenanya, analisis lebih mendalam terhadap data ekonomi, perilaku konsumen, dan faktor-faktor lainnya diperlukan untuk memberikan gambaran yang lebih akurat tentang apakah konsumsi masyarakat sudah pulih setelah masa pandemi COVID-19.

Dalam kondisi seperti ini, kata Arianto, masyarakat dapat memastikan perilaku keuangan yang sehat dengan membuat anggaran yang terinci. Selain itu, masyarakat juga perlu memprioritaskan kebutuhan daripada keinginan, menabung untuk darurat, menghindari utang yang tidak perlu, dan berinvestasi untuk masa depan.

Belum cukup sampai di situ, kata Arianto, masyarakat juga perlu perlindungan asuransi yang memadai, dan evaluasi rutin terhadap rencana keuangan. Lalu, perlu pembatasan pemborosan serta konsultasi dengan profesional keuangan.

“Adaptasi strategi keuangan sesuai perubahan situasi juga dapat membantu masyarakat mengelola uang dengan bijak dan membangun dasar finansial yang kokoh,” kata dia.

Sejalan dengan itu, Bhima Yudhistira juga meminta agar masyarakat untuk lebih banyak ikat pinggang, hindari gaya hidup boros. Kemudian harus pintar cari pendapatan sampingan. “Misalnya suami bekerja pulangnya buka warung, istri bisa berjualan makanan rumahan," tukas Bhima.

Baca juga artikel terkait DAYA BELI MASYARAKAT atau tulisan lainnya dari Dwi Aditya Putra

tirto.id - Gaya hidup
Reporter: Dwi Aditya Putra
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Abdul Aziz