Menuju konten utama

Fatma Yusuf Dorong Kurasi & Pemasaran Produk Disabilitas di HDI

Untuk keberlanjutan, DWP Kemensos membuka Galeri Dharma Wanita sebagai etalase permanen produk disabilitas.

Fatma Yusuf Dorong Kurasi & Pemasaran Produk Disabilitas di HDI
Penasihat I Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Sosial, Fatma Saifullah Yusuf saat menerima audiensi dari Precious One di Kantor Kementerian Sosial, Salemba, Jakarta Pusat, (3/10/2025). FOTO/dok.Kemensos
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Menyambut peringatan Hari Disabilitas Internasional (HDI) 2025, Penasihat I Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Sosial, Fatma Saifullah Yusuf, menekankan pentingnya mengangkat karya penyandang disabilitas tidak hanya sebatas pameran, tetapi juga melalui kurasi, promosi, dan pemasaran berkelanjutan.

"Sudah cukup lama saya berinteraksi dengan banyak teman disabilitas, di samping memberikan bantuan atensi, di sisi lain saya melihat banyak karya yang dilahirkan oleh penyandang disabilitas. Namun masih banyak juga masyarakat yang belum mengetahui kemampuan mereka, kali ini saya terpanggil untuk membantu semaksimal mungkin agar karya mereka bisa dilihat dengan hati, tidak lagi dipandang sebelah mata, sehingga karya mereka mendapat tempat yang layak di hati masyarakat,” ujar Fatma saat menerima audiensi Precious One di Kantor Kemensos, Jakarta, Jumat (3/10/2025).

Dalam pertemuan tersebut, Fatma meninjau langsung produk yang dibawa Precious One, organisasi yang lebih dari dua dekade fokus pada pemberdayaan penyandang disabilitas melalui karya kreatif, edukasi, dan kepedulian lingkungan. Ia memberikan apresiasi atas kualitas dan nilai estetika yang ditampilkan.

Fatma menyebutkan bahwa peringatan HDI mendatang akan menghadirkan bazar produk disabilitas selain pentas seni. Bazar ini akan melibatkan sentra Kemensos, Dinsos, SLB, yayasan swasta, serta UMKM disabilitas dari berbagai daerah. “Yang ingin kami hadirkan bukan sekadar pameran, melainkan produk premium yang sudah siap dipasarkan. Karena itu kami menggandeng designer, perajin batik, perancang tas, sepatu, pelukis dan sebagainya untuk berkolaborasi dengan teman-teman disabilitas,” terangnya.

Ia menambahkan, sejumlah perajin di Jawa Timur, Jawa Barat, dan Jawa Tengah telah diajak bekerja sama, salah satunya untuk mengolah batik ciprat menjadi produk bernilai tambah seperti tas dan sepatu. Dukungan juga datang dari Dinas Sosial di Jawa Timur dan Surabaya.

Untuk keberlanjutan, DWP Kemensos membuka Galeri Dharma Wanita sebagai etalase permanen produk disabilitas. Penjualan juga akan diarahkan melalui jejaring mal, hotel, kanal daring, hingga e-commerce agar jangkauannya lebih luas.

Sementara itu, Founder Precious One, Ratna Sutedja, menjelaskan bahwa organisasinya memiliki tiga pilar utama: pemberdayaan ekonomi, edukasi kesadaran disabilitas, dan kepedulian lingkungan. “Kami sudah bekerja sama dengan berbagai pihak, mulai dari Iwan Tirta, AirAsia, McDonald’s, hingga Grand Indonesia. Semua karya diproduksi oleh teman-teman tuli, autisme, maupun disabilitas lainnya,” kata Ratna.

“Disabilitas tidak untuk dikasihani, tetapi didukung agar mereka percaya diri, merasa dibutuhkan, dan hasil karyanya diterima masyarakat,” tambahnya.

Audiensi tersebut juga dihadiri advisor Precious One Markus Kristianto, Koordinator Dea, Rani dari divisi learning program, serta pengurus DWP Kemensos dan jajaran Rehsos dan Dayasos Kemensos.

(INFO KINI)

Penulis: Tim Media Servis