Facebook: Ditinggalkan yang Muda, Dipertahankan yang Tua

Oleh: Ahmad Zaenudin - 20 Juni 2018
Dibaca Normal 2 menit
Remaja Amerika Serikat berangsur-angsur meninggalkan Facebook. Pengguna yang lebih tua memilih bertahan.
tirto.id - “It is time. #deletefacebook,” cetus sebuah akun Twitter @brianacton pada 21 Maret 2018 lalu. Akun Twitter, yang menurut The Guardian, dimiliki Brian Acton, co-founder WhatsApp itu telah dicuit-ulang lebih dari 15 ribu kali oleh penduduk Twitter.

Dengan nada bercanda, Elon Musk, selebritis teknologi di balik Tesla dan SpaceX, dua hari berselang membalas kicauan Acton itu. “What’s Facebook?” kata Musk melalui @elonmusk, yang lantas dicuit-ulang lebih dari 14 ribu kali.

Tagar #DeleteFacebook merupakan gerakan ramai-ramai menghapus akun Facebook. Gerakan ini dilakukan tak lama selepas skandal Cambridge Analytica terbongkar. Techpinions, firma riset digital, sebagaimana diwartakan Business Insider, melakukan survei pada 1.000 warga Amerika Serikat. Hasilnya menyatakan bahwa gerakan #DeleteFacebook sukses membuat 1 dari 10 warga Amerika menghapus akun Facebook mereka.


Di luar gerakan #DeleteFacebook, media sosial yang dibentuk Mark Zuckerberg itu sedang mengalami tren penurunan pengguna, khususnya dari kalangan usia di bawah 25 tahun.

Dari semua rentang usia pengguna Facebook di Amerika Serikat, Facebook akan kehilangan pengguna berusia 0-11 tahun sebanyak 9,3 persen. Facebook akan kehilangan 5,6 persen pengguna pada usia 12-17 tahun penggunanya, dan 5,8 persen pengguna usia 18-24 tahun pada tahun ini. Jika ditotal, eMarketer menyatakan bahwa tahun ini Facebook akan kehilangan 2 juta pengguna di kalangan usia 0-24 tahun asal Amerika Serikat.

Secara menyeluruh Facebook sebenarnya mengalami pertumbuhan pengguna. Sebagaimana dimuat Statista, pada kuartal-1 2018 Facebook memiliki 2,19 miliar pengguna aktif di seluruh dunia. Angka tersebut meningkat dari 1,93 miliar pengguna aktif di kuartal sama setahun sebelumnya. Namun, pertumbuhan ini terbantu oleh pengguna berusia di atas 25 tahun.

Lalu, mengapa anak muda, atau lebih lengkapnya anak muda Amerika Serikat, mulai meninggalkan Facebook? Rupanya, mereka bergeser ke platform milik Facebook lainnya: Instagram.


eMarketer menyebut bahwa Facebook kehilangan 2 juta pengguna di bawah usia 25 tahun. Tetapi, di saat yang sama Instagram memperoleh 1,6 juta pengguna di bawah usia 25 tahun baru. Di Amerika Serikat, platform yang menitikberatkan pada konten visual itu akan memiliki jumlah pengguna secara keseluruhan sebesar 104,7 juta.

Dipilihnya Instagram oleh remaja Amerika Serikat bukanlah hal baru. Pada 2015 lalu Statista pernah melaporkan bahwa secara umum Instagram lebih dicintai dibandingkan media sosial lain, termasuk Twitter dan Snapchat. Pada musim semi 2015 misalnya, sebanyak 32 persen remaja Amerika Serikat lebih memilih Instagram, unggul dibandingkan Facebook yang hanya dipilih 14 persen remaja.

Jayson DeMers, founder AudienceBloom, firma pemasaran digital, dalam tulisannya di Forbes mengatakan bahwa ada beberapa faktor mengapa Instagram disukai, dua di antaranya ialah “mobile functionality” dan “visual nature.” Mobile functionality diartikan sebagai desain Instagram yang begitu sederhana, mudah digunakan tanpa perlu waktu lama mempelajarinya. Tinggal memotret, desain Instagram lalu mengarahkan penggunanya memposting dengan gampang. Sementara itu, visual nature dinyatakan bahwa manusia secara umum lebih menyukai visual, dibandingkan teks.

“[..] platform tersebut sukses pada demografi pengguna remaja karena mereka selaras dengan bagaimana remaja berkomunikasi, menggunakan konten visual,” kata Oscar Orozco, analis eMarketer.

Karena Instagram semakin disukai, DeMers mengatakan bahwa kini platform itu diisi banyak pengiklan, baik pengguna Instagram yang memanfaatkan jumlah pengikutnya maupun pengiklan kelas kakap. Tercatat, ada 2.500 micro-influencer yang beriklan di platform itu. Sementara itu, mengutip Marketing Land, kini ada lebih dari 1 juta pengiklan aktif di Instagram.

Infografik Bye Bye Facebook


Susahnya Meninggalkan Facebook


Beberapa orang memang dengan mudah meninggalkan Facebook. Namun, bagi beberapa orang lainnya, meninggalkan Facebook bukanlah hal yang mudah. Ini soal kenangan pribadi yang banyak disimpan di Facebook.

“Are you sure you want to deactivate your account?” tanya Facebook ketika seorang pengguna ingin menghapus akun Facebook miliknya dengan terlebih dahulu menon-aktifkan akun.

Dalam laman deaktivasi, Facebook menampilkan foto-foto kenangan, baik dari teman atau saudara yang turut terhubung dengan akun Facebook si orang yang hendak menghapus akun.

“Andri akan rindu padamu. Susi akan kangen,” kata Facebook.

Menghapus akun Facebook bukan perkara mudah. Abby Ohlheiser, dalam tulisannya di The Washington Post mengatakan bahwa “Facebook kini terasa sebagai tempat yang mengeksplorasi informasi personal” penggunanya. Persis seperti apa yang mereka lakukan ketika ada yang hendak menghapus akun. Ini dialami Laurel Brooks, perempuan asal Washington D.C, Amerika Serikat, yang ibunya meninggal akibat dibunuh 6 tahun lalu. Saat mencoba menghapus akun Facebook, ia dipaparkan dengan foto-foto kenangan, dari teman atau saudara yang juga memuat foto ibunya.

“Saya sedang berada di laman deaktivasi, tapi saya teringat bahwa semua foto keluarga ada di situ,” tegas Brooks.

Ben Grosser, profesor pada University of Illinois, mengatakan “banyak pengguna Facebook mengungkap bahwa menghapus akun bukanlah opsi yang realistik.” Grosser, lanjutnya mengungkapkan bahwa “tentu saja ada alasan 2 miliar orang ada di Facebook,” dan Facebook mungkin penting bagi mereka.

Aja Romano, dalam tulisannya di Vox, mengungkapkan secara tersirat bahwa pengguna Facebook akan sukar meninggalkan platform itu. Salah satu alasannya, Facebook kini telah menjadi sandi untuk masuk ke berbagai aplikasi atau situsweb yang ada di jagat maya. Misalnya, ada 500 juta pengguna Tinder yang menggunakan Facebook Login untuk menggunakan aplikasi kencan online itu.

Aplikasi seperti Spotify, Airbnb, IMDb, hingga Flipboard, salah satunya memanfaatkan Facebook Login untuk mengakses layanan mereka. Jika akun Facebook dihapus, pengguna akan kehilangan aksesnya pada aplikasi-aplikasi itu. Pada akhirnya, pengguna tetap memelihara akun Facebook meski tak lagi aktif menggunakannya.

Baca juga artikel terkait FACEBOOK atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)


Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Nurul Qomariyah Pramisti