Menuju konten utama

Erupsi Gunung Dukono 8 Mei: 5 Pendaki Luka & 2 WNA Diduga Tewas

Gunung Dukono di Maluku Utara meletus pada Jumat pagi. Para pendaki dilaporkan terjebak. Ada 5 pendaki yang luka-luka, sementara dua WNA diduga tewas.

Erupsi Gunung Dukono 8 Mei: 5 Pendaki Luka & 2 WNA Diduga Tewas
Tangkapan layar CCTV yang memperlihatkan erupsi material baru yang keluar dari kawah Gunung Dukono di Pulau Halmahera, Maluku Utara, Kamis (9/11/2023). FOTO/PVMBG

tirto.id - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat lima pendaki mengalami luka-luka imbas erupsi Gunung Dukono di Kabupaten Halmahera Utara, Maluku Utara, Jumat (8/5/2026) pagi.

Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) terus menyisir dan mengevakuasi para pendaki yang berada di kawasan gunung.

Pada Jumat siang, tim SAR gabungan juga terus melaksanakan penyisiran di kawasan Gunung Dukono guna mengevakuasi sejumlah pendaki yang mengalami situasi darurat akibat peningkatan aktivitas vulkanik.

BNPB menyatakan, berdasarkan informasi sementara yang diperoleh dari koordinasi bersama lintas instansi, termasuk Basarnas, terdapat laporan adanya dua wisatawan yang diduga meninggal dunia akibat insiden di kawasan Gunung Dukono. Namun, informasi tersebut masih dalam proses verifikasi lebih lanjut oleh Basarnas dan pihak terkait.

Sementara itu, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat adanya aktivitas erupsi di Gunung Dukono, Jumat sekitar pukul 07.41 WIT.

Dalam keterangan resminya, PVMBG menyatakan erupsi Gunung Dukono disertai suara dentuman lemah hingga kuat. Erupsi itu turut terekam pada seismogram dengan amplitudo maksimum 34 mm dan durasi 967.56 detik.

"Kolom erupsi yang diamati berwarna putih, kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal dan ketinggian sekitar 10.000 meter di atas puncak," tulis PVMBG dalam keterangan resminya, Jumat (8/5).

PVMBG menyatakan, arah sebaran abu condong ke arah utara. Wilayah permukiman dan Kota Tobelo dinyatakan berisiko terdampak hujan abu vulkanik.

Kondisi ini meningkatkan risiko terhadap kesehatan masyarakat dan gangguan aktivitas sehari-hari, termasuk transportasi dan kebersihan lingkungan.

Di satu sisi, aktivitas erupsi secara visual dan kegempaan teramati memang meningkat kembali sejak 29 Maret 2026, rata-rata terjadi 95 kejadian erupsi.

PVMBG menyatakan aktivitas vulkanik Gunung Dukono masih tinggi dan berada pada status Level II atau waspada. Gunung itu tercatat sempat mengalami penurunan aktivitas erupsi pada Agustus 2025.

Akan tetapi, aktivitas erupsi kembali mengalami peningkatan erupsi magmatik eksplosif cukup intensif sejak awal tanggal 30 Maret 2026 terjadi 199 kali erupsi dengan ketinggian kolom erupsi 50-400 meter dari puncak.

Masyarakat, wisatawan, dan pendaki direkomendasikan untuk tidak melakukan aktivitas dalam radius 4 kilometer dari Kawah Malupang Warirang sebagai pusat aktivitas gunung.

Selain ancaman langsung berupa lontaran batu pijar dan sebaran abu, masyarakat juga diingatkan akan potensi bahaya sekunder berupa aliran lahar, khususnya saat musim hujan.

Aliran lahar dapat melintasi Sungai Mamuya di sektor utara serta Sungai Mede dan Tauni di sektor timur laut yang berhulu di puncak Gunung Dukono.

Baca juga artikel terkait ERUPSI GUNUNG DUKONO atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Flash News
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Dipna Videlia Putsanra