Menuju konten utama

Emoji Sirine Polisi Terbanyak Dipakai saat Demo Akhir Agustus

Kemarahan mendominasi percakapan digital di media sosial selama aksi demonstrasi akhir Agustus 2025.

Emoji Sirine Polisi Terbanyak Dipakai saat Demo Akhir Agustus
Pengunjuk rasa berteriak saat aksi 25 Agustus 2025 di depan Kompleks Parlemen, Jalan S Parman, Jakarta, Senin (25/8/2025). ANTARA FOTO/Naufal Khoirulloh/hma/foc.

tirto.id - Aksi demonstrasi yang berlangsung pada akhir Agustus 2025 mendapat sorotan serius dari Monash Data & Democracy Research Hub. Tim peneliti lembaga tersebut merilis analisis terbaru mengenai dinamika percakapan digital yang muncul selama aksi demonstrasi berlangsung 25 hingga 31 Agustus.

Hasilnya, selama aksi demonstrasi, terdapat hampir 10 juta percakapan. Selain itu, sebagian besar unggahan warganet masih tergolong non-toksik, yakni mencapai 70,9 persen. Namun, sekitar 29,1 persen percakapan dinilai toksik dan menunjukkan peningkatan tajam pada 28–30 Agustus 2025.

Lonjakan ini terjadi bersamaan dengan eskalasi kekerasan di lapangan, khususnya setelah kasus tewasnya pengemudi ojek online (ojol), Affan Kurniawan, karena dilindas mobil rantis Brimob Polda Metro Jaya.

“Selain itu, kami juga menemukan bahwa 20 persen percakapan terindikasi bermuatan materi polarisasi. Polarisasi ini tidak semata-mata dipicu oleh ujaran toksik, melainkan berakar pada ketegangan kelas sosial,” tulis tim Monash Data & Democracy Research Hub dalam laporannya, dikutip pada Jumat (5/9/2025).

Polarisasi itu, menurut analisis mereka, bukanlah gejala baru. Sejak Pemilu 2024 hingga Pilkada, narasi publik sering terbelah antara kelompok berprivilese, seperti elit politik dan pemegang akses ekonomi, dengan kelompok pekerja, buruh, atau kelas menengah rentan.

Demonstrasi Agustus 2025 memperlihatkan pola yang sama, dimana DPR dan pejabat digambarkan sebagai pihak yang menikmati privilese, sementara masyarakat bawah menjadi korban langsung kebijakan dan represi aparat.

Dari sisi emosi, penelitian tersebut menunjukkan bahwa kemarahan mendominasi percakapan digital dengan porsi 47,3 persen. Meski demikian, rasa percaya dan antisipasi juga muncul dalam jumlah signifikan.

Kombinasi ini dianggap memperlihatkan bagaimana polarisasi tidak hanya menghasilkan ujaran kebencian, tetapi juga berfungsi sebagai perekat solidaritas antar kelompok rentan.

Publik, dalam analisis itu, tidak hanya bereaksi marah. Emosi mereka bergerak dinamis: dari antisipasi sebelum aksi dimulai, memuncak dengan kemarahan saat kekerasan meningkat, lalu bergeser ke kesedihan, ketakutan, dan keterkejutan.

Media sosial menjadi arena utama artikulasi emosi tersebut, yang memperkuat narasi “rakyat versus elit” serta memperluas basis solidaritas protes.

Pada top words juga terlihat emoji yang paling banyak digunakan adalah emoji ‘sirene polisi’ (359.302 mentions), dan diikuti dengan emoji ‘bunga layu’ (277.770 mentions), ‘tanda seru’ (272.205 mentions), ‘menangis tersedu-sedu’ (244.281 mentions).

Emoji ‘sirene polisi’ paling banyak digunakan untuk topik terkait peringatan bahwa Presiden ‘Indonesia’ Prabowo memberikan lampu hijau kepada polisi dan TNI untuk menertibkan warga dan dianggap sebagai ancaman kebebasan.

Dalam konteks Gerakan 17+8, ekspresi digital bahkan mengubah amarah menjadi energi kebersamaan. Narasi yang terbentuk bukan hanya tentang perlawanan, melainkan juga tentang solidaritas dan harapan.

“Gerakan digital ini mengubah kemarahan kelas pekerja menjadi narasi kebersamaan dan harapan,” tulis laporan tersebut.

Dinamika ini memperlihatkan bahwa media sosial tidak sekadar wadah ledakan emosi, tetapi juga medium yang menghubungkan aspirasi kelas pekerja dalam bentuk simbolik maupun praktis.

Monash Data & Democracy Research Hub juga menekankan bahwa fenomena ini harus dibaca secara longitudinal. Sejak September 2023, pemantauan mereka menunjukkan dua poros utama polarisasi: ketegangan kelas sosio-ekonomi dan sentimen anti-elit politik.

Kedua poros ini terus berlanjut hingga 2025, lalu mencapai puncaknya pada protes Agustus.

Baca juga artikel terkait KEKERASAN POLISI TANGANI DEMO atau tulisan lainnya dari Naufal Majid

tirto.id - Flash News
Reporter: Naufal Majid
Penulis: Naufal Majid
Editor: Bayu Septianto