tirto.id - Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Sosial (Kemensos) bersama Sentra Prof. dr. Soeharso Solo menyalurkan bantuan ATENSI ke Rumah Kinasih Blitar, Jawa Timur, pada Minggu (22/6/2025). Bantuan berupa bahan baku membatik senilai Rp37.125.000 tersebut diberikan kepada 25 Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) di Rumah Kinasih.
Penyaluran bantuan Asistensi Rehabilitasi Sosial (ATENSI) ke Rumah Kinasih merupakan langkah nyata Kemensos dalam mendukung pengembangan diri bagi 12 Pemerlu Atensi Sosial (12-PAS).
Penasihat I DWP Kemensos, Fatma Saifullah Yusuf, menerangkan bantuan ATENSI berfungsi mendukung kelangsungan hidup para PPKS. Bantuan dapat terkait dengan dukungan untuk pemenuhan hidup layak hingga pemberdayaan ekonomi PPKS.
Dia berharap penyaluran bantuan bahan baku membatik kepada Rumah Kinasih Blitar dapat membantu PPKS di sana agar lebih produktif dan bersemangat menjalani hidup.
"Program ATENSI sudah menjadi jargon bahwa Kemensos selalu ada di dalam upaya memberikan dukungan dan perlindungan kepada masyarakat, dan juga berupaya sekuat tenaga untuk memberikan harapan baru bagi masyarakat yang membutuhkan," kata Fatma melalui siaran resmi Kemensos pada Rabu (25/6/2026).
Pemberdayaan Kaum Difabel di Rumah Kinasih Blitar
Rumah Kinasih Blitar kini menaungi 52 penyandang disabilitas (kaum difabel). Banyak dari mereka adalah penyandang disabilitas mental yang memerlukan pengobatan rutin. Selain itu, tempat ini juga menampung PPKS yang terlantar secara sosial, termasuk para lansia dan mereka yang memiliki masalah terkait hukum.
Meski mayoritas berasal dari Blitar, beberapa penghuni Rumah Kinasih Blitar juga ada yang berasal dari Jombang, Surabaya, hingga Kalimantan. Tercatat lebih dari 20 orang menetap secara permanen di sana karena tidak memiliki keluarga yang dapat merawat mereka.
Semua PPKS di Rumah Kinasih Blitar mendapatkan pelatihan produksi batik ciprat dan tulis. Mereka juga diarahkan menjalankan ibadah, seperti salat 5 waktu dan mengaji. Ada juga program Bina Diri untuk mendorong mereka hidup bersih, rapi, mandiri, dan berani berbaur di masyarakat sekitar. Mereka pun rutin diajak mengikuti kerja bakti Jumat Bersih bersama masyarakat agar lebih peduli pada lingkungan sosial.
Berdiri pada 2017, Rumah Kinasih Blitar sekarang berkembang menjadi lebih dari sekadar pusat pelatihan dan rehabilitasi. Tempat ini berperan pula sebagai wadah pemberdayaan untuk penyandang disabilitas melalui pendekatan kewirausahaan inklusif.
Rumah Kinasih Blitar mengembangkan usaha kerajinan batik ciprat yang melibatkan para penyandang disabilitas sebagai pekerja. Usaha produksi batik khas dengan pola cipratan unik tersebut menghasilkan kain bermotif batik, busana, dompet, hingga tas.
Setiap hari, para penyandang disabilitas yang menjadi pengrajin batik di Rumah Kinasih bisa memproduksi 5 hingga 6 lembar kain batik. Meskipun pendapatannya kerap fluktuatif karena tergantung permintaan pasar, banyak di antara mereka telah mampu menjadi tulang punggung keluarga dan berkontribusi nyata dalam menopang perekonomian rumah tangga.
Salah seorang PPKS di Rumah Kinasih Blitar yang merupakan penyandang disabilitas daksa, Yuni, bahkan sudah mampu membeli sepeda motor secara tunai. Yuni juga mau menabung sehingga kini memiliki dana simpanan Rp9 Juta.
Ada pula Harianto yang bisa membantu keluarganya merenovasi rumah dari jerih payahnya membatik. Selain Yuni dan Harianto, beberapa penyandang disabilitas lain di Rumah Kinasih mampu membeli gawai dan perhiasan serta memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga dari bekerja sebagai pengrajin batik.
Pendiri Rumah Kinasih Blitar, Edi Cahyono, mengaku merasa bangga dengan pencapaian para penyandang disabilitas tersebut. Dia pun berharap masyarakat membeli produk Rumah Kinasih karena kualitasnya yang bagus, bukan sebab iba pada penyandang disabilitas.
Kemensos sudah mengambil langkah mendukung produktivitas perajin batik dari kalangan penyandangan disabilitas ini dengan mengeluarkan Keputusan Menteri Sosial (Kepmensos) Nomor 50 Tahun 2025. Melalui peraturan ini, para pegawai Kementerian Sosial diwajibkan mengenakan batik ciprat di hari yang telah ditentukan. Edi pun mengapresiasi dukungan nyata Kemensos tersebut.
"Matur suwun sanget (terima kasih banyak) bantuan yang diberikan kepada Rumah Kinasih melalui Ibu Fatma Saifullah Yusuf, ini adalah modal kerja bagi teman-teman disabilitas agar masa depannya bisa lebih mandiri dan bisa membantu kebutuhan keluarga mereka. Tadinya mereka dianggap aib untuk keluarga, kini mereka menjadi potensi dan aset," kata Edi.
Saat berkunjung ke Rumah Kinasih Blitar, jajaran DWP Kemensos tidak hanya menyerahkan bantuan. Mereka juga meninjau langsung proses produksi batik ciprat di Rumah Kinasih.
Seluruh tamu yang hadir di sana kagum dengan ketelatenan para penyandang disabilitas dalam memproduksi batik ciprat. Padahal, sebagian besar adalah penyandang disabilitas mental.
Suasana ceria mewarnai peninjauan Rumah Kinasih Blitar. Beberapa penyandang disabilitas tampil penuh percaya diri dalam peragaan busana batik ciprat. Lenggak-lenggok, kepolosan dan keceriaan mereka pun mengundang gelak tawa seluruh tamu undangan. Jajaran DWP Kemensos turut meramaikan acara dengan melakukan peragaan busana, mukena, kain, dan tas karya Rumah Kinasih yang mereka beli.
(INFO KINI)
Penulis: Tim Media Servis
Masuk tirto.id































