Duduk Perkara Randi Ditembak Mati saat Demo Tolak RUKHP di Kendari

Oleh: Fahri Salam - 27 September 2019
Dibaca Normal 2 menit
Randi, mahasiswa budidaya perairan dari Universitas Halu Oleo, tewas ditembak oleh peluru dari arah barisan polisi.
tirto.id - Setidaknya seorang mahasiswa meninggal saat demonstrasi menolak RKUHP dan revisi UU KPK di Gedung DPRD Sulawesi Tenggara. Randi, mahasiswa jurusan Budidaya Perairan Universitas Halu Oleo angkatan 2016, tewas ditembak di areal dada kanan.

Keluarga korban masih terkejut dan histeris ketika kami menghubungi melalui sambungan telepon, Kamis pukul 19.31 waktu setempat. Sebab kemarin malam itu, mereka tengah menemani jenazah Randi di Rumah Sakit Umum Daerah Abunawas, Kota Kendari.

Berdasarkan informasi yang kami kumpulkan dari para saksi mata, Randi diduga ditembak dari jarak dekat. Dari foto korban yang kami terima, ada luka berbentuk lingkaran di bagian dada kananya. Posisinya sekitar delapan sentimeter di bawah tulang selangkanya.

Foto Visum Randi Mahasiswa Universitas Halu Oleo
Luka tembak peluru di bagian dada kanan Randi, mahasiswa Universitas Halu Oleo, saat demo berujung bentrok di DPRD Sulawesi Tenggara, Kamis (26/9/2019). Foto/Istimewa


Randi ditembak saat demonstrasi mahasiswa berakhir bentrok. Polisi-polisi dari Polda Sulawesi Tenggara, yang berjaga di areal dalam pagar gedung DPRD, membuyarkan para demonstran dengan gas air mata, meriam air, dan tembakan peluru.

Demonstran melawan dengan melempar batu ke arah polisi. Dari video yang beredar di media sosial, terlihat seorang demonstran terkapar, yang kemungkinan Randi, di trotoar persis di depan pintu gerbang sebuah bangunan di Jalan Abdullah Silondae pada sore hari.

Randi dibawa ke Rumah Sakit Dr. Ismoyo atau RS Korem Kendari, sekitar 450 meter atau 6 menit berjalan kaki, oleh teman-temannya.

Di rumah sakit itu Randi segera mendapatkan pertolongan. Dokter sempat memompa dadanya lima kali.

Dokter yang memeriksanya berkata luka tembak di bagian dada Randi sedalam 10 sentimeter dan selebar 5 sentimeter, menurut La Ode Pandi Sartiman, seorang wartawan dan Koordinator Divis Advokasi Aliansi Jurnalis Independen Kota Kendari saat dikontak Tirto pada Kamis malam.

Dokter yang memeriksanya tidak bisa memastikan apakah luka tembak di tubuh Randi dari peluru karet atau peluru tajam, sebagaimana dituturkan kepada Pandi.

Randi meninggal di RS Korem sekitar pukul 15:44 waktu setempat.

Sesudahnya, Randi dibawa oleh ambulans ke Rumah Sakit Umum Daerah Abunawas Kota Kendari, berjarak 3,5 kilometer atau 7 menit dengan mobil, untuk diautopsi.

Pandi berkata semula jenazah Randi hendak dirujuk ke RS Bhayangkara—notabene milik Polri—tetapi teman-temannya dan kerabat dekat almarhum menolak.

Kerabat korban juga menolak dokter yang mengautopsi jenazah dari dokter yang bekerja di RS Bhayangkara, ujar Pandi, dengan alasan “khawatir memanipulasi hasil forensik.”

Kerabat minta dokter yang memeriksa jejak penyebab kematian korban adalah “dokter independen”.

Sampai pukul 21.20 waktu setempat, jenazah Randi belum juga diautopsi. Sebab kerabat almarhum, autopsi harus dilakukan: Dokter yang bekerja secara independen.

Randi, usia 21 tahun, berasal dari Pulau Muna, wilayah di jazirah pulau Sulawesi, yang dapat dijangkau dengan menaiki kapal laut dari Kota Kendari.

Keluarga Randi bekerja sebagai nelayan. Orangtuanya masih di Desa Lakarinta, Kecamatan Lohia saat Rendi meninggal dunia. Kerabat yang menjaga jenazah Randi adalah dari pihak paman dan adik perempuannya, ujar Pandi kepada Tirto, yang mendatangi dan memantau nasib korban sejak dari RS Korem ke RS Abunawas. Kerabat di Kendari sudah mengabarkan orangtuanya di kampung soal kematian putra sulungnya.

Sampai artikel ini ditulis pada pukul 22.23, kerabat korban masih menolak bicara karena masih sangat terpukul. Getir. Terbata-bata.



Seorang Mahasiswa Lain Luka Kritis

Selain Randi, demo menolak RKUHP dan revisi UU KPK di DPRD Sulawesi Tenggara juga mengakibatkan seorang mahasiswa luka kritis. Bagian kepalanya diduga dipukul dengan benda tumpul.

Mahasiswa itu bernama Muhammad Yusuf Kardawi, usia 19 tahun angkatan 2018, dari jurusan Teknik Sipil D3 dari kampus yang sama dengan Randi.

Kardawi sempat dilarikan ke RS Korem, lalu dirujuk ke RS Bahteramas, sekitar 9,6 kilometer atau 18 menit dengan mobil, masih di Kota Kendari.

Informasi dari para demonstran di RS Korem yang dihimpun Pandi, Kardawi diduga dipukuli polisi saat terjebak di tengah bentrokan. Demonstran membakar pos polisi lalu lintas di dekat taman wali kota Kendari.

Menurut Pandi, mahasiswa dan kelompok masyarakat sipil kini menuntut Kapolda Sulawesi Tenggara Brigjen Iriyanto bertanggung jawab atas kematian Randi dan demonstran yang terluka.

“Polisi harusnya tidak bertindak represif, dan pemerintah harusnya membuka ruang tuntutan mahasiswa. Bentrokan terjadi karena tidak ada simpulan antara pihak DPRD dan mahasiswa,” ujar Pandi, menambahkan ada beberapa wartawan setempat yang dipukuli dan diintimidasi oleh polisi.


Keterangan dari Kepolisian

Kabid Humas Polda Sulawesi Tenggara AKBP Harry GoldenHardt membenarkan ada yang meninggal dalam demonstrasi itu.

“Pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan terhadap hal tersebut," kata Harry ketika dikonfirmasi wartawan.

Ia juga bilang, mengutip media lokal inikata.sultra.com, aparat tidak dibekali peluru tajam saat menangani demo mahasiswa di DPRD Sultra.

“Saya tegaskan kembali anggota kami dalam aksi ini tidak dibekali peluru tajam dan karet,” klaimnya.

Pernyataan serupa juga diungkapkan Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo.

"Yang jelas sesuai SOP, seluruh anggota Polri dalam pengamanan dan pengawalan pengunjuk rasa atau demo tidak dibekali peluru tajam, hanya dibekali tameng, kemudian water cannon dan gas air mata," kata Dedi di Gedung Mabes Polri, Jakarta seperti dikutip dari Antara.


Baca juga artikel terkait DEMO MAHASISWA atau tulisan menarik lainnya Fahri Salam
(tirto.id - Politik)

Reporter: Fahri Salam
Penulis: Fahri Salam
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
DarkLight