DIY Kewalahan Menangani Pasien COVID-19 dan Pariwisata Dibuka Lebar

Oleh: Irwan Syambudi - 30 Desember 2020
Dibaca Normal 3 menit
RS di DIY kewalahan menangani pasien COVID-19. Di sisi lain, pintu pariwisata dibuka lebar dan mengakibatkan kerumunan sehingga virus mudah menyebar.
tirto.id - Pada libur Natal 2020, sejumlah tempat wisata di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) termasuk Malioboro dipadati wisatawan hingga menimbulkan kerumunan yang berisiko jadi lokasi penularan COVID-19. Di saat yang hampir bersamaan, rumah sakit mulai kewalahan menerima pasien virus tersebut.

Salah satunya Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada (RSA UGM) di Kabupaten Sleman. Kesaksian datang dari Siswanto, dokter spesialis paru yang jadi penanggungjawab layanan COVID-19 di salah satu rumah sakit rujukan pananganan pandemi di provinsi itu. “Saya lagi visit di bangsal COVID-19. Kondisinya crowded semuanya, penuh, overload,” kata Siswanto yang ketika ditelepon tengah mengganti APD (alat pelindung diri), Selasa (29/12/2020).

Situasi demikian juga terjadi RS rujukan lain, RS Panti Rapih di Kota Yogyakarta. Kepala Humas RS Panti Rapih Maria Vita bilang sampai saat ini ketersediaan tempat tidur baik critical dan non critical COVID-19 “masih penuh.”

Di RS rujukan utama, yakni RS Umum Pusat Dr Sardjito (RSUP Dr Sardjito), kondisinya tak jauh berbeda. “Sampai saat ini ada pasien keluar masuk, sangat dinamis perkembangannya. Cuma secara umum memang [yang terisi sudah] 98 persen,” kata Kepala Bagian Hukum, Organisasi dan Humas RSUP Dr Sardjito, Banu Hermawan. RS tersebut memiliki kapasitas tempat tidur khusus pasien Corona terbanyak, 74, baik untuk critical maupun non critical.

Di Bantul situasinya juga tak kalah mencemaskan. Salah satu tempat rujukan, RS PKU Muhammadiyah Bantul, tempat tidur khusus COVID-19 terisi penuh.

“Sejak Oktober pertengahan [jumlah pasien COVID-19] mulai naik sehingga kami harus membuka bangsal baru. Lalu November mencapai puncaknya dan Desember ini lebih gila lagi,” kata Nurcholid Umam Kurniawan, Direktur Pelayanan Medik rumah sakit itu kepada reporter Tirto, Selasa. “Situasi kami sama dengan rumah sakit lain, penuh. Dulu kami hanya punya tiga kamar isolasi, sekarang sudah 35 tempat tidur. Itu pun masih kurang karena setiap hari kita menerima 3-5 pasien suspek, probable, maupun positif COVID-19,” tambahnya.


Pasien baru berasal dari rujukan puskesmas, RS lain, atau yang datang sendiri. Kondisi klinis pasien yang datang, kata dia, “sebanyak 80 persen” sangat berat. Sebagian datang dengan paru-paru yang sudah rusak sehingga akhirnya hanya bisa bertahan satu sampai dua hari sebelum meninggal dunia.

Umam adalah dokter spesialis anak yang terjun langsung menangani pasien COVID-19 anak-anak. Sepanjang pandemi sudah ada 40an anak yang ia tangani.

Sementara pasien terus datang, alat bantu pernafasan yang dimiliki RS PKU Muhammadiyah Bantul sangat terbatas. Umam mengatakan hanya ada dua mesin ventilator dan ditambah sembilan noninvasif ventilation dan satu ventilator bivef sebagai alat bantu pernafasan cadangan.

Dua mesin ventilator itu selalu hidup 7x24 jam sebab pasien inkubasi memang terus datang bergantian. Misalnya dalam satu waktu ada lima pasien yang datang dan semuanya kondisinya buruk, maka tak semuanya langsung ditolong menggunakan mesin ventilator. “Kadang kami harus memilih mana yang prognosisnya (prediksi penyakit) bisa kami kejar sembuh. Itu yang akan kami tolong duluan.”

Dengan situasi rumah sakit seperti ini, Umam berharap pemerintah mengambil keputusan yang bijak. Toh pemerintah daerah sudah sangat mengetahui bahwa fasilitas kesehatan terbatas. “Misalnya wisata dibuka seperti ini, ya, kerumunan itu jadi faktor risiko terjadinya penularan. Itu pasti. Tunggu dua minggu setelah kerumunan ini maka jumlah penderitanya akan semakin tinggi.”

Wisata Dibuka & Membeludak

Selama libur Natal, Pemprov DIY lewat instruksi gubernur hanya membatasi pergerakan wisatawan yang salah satunya mengharuskan siapa pun yang masuk menunjukkan hasil tes swab PCR atau tes rapid antigen non reaktif.

Kenyataannya wisatawan tetap membeludak sehingga aturan pembatasan jumlah pengunjung per zona di kawasan utama wisata cukup sulit diterapkan.

“Yogyakarta memang terbuka bagi wisatawan dan mereka pasti datang ke Malioboro. Jumlah wisatawan yang datang mengalami kenaikan yang sangat drastis sehingga di lapangan cukup sulit untuk menerapkan aturan pembatasan wisatawan per zona,” Satuan Polisi Pamong Praja Kota Yogyakarta Agus Winarto mengakui persoalan ini di Yogyakarta, Minggu (27/12/2020), dikutip dari Antara.

Menurut dia, padatnya wisatawan di Malioboro tidak hanya terjadi pada Sabtu (26/12/2020) malam saja tetapi diperkirakan berlangsung hingga malam pergantian tahun. Baru berangsur berkurang jika libur akhir tahun usai.

Malioboro dibagi dalam lima zona. Jumlah maksimal pengunjung dalam satu zona dalam satu waktu yang sama adalah 500. Penghitungan pengunjung dilakukan melalui aplikasi--mereka harus memindai QR Code yang ada di tiap pintu zona.


Berkaca dari pengalaman di Malioboro pada Natal, Wakil Ketua DPRD DIY Huda Tri Yudiana mengusulkan pada libur tahun baru tempat wisata termasuk Tugu Pal Putih hingga Titik Nol Kilometer ditutup saja. Namun menurut Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X, Selasa, dia mengatakan penutupan terserah masing-masing kabupaten dan kota. “Kalau pak wali kota sepakat ya silakan saja. Itu kan wewenangnya pemerintah kota, bukan wewenang saya,” kata Sultan.

Sultan tahu bahwa terjadi kerumunan di Malioboro. Menanggapi ini ia berharap protokol kesehatan tetap dipatuhi.

Sementara mengenai situasi rumah sakit yang sudah kewalahan dan tempat tidur khusus COVID-19 menipis, dia bilang akan mengupayakan penambahan sesegera mungkin. “Kami sudah minta RS Harjolukito menambah 100 dan yang kabupaten/kota saya minta juga untuk menambah. Ya semoga menurunlah [kasus COVID-19].”

Berdasarkan laporan Juru Bicara Penanganan COVID-19 Pemprov DIY Berty Murtiningsih, per Selasa 29 Desember sore terjadi lonjakan kasus harian tertinggi sejak pandemi masuk awal Maret lalu, yakni 282 sehingga totalnya menjadi 11.602. Penambahan kasus meninggal sebanyak 10, sehingga total menjadi 249.

Sedangkan untuk jumlah tempat tidur di RS rujukan, Berty melaporkan yang critical tersisa 14 dari yang tersedia 64. Untuk tempat tidur non critical, dari total ketersediaan 577, yang tersisa tinggal 77.

Baca juga artikel terkait VIRUS CORONA atau tulisan menarik lainnya Irwan Syambudi
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Irwan Syambudi
Penulis: Irwan Syambudi
Editor: Rio Apinino
DarkLight