tirto.id - Direktur Utama Holding BUMN Pangan (ID Food), Ghimoyo, buka-bukaan bahwa kualitas gula Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tidak bagus. Hal ini dipicu oleh sistem penggilingan di pabrik, yang sudah tua, sehingga butuh revitalisasi.
"Kita hanya bisa jual bulk (kapasitas besar). Karena kualitas gulanya (BUMN) itu enggak bagus karena pabriknya tua. Kalau pabrik-pabrik yang sekarang itu walaupun waktu dia sama-sama produk dari tebu (petani) tapi dia lebih putih karena ada satu sistem yang kelewatan (oleh BUMN). Hari ini harusnya revitalisasi," kata Ghimoyo dalam rapat kerja bersama DPR RI Komisi VI, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, dikutip Selasa (30/9/2025).
Ghimoyo menuturkan bahwa umur pabrik tidak dianggap sebagai masalah, namun yang menjadi kendala adalah sistem penggilingan dalam pabrik yang sudah tua.
"Kalau pabrik gula nggak masalah umur 90 tahun, 100 tahun, gak ada masalah. Yang penting gilingan, karena gilingan itu menentukan rendemen. Satu persen rendemen dari 8 persen rendemen udah berapa ribu ton," papar Ghimoyo.
Kualitas gula BUMN yang terbilang jelek tersebut, menurut Ghimoyo, karena kurangnya teknologi dalam pabrik untuk membuat produksi gula lebih putih. Saat ini, hasil gula yang didapat BUMN pangan berwarna kuning.
"Itu kan karena (sistem penggilingan) tua dan kalau pabrik baru itu ada satu alat yang butuh supaya lebih putih saja (gulanya," ungkapnya.
Diketahui, penyerapan gula petani yang dilakukan oleh ID Food sudah sebesar 121.000 ton dengan total anggaran Rp1,75 triliun. Penyerapan ini dilakukan dengan menggunakan pendanaan dari Danantara dan komersil self-financing di internal melalui pedagang.
"Penyerapan yang telah dilakukan oleh ID Food total sebesar 92.830 ton, lalu oleh SGN self-financing itu 6.896 ton. Penyerapan ini dilakukan di 24 pabrik gula yang dimiliki oleh ID Food dan SGN."
Penulis: Natania Longdong
Editor: Dwi Aditya Putra
Masuk tirto.id


































